PBNU Pastikan Penanganan Dampak Bencana di NTT dan Kalimantan Tetap Berjalan di Tengah Persiapan Muktamar
Senin, 24 Agustus 2026 | 09:00 WIB
Tim NU Peduli menyalurkan bantuan untuk warga terdampak gempa bumi NTT, Ahad (23/8/2026 (Foto: NU Peduli)
Jakarta, NU Online
Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) memastikan NU tetap mengerahkan tim penanganan bencana di NTT dan Kalimantan, meskipun pengurus daerah sedang bersiap menghadiri Muktamar Ke-35 NU di Jombang.
“Ini memang musibah bagi kita semua dan kita harus melakukan sesuatu sebagai keseluruhan bangsa untuk ikut menghadapi bencana-bencana itu bersama-sama,” ujar Gus Yahya di Gedung PBNU Jakarta Pusat, Ahad (23/8/2026) malam.
PBNU telah menginstruksikan Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim (LPBI) NU untuk bergerak menangani bencana. Untuk NTT, NU telah mengerahkan tim di lokasi.
“PBNU saya sendiri sudah menginstruksikan kepada LPBI dan mereka sudah bekerja. Untuk NTT misalnya, mereka sudah mengirim tim dan ada tim yang ada di sana,” jelasnya.
Sementara untuk penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan, PBNU tengah melakukan komunikasi dengan PWNU dan PCNU setempat. "Kami sudah melakukan komunikasi di sana walaupun memang keadaannya menjadi tidak mudah karena semua orang tengah bersiap-siap untuk berangkat ke Muktamar," jelasnya.
Namun demikian, Gus Yahya meminta struktur NU di daerah tetap menyiapkan petugas untuk membantu penanganan bencana. "PWNU dan PCNU di sana kemungkinan hari Rabu (26/8/2026) harus sudah berangkat ke Jombang, tapi saya sudah minta untuk menunjuk petugas," ungkapnya.
Ia juga meminta agar unsur terkait, seperti LKNU dan LAZISNU di tiap-tiap daerah, berkoordinasi dengan tim di tingkat pusat.
Koordinasi juga akan melibatkan lembaga dan badan otonom NU yang dapat digerakkan untuk membantu penanggulangan bencana. “Yang nanti juga akan dikoordinasikan dengan lembaga-lembaga terkait dan juga dengan banom-banom yang dapat digerakkan untuk ikut menanggulangi bencana itu,” katanya.
Gus Yahya mengakui penanganan bencana kali ini belum maksimal karena bersamaan dengan persiapan Muktamar Ke-35 NU yang akan berlangsung dalam beberapa hari mendatang di Tambakberas Jombang, Jawa Timur.
"Saya juga mohon maaf kepada masyarakat mungkin tidak maksimal yang bisa dilakukan NU dalam hal ini karena persis bersamaan dengan hajat besar yang sedang kita laksanakan sehingga SDM tidak bisa difokuskan untuk penanganan musibah," tuturnya.
Ia berharap langkah yang dilakukan NU tetap memberikan manfaat nyata bagi masyarakat terdampak bencana. “Mudah-mudahan tetap ada yang sungguh bermanfaat secara nyata yang dilakukan oleh NU sebagai kontribusi dalam penanggulangannya,” pungkasnya.
Sebelumnya, Tim NU Peduli Gempa Flores melibatkan sejumlah lembaga dan badan otonom NU di tingkat wilayah, cabang, hingga ranting, di antaranya Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim Nahdlatul Ulama (LPBINU), LAZISNU, Gerakan Pemuda (GP) Ansor, Fatayat NU, Muslimat NU, IPNU, dan IPPNU menyalurkan bantuan logistik kepada masyarakat terdampak gempa bumi magnitudo 7,7 di tujuh kabupaten di Nusa Tenggara Timur (NTT). Pada tahap pertama masa tanggap bencana, bantuan telah disalurkan melalui 20 posko, baik posko umum maupun posko mandiri.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyampaikan korban gempa Nusa Tenggara Timur (NTT) yang meninggal dunia bertambah. Saat ini ada 91 orang yang meninggal dunia.
"Jumlah korban meninggal sebanyak 91 jiwa atau bertambah 4 jiwa dari hari sebelumnya," kata Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, dalam konferensi pers dilihat YouTube BNPB, Ahad (23/8/2026).
Adapun rincian korban meninggal di kabupaten/kota sebagai berikut:
- Manggarai 32 jiwa
- Manggarai Timur 31 jiwa
- Sikka 6 jiwa
- Ende 2 jiwa
- Manggarai Barat 1 jiwa
- Nagekeo 14 jiwa
- Ngada 5 jiwa
Berton menuturkan sebanyak 40 jiwa berjenis kelamin laki-laki dan 48 jiwa berjenis kelamin perempuan. Sedangkan 3 korban lain belum diketahui jenis kelaminnya karena masih dalam tahap identifikasi.
Adapun 39 korban meninggal merupakan lansia, 4 batita, 1 balita, 12 anak dan remaja serta 35 dewasa. Korban luka akibat gempa sebanyak 1.286 jiwa.
"Lima puluh satu persen korban dinyatakan meninggal disebabkan dampak langsung dari gempa seperti tertimpa reruntuhan bangunan, sedangkan sisanya 49 persen meninggal disebabkan dampak tidak langsung," imbuhnya.