Nasional

Kenali Pesantren, Langkah Awal Orang Tua Sebelum Titipkan Anaknya

Senin, 25 Mei 2026 | 11:00 WIB

Kenali Pesantren, Langkah Awal Orang Tua Sebelum Titipkan Anaknya

Pengasuh Pondok Pesantren Darul Qur'an wal Hadits Mahasina Bekasi, Jawa Barat Nyai Badriyah Fayumi saat di Jakarta, Ahad (24/5/2026). (Foto: NU Online/Jannah)

Jakarta, NU Online

 

Mencuatnya kasus kekerasan yang terjadi di sejumlah pesantren memunculkan kekhawatiran di tengah masyarakat. Tidak sedikit orang tua mulai ragu untuk memasukkan anaknya ke lembaga pendidikan berbasis pesantren. 

 

Pengasuh Pondok Pesantren Mahasina Darul Qur’an wal Hadits, Bekasi, Jawa Barat Nyai Badriyah Fayumi mengatakan, ketakutan yang berlebihan justru dapat mengaburkan fakta banyak pesantren masih menjalankan fungsi pendidikan dan pembinaan moral secara baik.

 

“Untuk masyarakat, kita minta jangan lakukan generalisasi, dan enggak usah takut mau mondokin anak. Timbang-timbanglah berita seperti itu di tempat yang mana,” ucap Nyai Badriyah saat ditemui NU Online di Jakarta pada Ahad (24/5/2026).

 

Ia menilai bahwa langkah yang lebih penting dilakukan masyarakat adalah mengenali lebih jauh pesantren yang akan dipilih. Mulai dari melihat profil pengasuh, sistem pendidikan, hingga rekam jejak alumninya. 

 

“Lihatlah faktanya aja mau mondokin di mana, kenali pesantrennya, kenali pengasuhnya, pahami aturan dan sistemnya. Saya pikir itu penting ya untuk orang tua,” lanjutnya.

 

Nyai Badriyah mengatakan bahwa hal itu menjadi bentuk kehati-hatian yang lebih objektif dibanding sekadar terpaku pada pemberitaan kasus tertentu.

 

“Orang tua penting untuk mengenali dan melihat secara lebih detail dan lebih jeli profil dari masing-masing pesantren, mulai dari kenali pengasuhnya, kemudian sistem belajarnya, alumninya, sebelum menyekolahkan anaknya begitu,” katanya.

 

Nyai Badriyah juga menekankan bahwa berbagai lembaga pesantren, terutama pesantren di bawah Nahdlatul Ulama, saat ini tengah berupaya memperkuat sistem pencegahan kekerasan di lingkungan pendidikan. Upaya itu dilakukan melalui kampanye, penerapan mekanisme pengawasan, hingga penyusunan standar operasional prosedur (SOP).

 

“Karena pihak pesantren sendiri juga kayak di RMI dan di bawah naungan NU ya, juga serius sekali melakukan melakukan kampanye, kemudian menerapkan mekanisme, menerapkan SOP, begitu,” tuturnya.

 

Ia meminta masyarakat agar tidak gegabah melakukan generalisasi terhadap seluruh pesantren di Indonesia. Menurutnya, kasus yang mencuat tidak bisa dijadikan alasan untuk menilai seluruh pesantren memiliki kondisi serupa.

 

“Masyarakat dan orang tua juga jangan menggeneralisir juga. Jangan menggeneralisir karena ada berita seperti itu. Jumlah pesantren itu 42 ribu di Indonesia,” ujarnya.