Lima Komitmen Pesantrenku Aman, Upaya PBNU Wujudkan Pesantren Ramah Anak
Selasa, 2 Juni 2026 | 18:00 WIB
Ilustrasi: santri Pesantren Sirojuth Tholibin, Brabo, Grobogan, Jawa Tengah. (Foto: dok Pesantren Sirojuth Tholibin)
Jakarta, NU Online
Pengasuh Yayasan Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, KH M Wafiyul Ahdi Amanullah, membacakan Deklarasi Pasuruan untuk mewujudkan Pesantrenku Aman. Deklarasi tersebut menegaskan komitmen pesantren dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang aman, nyaman, dan ramah bagi seluruh santri.
"Kami, pengasuh, pengurus, ustadz-ustadzah, santri, serta seluruh warga pesantren, dengan ini menyatakan bahwa khidmah utama pesantren adalah menjaga kemaslahatan umat serta melahirkan generasi penerus yang berakhlak mulia, berilmu, taat beribadah, dan berkepribadian luhur demi tegaknya ajaran Islam," katanya di Pondok Pesantren Terpadu Al-Yasini, Pasuruan, Jawa Timur, Selasa (2/6/2026).
Ia juga menegaskan bahwa para santri merupakan amanah dari Allah yang harus dididik, dibimbing, dibina, serta dijaga keselamatan, kehormatan, dan masa depannya.
"Mewujudkan pesantren aman merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari khidmah pesantren dalam menjaga dan menunaikan amanah tersebut," jelasnya.
Pada poin pertama deklarasi, seluruh unsur pesantren berkomitmen memperkuat sistem pengasuhan yang berorientasi pada kemaslahatan santri.
Selain itu, deklarasi tersebut juga menegaskan pentingnya menetapkan kebijakan dan mekanisme perlindungan santri, termasuk melalui pembentukan Satuan Tugas (Satgas) Pesantren Aman.
Ia menutup deklarasi tersebut dengan mengajak seluruh pihak berikhtiar bersama menjadikan pesantren sebagai tempat menuntut ilmu, membangun karakter, dan mempersiapkan masa depan generasi muda dalam suasana yang aman, nyaman, bermartabat, dan penuh keberkahan.
Berikut lima poin komitmen dalam Deklarasi Pesantrenku Aman:
- Menguatkan sistem pengasuhan berbasis kemaslahatan santri.
- Menetapkan kebijakan dan mekanisme perlindungan santri.
- Membentuk Satgas Pesantren Aman.
- Menyediakan lingkungan, infrastruktur, dan saluran pengaduan yang aman.
- Membangun partisipasi dan budaya Pesantren Aman
Enam Pilar Transformasi Pesantren
Sementara itu, Ketua Rabithah Ma'ahid Islamiyah (RMI) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Hodri Ariev menyampaikan bahwa Gerakan Kampanye Nasional Pesantrenku Aman merupakan salah satu turunan dari program Transformasi Pesantren yang dirumuskan RMI PBNU melalui enam pilar utama.
Hodri menjelaskan, pilar pertama adalah transformasi di bidang pengasuhan. Menurutnya, transformasi pengasuhan bukan berarti mengubah sosok pengasuh, melainkan memperkuat fungsi pengasuhan agar santri merasa aman dan nyaman selama berada di pesantren.
"Kedua, transformasi kurikulum. Di satu sisi, pesantren perlu merawat tradisi, tetapi pada saat yang sama pesantren berkepentingan mewujudkan relevansi pendidikan pesantren dengan perkembangan mutakhir, dengan harapan santri dapat berpartisipasi lebih produktif dan relevan dengan perkembangan terkini," katanya.
Ia menambahkan, pilar ketiga adalah transformasi sumber daya manusia yang mencakup musyrif dan musyrifah, tenaga pengajar, pengurus pesantren, tenaga manajemen, hingga aspek kepemimpinan.
"Keempat, transformasi tata kelola. Kelima, transformasi kelembagaan. Dan terakhir, transformasi infrastruktur," jelasnya.
Dalam bidang infrastruktur, lanjutnya, RMI PBNU bekerja sama dengan Ikatan Nasional Konsultan Indonesia (INKINDO) untuk membantu pembangunan pesantren.
"Mereka bersedia membantu pembangunan pesantren mulai dari membuat tata letak, menyusun gambar konstruksi, dan membantu menghubungkan pesantren dengan pemasok material yang menawarkan harga lebih terjangkau," terangnya.