Jelang Muktamar NU, Nahdliyin IPB Dorong Khidmat Berbasis Keilmuan
Senin, 24 Agustus 2026 | 08:00 WIB
Halaqah Akademik Nahdliyin IPB di Pesantren Mahasiswa IPB Ma’had Jawi, Dramaga, Bogor, Jawa Barat, Ahad (23/8/2026). (Foto: (Foto: Hafidz Fatur Rahman))
Bogor, NU Online
Menjelang Muktamar Ke-35 Nahdlatul Ulama (NU), kalangan Nahdliyin di IPB University yang tergabung dalam Keluarga Mahasiswa Nahdlatul Ulama (KMNU) dan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) IPB mendorong agar kapasitas akademik dan profesional warga NU semakin terhubung dengan persoalan nyata masyarakat.
Gagasan tersebut mengemuka dalam Halaqah Akademik Nahdliyin IPB bertajuk Dari Ilmu untuk Khidmah: Membaca Persoalan Riil Umat, Menyumbang Gagasan Keilmuan bagi Nahdlatul Ulama, yang digelar di Pondok Pesantren Mahasiswa IPB Ma’had Jawi, Dramaga, Bogor, Jawa Barat, Ahad (23/8/2026).
Peneliti senior IPB University, H Ismatul Hakim menyoroti bahwa persoalan masyarakat tidak selalu selesai hanya dengan akses pembiayaan.
Menurutnya, aspek kelembagaan, kapasitas pengelolaan, dan kemitraan sosial justru menjadi faktor penting agar masyarakat mampu mengelola sumber daya secara berkelanjutan.
"Tanpa kelembagaan yang kuat, kapasitas pengelolaan yang memadai, dan jaringan kemitraan sosial yang sehat, masyarakat akan kesulitan menjaga keberlanjutan sumber daya," ucapnya.
Ismatul Hakim mengatakan bahwa pembangunan masyarakat harus berbasis pada penguatan struktur sosial dan kelembagaan lokal.
Perspektif ini beririsan dengan pandangan seorang profesional di bidang standar keberlanjutan dan sertifikasi, Hasan Bisri yang menilai produk petani, nelayan, UMKM, pesantren, dan kelompok masyarakat menghadapi tantangan memasuki pasar lebih luas.
Menurutnya, kunci utama agar produk masyarakat bisa diterima di pasar adalah mutu yang konsisten, pencatatan atau traceability, kelembagaan usaha yang kuat, serta kemampuan memenuhi standar pasar.
"Jejaring Nahdliyin dapat mengambil ruang khidmah melalui pendampingan mutu, penguatan koperasi, serta menghubungkan masyarakat dengan jejaring profesional, sertifikasi, dan pasar," ungkapnya.
Mudir Pondok Pesantren Mahasiswa IPB Ma’had Jawi, Hamzah Alfarisi menyampaika pentingnya mempertemukan tradisi pesantren dengan tradisi akademik kampus.
"Pesantren memiliki kekuatan pada sanad, adab, spiritualitas, dan tradisi keilmuan agama," ujarnya.
Ia menilai, perguruan tinggi mengembangkan riset, rasionalitas, data empiris, serta profesionalitas. "Pertemuan keduanya diharapkan melahirkan kader yang berkapasitas akademik dan juga berorientasi pada pengabdian," tuturnya.
Mahasiswa Pascasarjana IPB University, Tsanie Ditya Kurnia menyebut forum ini diarahkan sebagai ruang pertukaran gagasan antargenerasi dan lintas keilmuan Nahdliyin.
"Dengan ini, Nahdliyin akan dapat saling melengkapi, memperkuat, dan membangun jejaring yang produktif," katanya.
Salah satu gagasan yang muncul dalam forum tersebut adalah pemetaan akademisi, alumni, dan profesional Nahdliyin berdasarkan bidang keahlian.
Ia berharap, pemetaan ini dapat menjadi basis jejaring yang lebih terstruktur, sehingga dapat dimanfaatkan sebagai ruang berbagi pengetahuan, pendampingan, dan kolaborasi nyata.
Halaqah turut dihadiri Pengurus Lembaga Pengembangan Pertanian Nahdlatul Ulama (LP2NU) PBNU), Mahfudz, Perwakilan Kementerian PPN/Bappenas Didik Darmanto, Edi Sulistyo Heri Susetyo, dan Pembina KMNU IPB Muhammad Zahrul Muttaqin, bersama santri dan mahasiswa dari berbagai latar belakang keilmuan.
Kontributor: Hafidz Fatur Rahman