Nasional

Tarhib Ramadhan, Gus Rifqil Soroti Fenomena Eksistensi Digital hingga Budaya Bukber

Ahad, 15 Februari 2026 | 15:00 WIB

Tarhib Ramadhan, Gus Rifqil Soroti Fenomena Eksistensi Digital hingga Budaya Bukber

Gus Rifqil Muslim. (Foto: Instagram pribadi)

Jakarta, NU Online

Pengasuh Pesantren Manba’ul Hikmah Kaliwungu Kendal Gus H Rifqil Muslim Suyuthi menyoroti sejumlah fenomena yang kerap muncul setiap Ramadhan, mulai dari eksistensi digital di media sosial hingga budaya buka bersama (bukber) yang berpotensi melalaikan ibadah.


Hal itu ia sampaikan secara daring dalam kegiatan Tarhib Ramadhan bersama Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Amerika Serikat-Kanada, pada Ahad (15/2/2026).


Dalam kesempatan tersebut, ia mengingatkan bahwa Ramadhan bukan sekadar agenda tahunan yang datang dan pergi tanpa makna, melainkan momentum untuk kembali kepada Allah dan meningkatkan kualitas iman.


“Ini bisa dibuktikan dengan apa? Dari keimanan yang bertambah. Jadi setelah Ramadhan, apakah ibadahnya semakin baik? Ibadah sunnahnya bertambah? Sedekahnya meningkat? Kalau setelah puasa justru ibadahnya tidak semakin baik, jangan-jangan puasa Ramadhan hanya mendapatkan lapar dan dahaga saja,” ujarnya.


Menurut Gus Rifqil, pertanyaan mendasar yang perlu diajukan setiap Muslim adalah apakah Ramadhan hanya mengubah jadwal makan, dari tiga kali sehari menjadi dua kali, sahur dan berbuka?


Ia kemudian mengajak umat Islam untuk memastikan bahwa ibadah puasa dijalankan dengan sungguh-sungguh dan berdampak pada perubahan pola hidup, bukan sekadar perubahan pola makan.


“Kita berpuasa itu bisa merasakan penderitaan orang. 'Oh ternyata lapar tuh seperti ini'. 'Oh dengan kita merasakan ini bisa lebih berhati-hati dengan fakir miskin', salah satunya itu,” ujarnya.


Di era media sosial, Gus Rifqil mengamati kecenderungan sebagian orang menjadikan Ramadhan sebagai ajang eksistensi digital. Ia menyinggung kebiasaan mengunggah status, antara lain 'Alhamdulillah hari ini one day one juz' atau 'Alhamdulillah selesai tarawih'.


“Tapi ketika kita bisa benar-benar kembali dekat kepada Allah. Maka kita sebagai hamba, harapannya dengan adanya Ramadhan ini, kita menjadi hamba yang lebih tekun beribadah,” katanya.


Karena itu, ia mendorong umat Islam memperbanyak ibadah sunnah selama Ramadhan, antara lain shalat tarawih, memperbanyak doa saat Lailatul Qadar, dan tadarus Al-Qur’an.


“Ramadhan itu bulannya Al-Qur’an. Maka diupayakan kalau bisa minimal satu kali khatam dalam sebulan,” tuturnya.


Tips khatam Al-Qur’an

Gus Rifqil memberikan tips praktis bagi yang ingin mengkhatamkan Al-Qur’an minimal satu kali selama Ramadhan. Menurutnya, target satu juz per hari merupakan capaian yang realistis jika dibagi secara konsisten.


“Kalau mau khatam sekali, satu hari satu juz. Bisa. Wah, kalau satu juz sekali, sekali baca berat. Oke, sekarang shalat itu sehari lima waktu. Kira-kira satu juz itu, kira-kira dua puluhan halaman. Hampir sekitar itu. Maka dibagi saja. Sebelum shalat, kira-kira dua lembar, dua halaman. Setelah shalat kira-kira juga dua halaman tergantung satu juznya berapa. Sehari sudah dapat 20 halaman itu pas satu juz,” jelasnya.


Jika ingin dua kali khatam, maka porsinya tinggal ditingkatkan. Kuncinya adalah konsistensi dan pembagian waktu yang teratur. Ia menekankan bahwa ibadah tidak selalu terasa berat jika dikelola dengan strategi yang tepat.


“Sebagai hamba, harapannya agar Ramadhan ini menjadikan kita menjadi hamba yang lebih baik dalam beribadah,” ujarnya.


Gus Rifqil juga meluruskan pemahaman masyarakat terkait tradisi baju baru saat Idul Fitri. Ia menegaskan bahwa Rasulullah tidak pernah mewajibkan baju baru, melainkan menganjurkan memakai pakaian yang bersih.


“Bersih itu yang utama. Bukan harus baru,” katanya.


Fenomena belanja besar-besaran menjelang Lebaran, menurutnya, lebih banyak dipengaruhi budaya dan tren. Tidak ada perintah khusus untuk memperbanyak pengeluaran selama Ramadhan.


Ia mengingatkan agar lonjakan pengeluaran tidak mengganggu kekhusyukan ibadah. Semangat beribadah seharusnya meningkat, bukan justru terbebani persoalan finansial.


Budaya buka puasa berlebihan dan bukber

Gus Rifqil juga menyoroti budaya berbuka puasa di Indonesia yang kerap berlebihan. Ia mengingatkan bahwa secara syariat, berbuka cukup dengan air dan kurma, sebagaimana dicontohkan Rasulullah.


“Kadang kita sudah minum air putih, sudah hilang lapar. Tapi kalau belum makan nasi, dianggap belum buka,” ujarnya.


Ia menyarankan agar setelah takjil, umat Islam segera menunaikan shalat Maghrib sebelum makan besar, agar kewajiban tidak terabaikan.


Perhatian seriusnya juga tertuju pada fenomena buka bersama (bukber) yang sering berubah menjadi ajang reunian dan pamer, bahkan melalaikan salat.


“Yang bahaya itu kalau fokus ke makannya, tapi Maghribnya lewat. Jangankan tarawih, Maghrib saja tidak dikerjakan,” katanya.


Ia tidak melarang bukber, tapi menekankan pentingnya menjaga prioritas agar ibadah wajib tidak dikorbankan demi kebersamaan yang bersifat sosial.


Menjaga spirit pasca-Ramadhan

Dalam sesi tanya jawab, Annas Rolli Muchlisin, mahasiswa Indonesia yang tinggal di Boston, Amerika Serikat, menyampaikan kegelisahannya terkait menurunnya konsistensi ibadah setelah Ramadhan. Di awal dan akhir Ramadhan, kegiatan pengajian ramai, tapi pada bulan-bulan berikutnya jumlah peserta semakin berkurang.


Menanggapi hal itu, Gus Rifqil mengatakan bahwa fenomena tersebut juga terjadi di Indonesia yang mayoritas Muslim. Spirit Ramadhan memang tinggi, tetapi perlahan menurun seiring waktu.


“Memang seperti itu grafiknya. Awal Ramadhan tinggi, Syawal masih ada sisa semangatnya, tapi setelah itu turun lagi,” ujarnya.


Menurutnya, kunci menjaga konsistensi adalah membangun ekosistem dan lingkaran pergaulan (circle) yang positif.


“Kalau kita berkumpul dengan penjual minyak wangi, kita akan ikut wangi. Kalau berkumpul dengan orang yang kurang baik, berat sekali menjaga iman,” katanya.


Ia menekankan pentingnya membentuk komunitas rutin, baik secara luring maupun daring, khususnya bagi Muslim yang tinggal di negara minoritas. Kajian mingguan, tadarus bersama, atau agenda kebersamaan bernuansa ibadah dapat menjadi penguat iman.


“Sangat luar biasa perjuangan teman-teman di luar negeri. Maka perlu ditingkatkan dengan kegiatan yang memperkuat keimanan,” katanya.


Ia bahkan membuka kemungkinan membantu mengisi kajian daring jika jadwal memungkinkan. Baginya, menjaga semangat ibadah di negeri orang membutuhkan usaha kolektif.


“Kalau kita ada di circle positif, insya Allah iman kita lebih terjaga dibandingkan ketika sendirian,” tegasnya.


Keberhasilan Ramadhan, menurutnya, baru benar-benar terlihat setelah bulan tersebut berlalu. Apakah shalat tetap terjaga, sedekah tetap rutin, dan Al-Qur’an tetap dibaca.


Jika jawabannya iya, maka Ramadhan benar-benar berhasil. Namun jika semuanya kembali seperti semula, maka perlu evaluasi mendalam.


“Maka jangan sampai Ramadhan yang akan datang hanya menjadi rutinitas. Maka jadikan Ramadhan sebagai tempat istirahat hati, tempat menangis di hadapan Allah dan tempat memperbaiki arah hidup,” pesannya.


“Maka kalau dunia membuatmu lelah, jangan cari pelarian, carilah Allah. Karena Ramadhan bukan sekedar bulan ibadah, ia adalah undangan cinta dari langit untuk kembali pulang,” pungkasnya.