Nasional

Stasiun Bekasi Timur Kembali Aktif, Gerbong Khusus Perempuan Lebih Sepi Dari Biasanya

Kamis, 30 April 2026 | 07:00 WIB

Stasiun Bekasi Timur Kembali Aktif, Gerbong Khusus Perempuan Lebih Sepi Dari Biasanya

Stasiun Bekasi Timur, Rabu (29/4/2026). (Foto: NU Online/Jannah)

Bekasi, NU Online

Stasiun Bekasi Timur kembali aktif beroperasi pada siang hari ini dengan kecepatan yang lebih rendah dari biasanya. Selama dua hari stasiun tersebut dinonaktifkan karena menjadi lokasi kecelakaan antara KA Agro Bromo Anggrek dengan KRL lintas Cikarang pada Senin (27/4/2026) malam yang mengakibatkan 16 jiwa meninggal dunia dan 90 korban luka-luka.


Pantauan NU Online pada Rabu (29/4/2026) sejak pukul 17.30 WIB, gerbong khusus perempuan di bagian depan tampak lebih sepi dari biasanya. Perempuan pengguna KRL memilih menggunakan gerbong di bagian tengah yang bercampur dengan laki-laki pengguna KRL.


Sarah (32), salah satu pengguna KRL, yang bekerja di daerah Sudirman mengungkapkan masih ada rasa khawatir dan trauma saat memilih gerbong khusus perempuan setelah terjadi kecelakaan pada Senin lalu.


“Jujur, masih khawatir dan trauma sekali memilih gerbong wanita, apalagi korban meninggalnya semua wanita dan mayoritas wanita yang jadi korban,” ujarnya kepada NU Online, Rabu (29/4/2026).


Ia memilih gerbong khusus untuk perempuan karena kursi dan ruang yang lebih longgar. “Saya cari yang bisa duduk aja sebenernya walau masih agak takut juga,” ucapnya.


Sarah yang hendak turun di Stasiun Cibitung menyampaikan pada Selasa (28/4/2026) terpaksa berangkat dari Stasiun Cibitung dan turun di Stasiun Tambun. Kemudian, ia melanjutkan perjalanannya dengan menggunakan Bus Transjakarta (TJ) hingga Stasiun Bekasi karena jalur hulu ke arah Jakarta belum bisa dilalui.


“Sebenarnya lumayan ribet ya, dari (stasiun) Cibitung ke (stasiun) Tambun, lalu naik TJ, baru naik kereta di (stasiun) Bekasi,” tuturnya.


Ia yang berangkat pada pukul 07.30 WIB menyampaikan bahwa suasananya di Stasiun Bekasi saat itu sangat ramai, bahkan banyak pengguna yang tidak mendapatkan kereta.


“Jadi numpuk banget, saya tidak kebagian kereta, baru dapat di kereta selanjutnya,” kata Sarah.

Kondisi bangkai KRL yang ditutupi terpal pada Rabu (29/4/2026). (Foto: NU Online/Jannah)


Kondisi bangkai KRL

Pantauan NU Online pada pukul 18.00 WIB di lokasi menunjukkan sisa bangkai gerbong khusus perempuan tersebut diletakkan di pinggir rel, di atas saluran air. Gerbong tersebut tertutup terpal berwarna abu-abu dan biru yang diikat menggunakan tali berwarna putih.


Sementara itu, sisa-sisa patahan gerbong juga masih terlihat di stasiun, seperti patahan AC yang menempel di atas gerbong hingga kepingan-kepingan bagian lainnya. Untuk membatasi gerbong tersebut dengan rel, terdapat beberapa bilah bambu yang ditancapkan sebagai penahan. Terpasang pula garis kuning atau police line sebagai penanda agar tidak sembarang orang dapat menjangkau gerbong KRL tersebut.