Nasional

Haul Akbar Ke-45 Mbah Hamid Pasuruan, Ketum PBNU Sebut NU Tak Mungkin Bertahan Tanpa Peran Kiai

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 15:30 WIB

Haul Akbar Ke-45 Mbah Hamid Pasuruan, Ketum PBNU Sebut NU Tak Mungkin Bertahan Tanpa Peran Kiai

Ketum PBNU KH Yahya Cholil Staquf saat Haul Akbar Ke-45 Mbah Hamid Pasuruan di Pesantren Salafiyah Kota Pasuruan, pada Sabtu (22/8/2026) siang (Foto: Junaidi Ghufron)

Jakarta, NU Online

Ketua Umum (Ketum) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya menyebutkan bahwa NU tidak mungkin bertahan tanpa peran para kiai, seperti KH Abdul Hamid Pasuruan atau Mbah Hamid.


Gus Yahya menyampaikan hal tersebut dalam acara Haul Akbar Ke-45 Mbah Hamid Pasuruan di Pondok Pesantren Salafiyah Kota Pasuruan, Jawa Timur, pada Sabtu (22/8/2026).

 

"Jam'iyyah Nahdlatul Ulama ini tidak mungkin bertahan tanpa peran dari kiai-kiai seperti Kiai Abdul Hamid Pasuruan," jelasnya.

 

Lebih lanjut, Gus Yahya menjelaskan bahwa NU bukan sekadar organisasi dalam pengertian lahiriah. Menurutnya, NU juga memiliki ikatan batin yang menyatukan para anggotanya.

 

"Nahdlatul Ulama bukan hanya munadzomah lahiriah saja, tapi sekaligus juga munadzomah batiniyah, bukan hanya kumpulan dari jasad-jasad sekian banyaknya orang, tetapi juga kesatuan dari ruh-ruh orang-orang yang mencintai ulama, mencintai agama, mencintai Hadratu Rasul Muhammad," katanya.


Ia mengatakan bahwa Hadratusyekh KH Hasyim Asy'ari telah memberikan pesan kepada warga yang bergabung dalam Jam'iyyah NU agar membangun hubungan dengan dasar cinta, kasih sayang, kerukunan, dan persatuan. Nilai tersebut, menurut Gus Yahya, menjadi landasan penting dalam kehidupan berorganisasi di NU.

 

"Masuklah kalian ke dalam jam'iyyah Nahdlatul Ulama ini dengan mahabbah, dengan kasih sayang, wal widad dan cinta. Kasih sayang dan cinta kepada para ulama, cinta kepada agama, cinta kepada Hadratu Rasul, dan cinta di antara sesama kita," jelasnya.


Gus Yahya menegaskan, perbedaan pendapat merupakan hal yang wajar dalam organisasi. Bahkan, perdebatan dan perbedaan pandangan dapat terjadi dalam keseharian, tetapi hal tersebut tidak boleh menghilangkan semangat persatuan dan kerukunan.


"Wal ulfati wal ittihad, dengan rukun dan bersatu. Beda pendapat itu biasa. Saya dengan wakil ketua, Pak Amin Said Husni, ini tiap hari berdebat sampai gebrak-gebrakan meja dan seterusnya. Tapi tidak pernah saya, tidak pernah rukun," katanya.


Ia mengingatkan agar setiap warga NU tidak melakukan tindakan yang berpotensi menimbulkan perpecahan. Menurutnya, perbedaan mengenai benar dan salah maupun menang dan kalah tidak boleh menjadi alasan untuk mengorbankan persatuan Jam'iyyah.


"Ini sekarang Gus Rozin mau menyaingi saya nanti. Tapi tetap saja harus rukun karena ini seolah-olah adalah syarat yang disampaikan oleh Hadratusyekh untuk siapa saja yang ingin bergabung ke dalam jam'iyyah ini," terangnya.