Nasional

Korban Meninggal Dunia akibat Gempa NTT Bertambah Jadi 100 Orang, 180 Ribu Warga Mengungsi

Selasa, 25 Agustus 2026 | 08:00 WIB

Korban Meninggal Dunia akibat Gempa NTT Bertambah Jadi 100 Orang, 180 Ribu Warga Mengungsi

Warga terdampak gempa NTT di tenda pengungsian di Kecamatan Sambi Rampa, Kabupaten Manggarai, NTT. (Dok NU Peduli NTT)

Jakarta, NU Online

Korban meninggal dunia akibat gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Sabtu (15/8/2026) kembali bertambah. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat hingga Senin (24/8/2026), jumlah korban meninggal mencapai 100 orang. Sementara itu, sebanyak 180.327 warga masih mengungsi.


Gempa tersebut hingga kini masih diikuti ribuan gempa susulan. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat hingga Selasa (25/8/2026) pukul 05.00 WIB terdapat 7.029 gempa susulan dengan magnitudo M1,1 hingga M6,2. Dari jumlah tersebut, sebanyak 32 gempa susulan memiliki magnitudo di atas lima dan 141 kejadian dirasakan masyarakat.

 

Kepala BNPB Suharyanto mengungkapkan bahwa ketakutan terhadap gempa susulan menjadi salah satu alasan masyarakat masih mengungsi. “Sampai sekarang masyarakat masih banyak yang takut sehingga masih mengungsi diluar rumah meskipun rumah-rumahnya tidak terdampak atau rusak ringan,” ujarnya dalam konferensi pers di Jakarta pada Senin (24/8/2026) sore.


Suharyanto mengatakan bahwa aktivitas gempa susulan dalam dua hari terakhir mulai menunjukkan penurunan. Namun, masyarakat tetap perlu mewaspadai kemungkinan gempa susulan dalam beberapa pekan ke depan.

 

“Kondisinya sudah mulai menurun dalam 24 jam terakhir, ada satu kali gempa yang dirasakan masyarakat memang kondisi ini akan berlangsung terus sampai tiga atau empat minggu ke depan di mana menurut penjelasan BMKG kondisinya akan lebih stabil,” katanya.

 

Suharyanto menjelaskan peningkatan jumlah korban meninggal bukan karena adanya korban baru yang langsung meninggal akibat gempa, melainkan berasal dari korban luka berat yang sebelumnya menjalani perawatan di fasilitas kesehatan.

 

“Per Senin (24/8/2026) yang meninggal dunia ada 100 (jiwa) ya. Kemudian untuk jumlah meninggal ini bahwa yang meninggal 100 (jiwa) ini adalah korban gempa yang semula luka berat gitu yang dirawat di fasilitas kesehatan ini tidak berhasil diselamatkan sehingga yang semula di hari pertama hari kedua ada 48 (jiwa) yang meninggal dunia. Angka per hari ini total menjadi 100 (jiwa) yang meninggal dunia,” tuturnya.


Rinciannya, korban meninggal dunia tercatat di Kabupaten Manggarai sebanyak 38 jiwa, Manggarai Timur 34 jiwa, Nagekeo 13 jiwa, Sikka enam jiwa, Ngada lima jiwa, Ende tiga jiwa, dan Manggarai Barat satu jiwa.

 

Selain korban meninggal, sebanyak 1.603 orang mengalami luka-luka. Sementara itu, jumlah warga yang mengungsi mencapai 180.327 jiwa. Pengungsi terbanyak berada di Nagekeo sebanyak 49.059 jiwa, Manggarai 47.840 jiwa, Manggarai Timur 31.371 jiwa, Manggarai Barat 24.729 jiwa, dan Sikka 21.001 jiwa.

 

Dari sisi kerusakan, dia menjabarkan berdasarkan data sementara terdapat 73.818 rumah terdampak. Sebanyak 23.276 rumah mengalami rusak berat, 17.563 rusak sedang, dan 32.979 rusak ringan.

 

Adapun fasilitas umum yang rusak mencapai 1.915 unit. Fasilitas tersebut meliputi sekolah, tempat ibadah, kantor pemerintahan, fasilitas kesehatan, irigasi, jembatan, jalan, serta fasilitas lainnya. “Secara umum dampak paling signifikan berada di Kabupaten Manggarai dan Manggarai Timur,” katanya.


Suharyanto juga mengimbau warga yang masih membutuhkan tempat pengungsian bisa menempati titik-titik pengungsian yang telah dipusatkan di tingkat desa, kecamatan, hingga kabupaten.

 

“Seandainya mereka yang ingin mengungsi, sebaiknya mengungsi ke tempat atau titik-titik pengungsian yang sudah terpusat, yang sudah ada di masing-masing desa, masing-masing kecamatan, dan masing-masing kabupaten,” ucapnya.

 

“Tetapi tentu saja masyarakat tidak bisa dipaksa kalau memang tetap bertahan di titik pengungsian. Kami juga membentuk satgas-satgas kabupaten, kecamatan, dan desa,” sambungnya.