Quraish Shihab Jabarkan Perbedaan Menabung dan Menumpuk Harta
Ahad, 8 Maret 2026 | 21:30 WIB
Jakarta, NU Online
Persoalan keuangan seringkali menjadi topik sensitif yang jarang dibahas secara mendalam dalam perspektif spiritual. Pakar Tafsir Prof M Quraish Shihab menjabarkan bahwa perbedaan tipis namun fundamental antara praktik menabung yang dianjurkan dan perilaku menumpuk harta yang dilarang.
Prof Quraish dengan merujuk pada Al-Qur’an Surat Al-Baqarah ayat tiga bahwa definisi orang bertakwa salah satunya adalah mereka yang menginfakkan sebagian rezekinya.
"Orang muttaqin itu adalah melaksanakan secara sempurna shalat, menunaikan zakat, dan sebagian dari hasil mereka nafkahkan. Hanya sebagian yang dihabiskan, sebagian lagi ditabung. Jadi, sejak dini Al-Qur'an sudah berbicara tentang pentingnya tabungan," ujarnya dalam pengajian Ramadhan Tafsir Al-Misbah bertajuk Menabung Demi Masa Depan yang tayang di kanal Youtube Pusat Studi Al-Qur’an, diakses pada Ahad (8/3/2026).
Baca Juga
Quraish Shihab dan Islam Nusantara
Ia menyampaikan bahwa kunci perilaku menumpuk harta terletak pada niat dan kemanfaatan sosial. Menabung sangat dianjurkan apabila ditujukan untuk perencanaan masa depan yang jelas, seperti biaya pendidikan anak, kesehatan, hari tua, hingga rencana ibadah haji.
"Hal ini merupakan bentuk ikhtiar agar tidak menyusahkan orang lain di kemudian hari,” ucapnya.
Prof Quraish mengungkapkan bahwa Nabi Muhammad saw pernah menegur sahabat Bilal bin Rabah yang menyimpan kurma untuk kebutuhan esok hari. Teguran tersebut bukan larangan menabung secara umum, melainkan karena situasi saat itu sedang terjadi paceklik hebat di mana banyak masyarakat kelaparan.
"Teguran itu bukan karena menabung, tetapi karena menyimpan sesuatu yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat saat itu. Adapun jika menabung untuk hari tua atau keluarga yang akan ditinggal, maka itu sangat dianjurkan. Nabi pernah bersabda bahwa meninggalkan ahli waris dalam keadaan cukup itu lebih baik daripada membiarkan mereka miskin dan meminta-minta," tuturnya.
Ia juga menyampaikan bahwa musuh utama dari konsistensi menabung bukanlah kecilnya pendapatan, melainkan besarnya nafsu dan gaya hidup (lifestyle creep).
Menurutnya, sebanyak apapun uang yang dimiliki, tidak akan pernah sanggup mengejar keinginan nafsu yang terus berkembang.
"Kuncinya pada rasa puas dengan apa yang dimiliki. Jangan mau terpengaruh dengan tetangga atau orang lain sehingga uang yang mestinya dipersiapkan untuk masa depan justru kita habiskan sekarang hanya untuk mengikuti nafsu," ujar Prof Quraish.
Prof Quraish menyarankan tabungan tidak hanya didiamkan, tetapi diinvestasikan pada sektor yang produktif dan halal, seperti bank syariah.
“Harta yang diinvestasikan tidak hanya mengendap (menumpuk), tetapi juga ikut menggerakkan roda ekonomi yang bermanfaat bagi umat,” pungkasnya.