Meski Tak Lagi Muda, Nyai Chisbiyah Wahab Tetap Bertahan Pantau Pemilihan Rais Aam dan Ketum PBNU hingga Dini Hari
Senin, 31 Agustus 2026 | 06:00 WIB
Nyai Hj Chisbiyah Wahab memantau secara langsung jalannya Sidang Pleno V Muktamar Ke-35 Nahdlatul Ulama di Gedung Serbaguna KH Hasbullah Said, Tambakberas, Jombang sejak Ahad (30/8/2026) malam hingga Senin (31/8/2026) pagi. (Foto: NU Online/Syarif Hidayatullah)
Jombang, NU Online
Larut malam tidak memadamkan semangat Nyai Hj Chisbiyah Wahab untuk mengikuti secara langsung jalannya Sidang Pleno V Muktamar Ke-35 Nahdlatul Ulama (NU).
Di tengah proses pemilihan AHWA, Rais Aam, dan Ketua Umum PBNU yang berlangsung sejak Ahad (30/8/2026) pukul 21.00 hingga Senin (31/8/2026) pukul 04.30, Nyai Chisbiyah tetap setia memantau jalannya sidang dari barisan depan.
Nyai Chisbiyah merupakan salah satu putri KH Abdul Wahab Chasbullah. Di usianya yang kini menginjak 82 tahun, ia masih menunjukkan perhatian besar terhadap dinamika organisasi yang telah menjadi bagian penting dalam kehidupannya.
“Kita ini memang sudah cinta ke NU. NU ini banyak kader-kader yang bagus dan berpotensi memimpin NU ke depan, selain itu muktamirin juga kader muda yang memiliki semangat membawa NU ke depan itu yang menjadi semangat saya masih setia memantau jalannya sidang pleno ini,” ujarnya saat ditemui NU Online di sela-sela pelaksanaan Sidang Pleno V di Gedung Serbaguna KH Hasbullah Said, Tambakberas, Jombang.
Nyai Chisbiyah mengaku telah berada di lokasi sejak Ahad pukul 21.00 WIB. Meski sidang berlangsung hingga dini hari dan rasa kantuk mulai datang, ia memilih tetap bertahan untuk menyaksikan proses tersebut secara langsung.
“Saya di sini sejak Ahad jam 21.00 WIB dan masih bertahan hingga sekarang. Selama jalannya sidang pleno ya ada ngantuk-ngantuk sedikit, wajar ya, saya sudah banyak umur. Kalau nunggu di rumah, pikiran saya ada di sidang ini, jadi yaudah lebih baik saya ngantuk-ngantuk di sini tapi sambil menyimak jalannya sidang,” katanya.
Menurutnya, dinamika dalam sidang justru menunjukkan semangat para peserta Muktamar. Perbedaan pendapat yang disampaikan para pemilik suara dinilai sebagai bagian penting dari proses demokrasi di tubuh NU.
“Walaupun ada gangguan sedikit-sedikit karena tadi ngantuk, tapi ya tidak apa-apa. Momen lima tahun sekali ini harus kita pantau secara langsung. Dinamika jalannya sidang juga hidup, justru begini yang bagus, setiap ketua PCNU, PWNU memiliki hak suara dan pada kasih pendapat, suaranya. Ini hidup sidangnya, ini yang bagus untuk Muktamar NU,” pungkasnya.