Nasional

Prof Quraish Shihab Jabarkan Esensi Pakaian dalam Fisik dan Takwa

Sabtu, 14 Maret 2026 | 22:00 WIB

Prof Quraish Shihab Jabarkan Esensi Pakaian dalam Fisik dan Takwa

Tangkapan layar Youtube Quraish Shihab.

Jakarta, NU Online

Di tengah-tengah arus modernisasi yang kerap mereduksi pakaian hanya sebatas tren mode atau sekadar simbol identitas kelompok. Pakar Tafsir, Prof M. Quraish Shihab menjabarkan esensi pakaian jauh lebih mendalam daripada sekadar urusan estetika lahiriah. Pakaian merupakan perpaduan antara perlindungan fisik dan manifestasi ketakwaan.

 

Prof Quraish juga menjelaskan bahwa terdapat empat fungsi utama pakaian lahiriah atau fisik yaitu sebagai penutup aurat atau bagian tubuh yang tidak wajar dilihat; sebagai perlindungan dari suhu ekstrem; sebagai identitas pembeda; dan sebagai perhiasan.

 

“Aurat laki-laki berbeda dengan aurat perempuan. Budaya berpakaian kita juga modelnya bisa beda-beda misalnya di Arab berbeda dengan di Maroko. Islam menghargai budaya-budaya positif sehingga memelihara budaya itu perlu, termasuk budaya berpakaian,” ujarnya dalam Pengajian Ramadhan Tafsir Al-Mishbah: Hidup Bersama Al-Qur’an bertajuk Pakaian Lahir dan Pakaian Batin yang tayang di kanal Youtube Quraish Shihab pada Jumat (13/3/2026).

 

Ia menekankan fleksibilitas Islam terhadap tradisi lokal. Menurutnya, perdebatan panjang mengenai batas aurat tidak seharusnya berakhir pada aksi saling menghujat.

 

Prof Quraish menyampaikan bahwa banyak ulama memiliki argumen yang berbeda-beda, dan keragaman tersebut seharusnya dipandang sebagai khazanah intelektual, bukan alasan untuk memecah belah.


“Kita tidak usah mempertentangkan, kita cukup menganut apa yang kita anggap benar dan mentoleransi yang pendapatnya beda,” katanya.


Ia menjelaskan mengenai konsep pakaian takwa atau pakaian batin. Fenomena masyarakat yang sering kali terlalu sibuk memoles penampilan luar namun mengabaikan kualitas batiniah.


Prof Quraish mengibaratkan takwa sebagai kain yang harus ditenun dengan benang-benang kebajikan.

 

“Pakaian takwa itu punya bahan. Itulah yang dipintal sehingga menjadi pakaian. Bahannya itu iman, sabar, dan syukur,” tuturnya.


Ia menyampaikan bahwa seseorang yang mengenakan pakaian takwa akan terlihat dari perilakunya.

 

“Seorang yang pakaian takwa itu dilukiskan sangat indah. Tidak membawa fitnah, tidak menuntut yang bukan haknya, kalau dimaki dia tersenyum. Kalau beruntung dia bersyukur, kalau salah dia istighfar, itu pakaian takwa dalam konteks puasa,” terangnya.