Nasional

Cerita Pretty, Lulusan UIN Yogyakarta Raih Beasiswa Magister Fisika Teori dan Komputasi di Kampus Tiongkok

Senin, 18 Mei 2026 | 09:00 WIB

Cerita Pretty, Lulusan UIN Yogyakarta Raih Beasiswa Magister Fisika Teori dan Komputasi di Kampus Tiongkok

Pretty saat di kampus Guizhou University.. (Foto: dok Pretty)

Jakarta, NU Online

Jalan hidup seseorang kerap bergerak di luar dugaan. Begitu pula yang dialami Pretty. Setelah mencoba daftar dan melalui sejumlah tes, ia berhasil meraih beasiswa penuh dari Pemerintah Tiongkok untuk kuliah Magister bidang Fisika Teori dan Komputasi di Guizhou University.


Di balik capaian itu, tersimpan kisah perjuangan panjang, kegigihan belajar, serta keberanian menembus batas yang sebelumnya tampak mustahil. Bagi Pretty, Fisika bukan sekadar deretan rumus yang rumit. Ia justru melihat ilmu tersebut sebagai cara memahami kehidupan dan semesta. Ketertarikannya pada sains tumbuh sejak duduk di bangku sekolah.


Namun, perjalanan menuju dunia akademik internasional tidak berlangsung mulus. Perjalanan hidup perempuan bernama lengkap Pretty Oktianti Menur Kusuma Putri ini membuktikan bahwa mimpi besar bisa lahir dari keberanian untuk terus melangkah.

 

Pretty merupakan alumnus Program Studi Pendidikan Fisika, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Sebelum melanjutkan kuliah ke luar negeri, ia menempuh pendidikan di SMAN 2 Cepu Blora dan lulus pada 2017.

 

Ia sempat menjalani masa gap year selama dua tahun sebelum akhirnya masuk UIN Sunan Kalijaga pada 2019. Namun, masa jeda itu justru menjadi ruang baginya untuk mengenal diri sendiri dan memantapkan pilihan masa depan.


“Dulu saya sempat gap year dua tahun. Tapi saya percaya setiap orang punya waktunya masing-masing,” ungkap Pretty kepada NU Online pada Sabtu (16/5/2026) malam.

 

Gadis yang memiliki hobi travelling itu mengaku sejak awal tertarik pada dunia sains, khususnya fisika. Baginya, fisika bukan sekadar pelajaran penuh rumus. Akan tetapi, cara memahami fenomena alam secara lebih mendalam.

 

“Belajar Fisika Teori dan komputasi di Guizhou University sangat bermanfaat bagi saya. Karena tidak hanya memperdalam pemahaman tentang sains dan teknologi modern. Akan tetapi, juga melatih cara berpikir yang kritis, logis, dan inovatif untuk menghadapi berbagai tantangan dunia seperti energi, perubahan iklim, dan perkembangan teknologi masa depan,” tuturnya.


Menurut Pretty, ilmu yang ia peroleh dapat menjadi bekal untuk berkontribusi dalam riset global sekaligus membawa manfaat bagi masyarakat. Bagi Nahdliyin, pendidikan ini juga penting karena dapat membantu meningkatkan kualitas sumber daya manusia, memperkuat literasi sains dan teknologi di lingkungan pesantren maupun Masyarakat.


“Serta menunjukkan bahwa nilai-nilai Islam dan kemajuan ilmu pengetahuan dapat berjalan bersama demi membangun peradaban yang lebih maju, mandiri, dan bermanfaat bagi umat,” terangnya.

 

Young Leader Scholarship
Ketertarikannya kemudian berkembang ke bidang komputasi dan riset ilmiah modern. Saat kuliah, Pretty aktif mencari informasi tentang peluang beasiswa internasional. Hingga akhirnya ia menemukan program ASEAN-China Young Leader Scholarship yang diinformasikan melalui laman ASEAN dan dibagikan Kedutaan Besar Tiongkok.


Kesempatan itu tidak disia-siakan. Pretty mempersiapkan berbagai persyaratan dengan serius, mulai dari dokumen akademik, motivation letter, hingga kemampuan bahasa Inggris dan Mandarin. Di tengah ketatnya persaingan internasional, ia terus meyakinkan diri untuk mencoba.


Usahanya membuahkan hasil. Putri pasangan Yulianto Wibowo dan RAJ Saraswati Puspa Jelita Sari ini dinyatakan lolos beasiswa China Government Scholarship untuk studi selama tiga tahun, mulai 2024 hingga 2027. “Awalnya saya tidak menyangka bisa lolos. Tapi saya percaya kalau rezeki tidak akan salah alamat,” ujarnya bersyukur.

 

Bagi Pretty, perjuangan meraih pendidikan tinggi juga memiliki makna spiritual. Ia meyakini bahwa Islam sangat mendukung perempuan untuk terus belajar dan berkembang.

 

“Dalam Islam, belajar itu bukan cuma kewajiban laki-laki, tapi juga perempuan. Perempuan yang berilmu bisa menjadi ibu, guru, dan panutan bagi generasi masa depan,” jelasnya.


Terinspirasi Sayyidah Aisyah
Pretty mencontohkan sosok Sayyidah Aisyah binti Abu Bakar Ra yang dikenal sebagai perempuan berilmu luas dan menjadi rujukan banyak sahabat dalam berbagai persoalan. Ia sangat terinspirasi dengan istri Rasulullah Swa ini.


Menurut dia, beasiswa bukan hanya bantuan pendidikan, melainkan bentuk kemudahan dan rezeki dari Allah agar seseorang dapat terus belajar dan memberi manfaat bagi banyak orang. “Selama niatnya baik dan jalannya halal, menuntut ilmu itu bagian dari ibadah,” ungkapnya.


Di tengah kesibukannya menjalani studi di Tiongkok, ia juga kerap membagikan motivasi kepada pelajar dan mahasiswa Indonesia yang ingin mencoba beasiswa luar negeri. Ia menilai bahwa persaingan yang ketat tidak boleh membuat seseorang takut mencoba.


Menurut Pretty, langkah pertama yang harus dilakukan adalah meluruskan niat. Setelah itu, calon pendaftar perlu mempersiapkan kemampuan akademik, bahasa, serta pengalaman organisasi. “Motivation letter harus jujur dan sesuai pengalaman. Ceritakan perjuangan dan mimpi kita,” tuturnya.


​​​​​​​Gadis kelahiran Blora Jawa Tengah, 13 October 2000 ini juga mengingatkan pentingnya doa dan restu orang tua dalam setiap perjuangan. “Usaha keras ditambah doa, insyaallah akan menemukan jalannya,” katanya.


​​​​​​​Kini, di negeri rantau, Pretty tidak hanya membawa mimpi pribadi. Ia juga membawa harapan bahwa perempuan Indonesia, termasuk lulusan perguruan tinggi keagamaan Islam, mampu bersaing di level internasional dalam bidang sains dan teknologi.


Kisah Pretty menjadi inspirasi bahwa keterbatasan, masa gap year maupun rasa minder bukanlah akhir dari perjalanan. Dengan ketekunan, keberanian, dan keyakinan, seorang anak muda dari Blora mampu menembus ruang akademik dunia dan mengharumkan nama Indonesia di negeri Tiongkok.