Nasional

Kiai Afifuddin Muhajir Ungkap Kebangkitan Turats Bagian Tak Terpisahkan dari Kebangkitan Ulama

Kamis, 27 Agustus 2026 | 17:40 WIB

Kiai Afifuddin Muhajir Ungkap Kebangkitan Turats Bagian Tak Terpisahkan dari Kebangkitan Ulama

Wakil Rais Aam PBNU, Kiai Afifuddin Muhajir dalam Pembukaan Pameran Turats di Muktama Ke-35 NU di Pesantren Al Munjeed Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, Jatim, Kamis (27/8/2026) siang. (Foto: Bushiri)

Jombang, NU Online

Wakil Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Kiai Afifuddin Muhajir, menegaskan bahwa warisan turots merupakan fondasi mutlak bagi eksistensi ulama.


Hal itu ia sampaikan saat memberi taujihad dalam Pembukaan Pameran Turats di Muktamar Ke-35 Nahdlatul Ulama di Pondok Pesantren Al Munjeed Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, Kamis (27/8/2026) siang.

 

Kiai Afifuddin menyatakan bahwa hubungan antara Nahdlatul Ulama dan tradisi keilmuan masa lalu merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan.

 

"Tidak bisa dipisahkan antara Nahdlatul Ulama dan Nahdlatut Turats. Tidak akan ada kebangkitan ulama kalau tidak ada kebangkitan turats,” ujar Kiai Afifuddin dalam taujihatnya.

 

Dalam pemaparannya, Kiai Afif menjelaskan bahwa turats secara terminologi merupakan segala peninggalan para pendahulu untuk generasi penerus, baik berupa kebudayaan material maupun non-material. Dalam konteks ke-NU-an, istilah ini merujuk secara khusus kepada kitab-kitab peninggalan para ulama terdahulu maupun karya ulama yang masih hidup.

 

Lebih lanjut, Kiai Afifuddin merinci cakupan luas dari kitab-kitab turots yang selama ini menjadi perhatian utama umat Islam, meliputi sumber-sumber ajaran agama, ilmu-ilmu keagamaan, hingga perangkat disiplin ilmu alat yang krusial untuk memahami agama.


“Kitab turats yang selama ini kita perhatikan adalah meliputi itu semua," terangnya.

 

PenasIhat Nahdlatut TurAts itu juga menyoroti pentingnya menjaga warisan ini di tengah arus modernisasi pesantren. "Sering kita mengatakan bahwa pesantren-pesantren kita ingin menjadi pesantren yang memadukan kesalafan dan kemodernan. Sudah barang tentu unsur salaf tidak akan terwujud tanpa kitab turats ini.” tegasnya.

 

Kiai Afifuddin memberikan apresiasi mendalam kepada para kiai dan kalangan muda pesantren (Gus) yang konsisten merawat tradisi keilmuan ini. Pihaknya berpesan agar gerakan pelestarian tersebut terus hidup demi menjaga estafet keilmuan umat.

 

"Mudah-mudahan ini terus berlanjut, dan saya apresiasi terhadap para kiai dan para Gus yang memiliki perhatian yang serius terhadap turots ini. Mudah-mudahan tidak berhenti sampai di sini, akan tetapi berlangsung sampai kapan pun" pungkasnya