Opini

Bagaimana Memahami Isra Mi’raj dalam Dunia Kekinian?

Jumat, 16 Januari 2026 | 18:41 WIB

Bagaimana Memahami Isra Mi’raj dalam Dunia Kekinian?

Ilustrasi Isra Miraj (Foto: Istimewa)

Hari ini 16 Januari 2025, bertepatan dengan 27 Rajab 1447 Hijriah, adalah hari libur nasional keagamaan. Saban tahun, kita merayakan Isra Mi’raj di pelbagai masjid dan tempat pengajian lainnya sebagai momen spiritual paling monumental dalam Islam, yaitu perjalanan Nabi Muhammad dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, lalu mi’raj menembus lapis-lapis langit untuk menerima perintah shalat. Bahkan, di Tanah Air Indonesia telah menetapkannya sebagai hari libur bersama agar umat Muslim bisa merayakannya dengan jeda sejenak, tanpa disibukkan dengan pekerjaan-pekerjaan, terutama di sektor perkantoran.  


Pertanyaan penting yang dapat diajukan adalah bagaimana kita memaknai perayaan Isra Mi’raj?

 

Penulis berpandangan bahwa dalam trajektori sosiologis umat Islam, Isra Mi’raj acap berhenti pada perayaan ritual, dengan mengedepankan panggung ceramah, dekorasi masjid, dan juga nostalgia mukjizat. Namun, perayaan tersebut acap mengabaikan etos persaudaraan manusia (human fraternity) di tengah dunia yang semakin terfragmentasi dan terpolarisasi. Tulisan ini akan mengulas makna Isra Mi’raj sebagai idealitas perwujudan persaudaraan manusia.


Secara kesejarahan Islam, Isra Mi’raj terjadi di saat Nabi Muhammad mengalami tekanan psikologis dan politik yang hebat: wafatnya istri tercinta Khadijah dan paman yang peduli  Abu Thalib, embargo ekonomi suku Quraisy, dan penolakan warga Thaif. Sebuah fase yang dalam literatur Islam dikenal sebagai ‘Aam al-Huzn (tahun kesedihan).

 

Dalam konteks tersebut, Isra Mi’raj mesti dimaknai bukan sekadar mukjizat vertikal, tetapi terapi kosmik yang melahirkan mandat sosial: bagaimana manusia menyambung tali hubungan ilahiah dengan Tuhan (hablun minallah) yang berimplikasi pada tersambungnya tali hubungan persaudaraan kemanusiaan (hablun minan nas).


Dimensi Isra juga menawarkan ide tentang persaudaraan manusia yang kuat. Perjalanan dari Mekah ke Jerusalem merupakan isyarat geopolitik bahwa Islam mengafirmasi sejarah dan peradaban Yahudi dan Kristen, yang berakar tunjang di tanah suci itu. Karenanya, persinggahan Nabi di Masjidil Aqsa adalah deklarasi bahwa Islam bukan agama yang lahir dalam ruang kosong sejarah, tetapi berada dalam dialog panjang agama-agama Abrahamik. Singktanya, Islam, Yahudi dan Kristen terlahir dari kantong spiritual yang sama.


Dari perspektif persaudaraan manusia, ini membuka horizon solidaritas lintas identitas agama. Masjidil Aqsa adalah simbol perjumpaan, bukan sentimen eksklusif. Ironisnya, di era modern, narasi Aqsa justru sering dipersempit menjadi retorika kemarahan, yang diperebutkan dengan simbahan darah, tanpa agenda kemanusiaan yang inklusif. Padahal, pesan terbesarnya adalah pengakuan terhadap sejarah bersama dan panggilan untuk perdamaian, bukan perpecahan dan permusuhan.


Sementara itu, mi’raj, sejatinya, menghadirkan shalat sebagai titah langsung dari Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW tanpa perantara. Banyak ulama Islam telah menafsirkannya sebagai indikasi bahwa ritual peribadahan adalah konstruksi etis, bukan sekadar ritus teknis. Shalat bertujuan menyatukan manusia dalam barisan yang egaliter. Tidak ada kasta, kelas, ras, jabatan, atau kapital.

 

Dalam barisan itu, presiden berdiri sejajar dengan rakyat, profesor sama kedudukannya dengan tukang ojek, pejabat berdampingan dengan petani. Semua sederajat dalam hal pelaksanaan ibadah.


Namun, dalam lapangan kemanusiaan, model kesetaraan ini tidak terejawantahkan dengan dunia sekarang yang ditandai ketimpangan sosial, jurang menganga antara kaya dan miskin dan kapitalisme yang memangsa. Ketika masjid memisahkan barisan VIP dan barisan umum, ketika ulama dipandang lebih manusiawi dibanding jamaah, kita diam-diam telah memutilasi makna mi’raj, yang terjebak dari teologi moral menjadi sekadar upacara simbolik.


Bagaimana memahami Isra Mi’raj dalam dunia kekinian?

 

Jika kita ejawantahkan Isra Mi’raj ke ruang sosial kontemporer, maka inti pesan yang paling relevan adalah menegakkan demokrasi moral. Mi’raj meletakkan Tuhan sebagai pusat otoritas moral, dan manusia sebagai subjek yang bertanggung jawab membangun tatanan sosial keteraturan (social order) yang berkeadilan. Nilai mi’raj bukan menguatkan elitisme religius, tetapi justru mencairkan hierarki-hierarki palsu yang lahir dari kekuasaan, kekayaan, atau fanatisme kelompok.


Dalam konteks Indonesia, pemaknaan ini penting ketika kita menyaksikan tumbuhnya segregasi keagamaan, polarisasi politik identitas, dan ujaran kebencian atas nama kebenaran. Mi’raj terbit mengajari bahwa kebenaran tidak boleh menjadi alat dominasi. Islam tidak datang untuk membangun tembok sektarian, tetapi jembatan kemanusiaan. Islam yang menjadi berkah bagi semesta.


Sepulang dari mi’raj, Nabi tidak berubah menjadi figur yang menjauhi manusia demi mengejar spiritualitas personal. Sebaliknya, ia kembali ke pasar, ke jalan, ke medan sosial yang penuh konflik. Etika perjumpaan itu merupakan inti persaudaraan manusia dengan bersikap tidak menutup diri, tidak mendewakan kesalehan individual, dan tidak memusuhi mereka yang berbeda agama.


Pemaknaan Mi’raj sebagai perayaan kemanusiaan universal berfungsi sebagai kritik bagi gaya keberagamaan modern yang sibuk membangun tembok identitas, tetapi lupa membangun relasi kemanusiaan yang plural. Kita acap gelisah ketika masjid kosong, tetapi tenang ketika masyarakat saling memaki di ruang media sosial. Kita bangga jumlah jamaah membludak dan semakin banyak yang gemar umrah di Baitullah, tetapi acap kita tidak risau jumlah orang miskin, disabilitas, dan minoritas yang tak pernah masuk dalam radar kebijakan publik. Mereka terpinggirkan ke sudut peradaban dan acap terlupakan.


Lebih jauh makna Isra Mi’raj bagi persaudaraan manusia setidaknya dapat dirumuskan dalam tiga etos: Pertama, kesetaraan ruang publik, yaitu masjid, sekolah, dan negara harus menjadi ruang yang tidak memproduksi kasta sosial ataupun kasta religius. Kedua, solidaritas lintas iman dan identitas, yaitu Merawat Masjidil Aqsa berarti merawat sejarah bersama tradisi Abrahamik lain dan menghindari eksklusivisme sektarian. Ketiga, demokrasi moral, yaitu menyalakan spirit Mi’raj melawan tirani moral yang memaksa, sekaligus melawan tirani ekonomi yang menindas.


Pungkasannya, Isra Mi’raj bukan kisah pelarian Nabi ke langit untuk mengglorifikasi mukjizat, tetapi kembalinya Nabi ke bumi dengan memanggul mandat untuk memanusiakan manusia. Umat yang merayakannya tanpa agenda memajukan persaudaraan manusia hanyalah umat yang mengulang-ulang seremonial, bukan merayakan substansi. Mari memaknai Isra Mi’raj sebagai sarana menyalakan api persaudaraan manusia guna membakar fanatisme keagamaan yang menggugulkan satu-satunya kebenaran spiritual.


Ridwan al-Makassary, Dosen di Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII) dan Direktur Center of Muslim Politics and World Society (COMPOSE) UIII