Prof Quraish Shihab Kritik Pola Asuh yang Bebankan Ibu: Ayah Bukan Sekadar Pencari Nafkah
NU Online · Kamis, 5 Maret 2026 | 22:00 WIB
Rikhul Jannah
Kontributor
Jakarta, NU Online
Pakar tafsir Al-Qur'an Prof M Quraish Shihab mengkritik konstruksi sosial yang selama ini cenderung membebankan pendidikan moral dan karakter anak sepenuhnya kepada ibu.
Menurutnya, pola asuh semacam itu tidak sejalan dengan pesan Al-Qur’an. Ia menegaskan, ayah bukan sekadar pencari nafkah, melainkan memiliki tanggung jawab sentral dalam mendidik anak.
Hal itu ia sampaikan dalam pengajian Ramadhan Tafsir Al-Misbah: Hidup Bersama Al-Qur’an bertajuk Pendidikan Anak Tanggung Jawab Bersama yang tayang di kanal Youtube Pusat Studi Al-Qur’an, pada Rabu (4/3/2026).
Baca Juga
Peran Ayah dalam Pendidikan Akhlak Anak
Prof Quraish menjelaskan bahwa dalam Al-Qur’an, dialog pendidikan justru lebih banyak ditampilkan antara ayah dan anak. Ia mencontohkan kisah Luqman, Nabi Ibrahim, dan Nabi Yaqub yang memperlihatkan peran aktif seorang ayah dalam membimbing anak.
"Satu hal lagi yang ingin garis bawahi, saya tidak menemukan di dalam Al-Qur'an uraian tentang ibu yang mendidik anaknya. Yang ada itu bapak Luqman, Ibrahim, Yaqub. Jadi saya tidak ingin menjadikan beban tugas ibu itu hanya mendidik anak atau membebaskan bapak dari pendidikan anak. Harus ada kerja sama," ujarnya.
Ia juga menyoroti fenomena fatherless society, yakni kondisi ketika kehadiran ayah dalam proses pengasuhan kian memudar karena perannya direduksi sekadar pencari nafkah atau penyedia kebutuhan finansial keluarga.
“Keterlibatan bapa bukan sekadar pilihan, melainkan mandat teologis,” ucapnya.
Menurut Prof Quraish, anak merupakan amanah yang dapat menjadi ujian jika tidak dipersiapkan dengan baik. Pendidikan yang timpang dan hanya mengandalkan satu pihak berpotensi melahirkan jarak emosional antara orang tua dan anak.
“Jangan sampai cinta dan kasih sayang menghambat perkembangan positif anak. Beri dia kepercayaan dan kesempatan untuk mencoba, untuk mengekspresikan dirinya,” ucapnya.
Lebih lanjut, ia mengingatkan bahwa pendidikan tidak cukup dilakukan secara verbal tanpa keteladanan. Ia menyebut bahwa anak adalah pemerhati terbaik sekaligus penafsir terburuk. Mereka cenderung meniru segala yang dilakukan orang tua, bukan sekadar mendengar yang terucap.
"Mendidik itu bukan berarti mengajar dari buku. Mendidik itu yang terpenting, apalagi buat anak-anak, adalah keteladanan. Beri dia contoh. Jangan dilarang merokok kalau bapaknya merokok," tuturnya.
Ia menegaskan, pendidikan anak bukan ditentukan oleh siapa yang paling banyak berada di rumah, melainkan oleh kualitas kehadiran dan keselarasan nilai antara ayah dan ibu dalam membangun lingkungan keluarga.
“Perlunya bapak untuk kembali ke meja makan dan ruang diskusi keluarga, memulai lingkaran baru pengasuhan yang lebih sehat dan religius tanpa harus terkungkung oleh tradisi lama yang sudah usang ini,” pungkas Prof Quraish.
Terpopuler
1
Panduan Shalat Gerhana Bulan Petang Ini, Mulai Niat hingga Salam
2
PBNU Instruksikan Qunut Nazilah Respons Agresi Israel-AS ke Iran
3
Jadwal Cuti Bersama dan WFA Lebaran 2026, Total Libur Capai 16 Hari
4
Ketua Umum PBNU Mengutuk Serangan AS-Israel atas Iran
5
Khutbah Gerhana Bulan: Tanda Kekuasaan Allah dan Kesempatan Beramal Saleh
6
Amalan-amalan yang Dianjurkan ketika Terjadi Gerhana Bulan
Terkini
Lihat Semua