Nasional

KH Nasaruddin Umar Nilai Kiai Hasyim Muzadi Sosok Guru Bangsa

Jumat, 17 Maret 2017 | 06:55 WIB

Jakarta, NU Online
Umat Islam khususnya, dan Bangsa Indonesia umumnya kembali kehilangan sosok panutan yang disegani bukan hanya di dalam negeri, tapi juga di luar negeri.

Sosok tersebut tak lain Pengasuh Pondok Pesantren Al-Hikam KH Hasyim Muzadi yang meninggal, Kamis (16/3). Kabar meninggalnya Kiai yang pernah menjabat ketua umum PBNU periode 1999-2010 tersebut mengagetkan banyak pihak, tak terkecuali Imam Besar Masjid Istiqlal KH Nasaruddin Umar. 

“Kita sangat kaget ya,” katanya saat takziyah kerumah almaghfurlah KH Hasyim Muzadi, di Depok, Jawa Barat, Kamis (16/3).

Kiai Nasaruddin mengungkapkan bahwa dirinya merasa kehilangan atas meninggalnya kiai Hasyim, sosok kiai yang dianggapnya sebagai guru bangsa dan tokoh Nasional. 

“Kita betul-betul kehilangan sebagai warga bangsa Indonesia, kita kehilangan seorang guru bangsa, dan seorang umat ya, beliau sangat melakukan banyak hal untuk kepentingan Bangsa,” kata pria yang juga Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah ini.

Menurut Kiai Nasaruddin, Kiai Hasyim merupakan tokoh yang memadukan antara intelektualitas, pendidik, kiai, dan politisi. “Dia bisa mengkombinasikan berbagai sosok di dalam suatu diri. Hal tersebut yang membuat dirinya disegani dan terkenal,” ujar pria kelahiran Bone, Sulawesi Selatan tersebut.

Pada kesempatan tersebut, Kiai Nasaruddin sempat bercerita tentang dirinya saat mendampingi kiai Hasyim yang pada waktu itu menjadi ketua umum PBNU. Menurutnya, kiai Hasyim sering menyelesaikan konflik internal agama lain dan dalam menyelsaikannya itu tempatnya di PBNU. 

“Itu satu pandangan bahwa legitimasi ketokohan beliau (Kiai Hasyim) itu sangat diakui oleh agama lain,” katanya.

Kiai Nasaruddin melanjutkan kalau Kiai Hasyim merupakan sosok yang bersahabat, baik dengan tokoh-tokoh umat Islam, maupun tokoh dari agama selain Islam. “Saya kira amat sulit menemukan figur sosok seperti beliau,” kata pria yang pernah menjabat wakil menteri Agama 2011-2014.

Tantangan kita bagi generasi yang ditinggal adalah, katanya, belajar banyak terhadap pengalaman, ketelatenan, kesabaran, kesetiaan, keikhlasan, dan kebersahajaan Kiai Hasyim. “itu sangat penting buat kita para pelanjutnya,” tegasnya. (Husni Sahal/Fathoni)


Terkait