SPI dan IPB Dorong Pengetahuan Agraria dari Kampus hingga Desa
Kamis, 5 Februari 2026 | 17:30 WIB
Jakarta, NU Online
Serikat Petani Indonesia (SPI) bersama Pusat Studi Agraria (PSA) IPB University dan Insist Press meluncurkan buku-buku kajian agraria yang menyoroti pengetahuan gerakan sosial petani dan persoalan generasi muda desa, Senin lalu. Peluncuran buku tersebut menjadi upaya memperluas akses pengetahuan agraria agar lebih dekat dengan realitas petani dan masyarakat pedesaan.
Buku-buku yang diluncurkan memuat pembahasan tentang gerakan sosial, reforma agraria, serta konflik agraria yang berkembang di berbagai belahan dunia. Kegiatan ini sekaligus menjadi ruang dialog antara akademisi dan gerakan petani.
Salah satu penulis, Saturnino M. Borras Jr, menekankan bahwa perubahan sosial membutuhkan pengetahuan yang dipahami secara beragam. Menurutnya, pengetahuan akademik bukan satu-satunya sumber pengetahuan yang sah.
“Pengetahuan yang dihasilkan di universitas adalah salah satunya, tetapi bukan satu-satunya. Pengetahuan dari komunitas petani lokal, masyarakat adat, dan gerakan sosial petani juga sangat penting,” ujarnya.
Borras menegaskan tidak ada hierarki nilai antara pengetahuan akademik dan pengetahuan yang lahir dari gerakan sosial. Keduanya berbeda, tetapi memiliki nilai yang setara dalam mendorong perubahan masyarakat.
“Inilah motivasi utama kami menulis buku-buku ini, untuk menyoroti pentingnya gerakan sosial dalam menghasilkan pengetahuan yang dapat mengubah masyarakat menjadi lebih baik,” katanya.
Ia menambahkan, perjuangan agraria ke depan akan semakin krusial karena berkaitan langsung dengan penguasaan tanah, air, hutan, laut, dan sumber daya alam lainnya. Menurutnya, berbagai kepentingan global, mulai dari pangan, perubahan iklim, hingga energi terbarukan, menjadikan isu agraria kian strategis.
Sementara itu, Ben White menjelaskan bahwa buku Pertanian dan Masalah Generasi lahir dari pengalamannya mengajar studi pedesaan dan studi kepemudaan. Buku tersebut menggabungkan dua perspektif untuk memahami tantangan generasi muda desa yang ingin bertani.
“Sebagian besar generasi muda pedesaan berada dalam posisi tidak bertanah. Bahkan ketika orang tua mereka memiliki tanah, mereka harus menunggu hingga usia 40 atau 50 tahun untuk berharap mendapat warisan,” jelasnya.
Ben mengingatkan agar masyarakat tidak terjebak pada asumsi terhadap generasi muda. Ia menekankan pentingnya mendengarkan suara dan aspirasi mereka sebagai subjek pembangunan.
Ketua Umum SPI sekaligus pembahas, Henry Saragih, menilai buku-buku tersebut sebagai pintu masuk penting untuk memahami perjuangan agraria secara lebih luas.
“Buku ini sangat lengkap sebagai pengantar. Tidak semua detail perjuangan agraria ada di dalamnya, tetapi buku ini menghantarkan pembaca untuk tertarik mendalami isu agraria,” ujarnya.
Henry juga menyoroti bagaimana buku ini membantu menjelaskan kemunculan dan penguatan gerakan petani di tingkat internasional sejak dekade 1990-an. Menurutnya, buku tersebut membuka pemahaman tentang solidaritas lintas negara di kalangan petani.
Peluncuran dan diskusi tiga buku agraria ini diharapkan dapat memperluas jangkauan pembaca, khususnya petani, masyarakat desa dan pesisir, serta generasi muda. Kehadiran versi terjemahan bahasa Indonesia dan akses buku yang dibuka secara gratis dinilai penting untuk mendekatkan literatur agraria dengan masyarakat akar rumput.