Nasional

Indonesia Krisis Multidimensi, Kebijakan Justru Perparah Ancaman Iklim

Sabtu, 25 April 2026 | 13:00 WIB

Indonesia Krisis Multidimensi, Kebijakan Justru Perparah Ancaman Iklim

Sandi Saputra Pulungan diwawancarai media usai Aksi Damai Hari Bumi di depan Gedung DPR RI, Jakarta, Jumat (24/4/2026) (Foto Herlyn)

Jakarta, NU Online

Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) mengatakan bahwa momentum Hari Bumi tahun 2026 seharusnya menjadi refleksi atas kebijakan lingkungan oleh Pemerintah. Staf Penggalangan Dukungan Publik Walhi, Sandi Saputra Pulungan menilai sejumlah kebijakan justru mempercepat laju krisis iklim dan memperbesar ancaman terhadap keberlangsungan hidup di bumi.


"Di momentum Hari Bumi ini adalah banyak kebijakan-kebijakan yang justru mempercepat laju krisis iklim, banyak mengancam keberlangsungan hidup di bumi,” ujarnya saat ditemui NU Online setelah Aksi Damai Hari Bumi di  depan Gedung DPR RI, Jakarta, Jumat (24/4/2026).


Ia menegaskan bahwa Indonesia tengah menghadapi krisis multidimensi yang membutuhkan pemulihan segera. Menurutnya, persoalan tersebut tidak hanya menyangkut lingkungan hidup, tetapi juga merambah sektor lain seperti pendidikan dan kesejahteraan sosial, termasuk sulitnya generasi muda mengakses hunian akibat kebijakan politik yang dinilai tidak berpihak.


"Bahwa Indonesia ini sedang dalam krisis multidimensi yang harus cepat dan segera untuk dipulihkan," katanya.


Sandi menyebut beragam persoalan tersebut menunjukkan perlunya langkah pemulihan menyeluruh. Ia menekankan pentingnya pemenuhan hak atas lingkungan hidup yang baik bagi generasi muda sebagai jaminan masa depan.


"Makanya kita menuntut untuk segera pulihkan Indonesia. Yang pastinya terkait hak atas lingkungan hidup buat orang muda untuk menjamin masa depan kita atas kualitas udara yang baik, air yang baik,” ucapnya.


Menurutnya, pemerintah harus menghadirkan tindakan nyata, bukan sekadar wacana. Kebijakan dan keputusan politik harus berpihak pada lingkungan hidup, generasi muda, serta keberlanjutan masa depan.


“Sekarang kita hanya menuntut tindakan nyatanya, bukan bicaranya yang besar tapi tindakannya tidak ada. Dengan apa? Dengan kebijakan dan keputusan politik yang bener-bener berpihak terhadap lingkungan hidup, berpihak kepada orang muda, dan berpihak kepada masa depan kita,” tegasnya.


Ia juga menyoroti pentingnya keadilan ekologis dan keadilan antargenerasi dalam setiap kebijakan. Menurutnya, aspirasi masyarakat, khususnya anak muda, kerap disuarakan, namun belum mendapat respons yang memadai.


“Kebijakan dan keputusan politiknya itu bener-bener yang menjamin akan keadilan ekologis. Kebijakan dan keputusan politiknya itu yang menjamin akan keadilan antargenerasi,” ujarnya.


Sandi menggambarkan semakin menyempitnya ruang hidup yang nyaman akibat degradasi lingkungan. Ia mengingatkan bahwa kerusakan hutan yang terus terjadi akan menghilangkan ruang-ruang alam yang selama ini menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.


“Jangan sampai karena hutan semakin berkurang, kita akan sulit lagi untuk camping atau kemah di dalam hutan atau tempat-tempat yang nyaman gitu,” katanya.


Pihaknya mendesak agar pemerintah segera membuktikan keberpihakannya melalui kebijakan konkret yang menjamin lingkungan hidup yang bersih, sehat, dan berkelanjutan bagi generasi mendatang.


“Berikan kami bukti yang nyata dengan membuat kebijakan atau keputusan politik yang bener-bener keberpihakannya mencerminkan untuk masa depan orang muda,” pungkas Sandi.