RMI PBNU Dorong Transformasi Pesantren untuk Tingkatkan Kualitas Pengelolaan
Selasa, 16 Juni 2026 | 07:00 WIB
Lampung Tengah, NU Online
Transformasi pesantren dilakukan karena fasilitas, sumber daya manusia, maupun kesiapan menghadapi perkembangan zaman yang belum optimal.
Rabithah Ma'ahid Islamiyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (RMI PBNU) terus mendorong pesantren agar tetap menjadi lembaga yang memiliki peran otoritatif dalam pemahaman dan pengamalan ajaran Islam.
"Berbagai kasus perundungan dan kekerasan yang terjadi di lingkungan pesantren jumlahnya sangat kecil, bahkan tidak mencapai satu persen dari total sekitar 42 ribu pesantren yang ada di Indonesia," kata KH Hodri Arief, ketua RMI PBNU, di Bandarjaya, Lampung Tengah, Senin (15/6/2026).
"Kasus-kasus tersebut tidak boleh diabaikan, tetapi juga tidak bisa digeneralisasi. Karena itu, RMI PBNU menyusun program transformasi pesantren agar kualitas pengelolaan dan pengasuhan terus meningkat," lanjutnya.
Ia pun menjelaskan, terdapat lima bidang transformasi pesantren yang menjadi fokus RMI PBNU.
Pertama, transformasi pengasuhan. Pengasuh dan pengurus pesantren didorong memperlakukan santri seperti anak sendiri sehingga tumbuh rasa kasih sayang dan dapat mencegah terjadinya kekerasan. Program ini diwujudkan melalui Sekolah Pengasuhan yang telah diselenggarakan di Bogor dan Yogyakarta.
Kedua, transformasi kurikulum. Melalui pembaruan kurikulum, pesantren diharapkan kembali menjadi pemegang otoritas keilmuan agama yang relevan serta mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman.
Ketiga, transformasi sumber daya manusia (SDM). Para pengurus pesantren dibekali kemampuan manajemen agar dapat membantu para pengasuh dalam mengelola lembaga secara profesional.
Keempat, transformasi tata kelola kelembagaan. KH Khodri Arif mengungkapkan masih terdapat pesantren yang belum berbadan hukum dan dikelola secara sederhana. Oleh karena itu, tata kelola kelembagaan perlu diperkuat agar lebih tertib dan berkelanjutan.
Kelima, transformasi infrastruktur. Menurutnya, banyak pesantren yang membangun sarana dan prasarana secara bertahap sesuai kemampuan sehingga belum memiliki perencanaan jangka panjang. RMI PBNU mendorong agar setiap pesantren memiliki tata letak (layout) yang baik serta bangunan yang berkualitas dan kokoh.
Melalui lima transformasi pesantren tersebut lanjutnya, RMI PBNU berharap pondok pesantren semakin kuat dalam menjalankan fungsi pendidikan, dakwah, dan pembinaan umat, sekaligus mampu menjawab berbagai tantangan di era modern tanpa meninggalkan jati dirinya sebagai pusat pengembangan ilmu dan akhlak Islam.
Sementara itu, Koordinator Program Al-Qur'an Al-Qur’an dan Gizi untuk Santri Gus Ulunnuha mengatakan bahwa masih terdapat sejumlah persoalan mendasar yang dihadapi pesantren, terutama terkait fasilitas dan pemenuhan gizi santri.
Untuk menjawab persoalan fasilitas, RMI PBNU bekerja sama dengan Yayasan Al-Fatihah menyalurkan bantuan Al-Qur'an kepada pesantren-pesantren. Pada kesempatan tersebut, sebanyak 12 ribu mushaf Al-Qur'an disiapkan untuk pesantren di Provinsi Lampung.
"Program Al-Qur'an Agus ini merupakan bagian dari ikhtiar membantu pesantren agar kebutuhan sarana pembelajaran Al-Qur'an dapat terpenuhi," katanya.
Selain itu, berdasarkan hasil survei yang dimiliki RMI PBNU, sekitar 50 persen santri masih mengalami persoalan kekurangan gizi. Untuk itu, RMI PBNU juga menjalankan program bantuan telur bagi pesantren yang belum mendapatkan manfaat dari Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Program peningkatan gizi tersebut ditargetkan menjangkau 10 ribu santri dengan dukungan anggaran sebesar Rp10 miliar.
Hadir pada kesempatan tersebut Ketum PBNU KH Yahya Cholil Staquf, Wakil Ketua Umum PBNU H Amin Said Husni, dan Rais serta Ketua PCNU Se-Provinsi Lampung.