Rajab Bulan Berbagi, Nahdliyin Muda Menggerakkan Teut 1000 Apam Pidie untuk Korban Banjir Bandang
NU Online · Ahad, 4 Januari 2026 | 09:30 WIB
Proses pembuatan apam untuk dibagikan kepada warga terdampak banjir di Pidie, Aceh. (Foto: istimewa)
Helmi Abu Bakar
Kontributor
Pidie, NU Online
Bulan Rajab selalu punya tempat istimewa di hati masyarakat Pidie, Aceh. Ia bukan sekadar penanda pergantian bulan Hijriah, namun juga ruang batin tempat tradisi, doa, dan solidaritas bertemu. Di bulan inilah apam, penganan sederhana dari beras dan santan juga adonan lainnya menjadi simbol. Orang-orang menyebutnya bulan apam, bulan berbagi, bulan menghidupkan kembali warisan endatu yang tak pernah lekang oleh zaman.
Namun Rajab kali ini hadir dengan rasa yang berbeda. Aceh sedang berduka. Musibah banjir bandang yang melanda sejumlah wilayah meninggalkan luka mendalam. Rumah-rumah hancur, anak-anak kehilangan ruang belajar, dan keluarga-keluarga harus bertahan di pengungsian.
Di tengah duka itu, masyarakat Pidie memilih tidak larut dalam kesedihan semata. Mereka menyalakan cahaya dengan cara yang paling mereka pahami sejak dulu: berbagi.
Di antara sosok yang menggerakkan denyut kepedulian itu adalah Tgk H Mukhlisuddin, pengasuh Dayah Mahia Alaziziyah, Mali Guyui Sakti, Pidie. Tokoh muda Nahdliyin yang dikenal enerjik, bersahaja, dan dekat dengan umat.
Tgk Mukhlisuddin adalah pengurus PCNU Pidie sekaligus penyuluh agama Islam. Tidak hanya berbicara dari mimbar, ia turun ke dapur-dapur warga, menghidupkan tradisi teut apam menjadi gerakan sosial. Ia menggagas bulan Rajab atau apam tahun ini masyarakat Pidie dengan gerakan teut 1.000 Apam untuk korban banjir Bandang.
"Rajab disebut bulan apam bukan tanpa makna. Ia adalah bulan untuk berbagi, bulan menguatkan silaturahim, bulan menyalurkan kepedulian melalui kuliner khas yang lahir dari dapur-dapur sederhana.Pidie sejak dulu dikenal dermawan,” ujar Tgk Mukhlisuddin di sela-sela aktivitasnya kepada NU Online, Sabtu (3/1/2026).
Dia menceritakan gerakan itu bermula dari kegelisahan. Setiap kabar tentang korban banjir bandang yang kehilangan rumah dan harta benda terasa mengetuk nuraninya. Ia sadar, bantuan besar memang penting, tetapi solidaritas juga bisa hadir lewat hal-hal yang tampak kecil namun sarat makna. Apam, dengan segala kesederhanaannya, adalah bahasa empati yang mudah dipahami semua orang.
Maka mulailah ajakan itu disampaikan. Dari pengajian ke pengajian, dari pertemuan warga ke obrolan santai selepas shalat. Tgk Mukhlisuddin mengajak masyarakat Pidie untuk bersedekah apam. Bukan satu atau dua, tetapi seribu. Seribu apam yang lahir dari niat baik, dari tangan-tangan emak-emak, dari dapur-dapur yang masih mengepul meski negeri sedang berduka.
Ajakan itu disambut hangat. Di banyak gampong, warga berkumpul. Gerabah dikeluarkan, daun kelapa kering disusun, api dinyalakan. Aroma apam yang dibakar perlahan menguar, bercampur dengan tawa, doa, dan cerita. Tak sedikit yang berkata, sudah lama suasana seperti ini tak mereka rasakan: hangat, guyub, penuh makna.
"Ini bukan sekadar memasak apam,” kata Tgk Mukhlisuddin. “Ini tentang menghidupkan kembali nilai-nilai kebersamaan. Ketika tangan-tangan bekerja bersama, hati pun disatukan oleh niat yang sama: membantu saudara-saudara kita yang sedang tertimpa musibah." lanjutnya
Bagi masyarakat Pidie, apam memang bukan makanan biasa. Ia adalah penanda identitas, simbol syukur, dan medium berbagi. Tradisi teut apam di bulan Rajab telah diwariskan turun-temurun. Dulu, ketika belum ada elpiji atau minyak tanah, apam dibakar dengan api dari daun kelapa kering di atas gerabah. Cara itu bertahan hingga kini, menjadi kearifan lokal yang dijaga dengan penuh kebanggaan.
Dalam konteks itulah, gerakan 1.000 apam menemukan relevansinya. Ia tidak hadir sebagai proyek instan, melainkan tumbuh dari akar budaya masyarakat. Banjir bandang boleh merusak banyak hal, tetapi tidak mampu memadamkan semangat gotong royong dan kepedulian yang telah lama bersemayam di hati orang Pidie.
Tgk Mukhlisuddin alumni MUDI Samalanga sejak awal musibah bukan hanya menyalurkan bantuan juga mengajak warga dengan berbagai media termasuk medsos melakukan donasi kemanusiaan untuk korban banjir bandang atau tsunami bandang.
Ketua GS itu juga menekankan bahwa gerakan ini adalah bagian dari dakwah sosial. Baginya, dakwah tidak selalu berbentuk ceramah panjang. Kadang, dakwah hadir dalam wujud paling sederhana: sepotong apam yang dibagikan dengan tulus, senyum yang menguatkan, dan pesan bahwa mereka yang tertimpa musibah tidak sendirian.
“NU mengajarkan kita untuk hadir di tengah umat,” ujarnya. “Bukan hanya saat mereka senang, tetapi terutama ketika mereka sedang diuji. Apam ini mungkin tidak menyelesaikan semua persoalan, tapi ia membawa pesan cinta dan kepedulian.” kata dia.
Apam-apam itu di Pidie ada Apam Thoe dan Apam Meukuah yang terkumpul nantinya akan didistribusikan bersama bantuan lain ke wilayah terdampak. Prosesnya melibatkan banyak pihak, dari relawan muda hingga masyarakat biasa. Tidak ada sekat, tidak ada panggung. Semua bekerja dalam senyap, digerakkan oleh satu tujuan: meringankan beban sesama.
Bagi para penerima, apam itu lebih dari sekadar makanan. Ia adalah pengingat bahwa di tempat lain, ada saudara-saudara yang memikirkan mereka. Di balik setiap apam, ada doa, ada harapan, ada rasa kebersamaan yang menembus jarak dan duka.
Gerakan ini juga menjadi pelajaran berharga bagi generasi muda. Bahwa tradisi tidak harus bertentangan dengan kemanusiaan modern. Justru dari tradisi itulah lahir nilai-nilai universal: empati, solidaritas, dan kepedulian. Tgk Mukhlisuddin berharap, apa yang dilakukan hari ini bisa menginspirasi gerakan serupa di masa depan.
Baca Juga
Harapan Pelajar Bangkalan di Tahun 2026
“Selama kita masih mau berbagi, insyaallah Aceh akan selalu punya harapan,” katanya mantap.
Di Pidie, bulan Rajab kembali menemukan maknanya. Di tengah lumpur dan duka akibat banjir bandang, aroma apam yang dibakar menjadi tanda bahwa kehidupan terus berjalan, bahwa tradisi masih menyala, dan bahwa kepedulian tidak pernah surut.
Terpopuler
1
PBNU Tegaskan Aliansi yang Mengatasnamakan Angkatan Muda NU Bukan Bagian dari Organisasi NU
2
Ketum PBNU Respons Penetapan Eks Menag Yaqut Cholil Qoumas sebagai Tersangka Korupsi Kuota Haji
3
Khutbah Jumat: Rajab, Bulan Islah dan Perdamaian
4
Khutbah Jumat: Rezeki yang Halal Menjadi Penyebab Hidup Tenang
5
PWNU Aceh Dukung Pendataan Rumah Terdampak Banjir, Warga Diminta Melapor hingga 15 Januari
6
Khutbah Jumat: Media Sosial dan Ujian Kejujuran
Terkini
Lihat Semua