Gayo yang Berubah: Catatan Relawan NU di Tengah Bencana Aceh
Senin, 5 Januari 2026 | 22:21 WIB
“Orang Gayo sudah beragama Mohammadan dan menjadi kawula setia para Raja Aceh. Saat itu telah ada ada tujuh orang Batak, yang disebut Lebe Kader, yang bepergian melalui tanah Alas dan tanah Gayo ke Aceh untuk mendapatkan pengajaran agama Mohammadan” (C. Snouck Hurgronje, Het Gajoland en zijne bewoners (Tanah Gayo dan Penduduknya, 1906/1996).
Tak pelak apa yang disebut dengan agama Mohammadan adalah agama Islam yang saat Snouck Hurgronje menuliskan buku tersebut, Aceh sedang berada di dalam kolonial Belanda. Meskipun dalam karya itu Hurgronje menganggap bahwa orang Gayo memiliki kemiripan dengan orang Batak, agama masyarakat Gayo sebagian besar adalah Islam.
Hurgronje telah melihat bahwa pada saat itu pun masyarakat Gayo, baik Gayo Dorot (Deret) hingga Gayo Luos (Lues) telah memiliki hubungan dengan Aceh pesisir yang menguasai kerajaan. Mereka memiliki kepatuhan yang tinggi, tidak memberontak terhadap masyarakat Aceh pesisir yang telah lebih dulu memeluk Islam.
Meskipun telah ada pembauran dengan masyarakat Batak di Tanah Gayo, tidak menghilangkan semangat multikultural masyarakat Gayo yang terbiasa berjumpa dengan “orang asing” atau non-Muslim. Mereka bersikap bersahabat dan terbuka dengan siapa saja.
Endapan sejarah ini masih dirasakan hingga sekarang. Untuk hal ini mereka agak berbeda dengan masyarakat Aceh pesisir yang lebih fanatik dan eksklusif. Islam keras masyarakat Aceh adalah dampak pengalaman perang melawan kolonial Belanda, kemudian hari “melawan” Pemerintah Jakarta melalui gerakan DI/TII.
Bahkan sebelum terbukanya jalur perjalanan melalui Simpang KKA, yang baru dibuka selama 10 tahun terakhir, masyarakat Gayo biasa melakukan perjalanan darat ke wilayah Bireuen melalui jalan Juli. Namun catatan Snouck Hurgronje menyebut ada jalur lain yang juga digunakan untuk menuju pusat tanah Gayo, Takengon.
“Dari batas timur Peudada sampai Lhokseumawe orang menempuh jalan lain menuju Blang Rakal. Dari Peusangan ada dua jalan setapak yang berlaku sebagai jalan menuju Tanah Gayo. Yang satu melalui Juli, dengan penanda balai Juli sebagai kantor pabean Aceh, yang lain melalui Awe Geutah, yaitu kompleks yang telah direnggut dari kekuasaan para kepala Peusangan.”
Jalur ini di era Aceh modern jarang lagi digunakan, padahal jika memakai “peta” yang Snouck Hurgronje, jalan ini bisa menjadi alternatif lain ketika jalan melalui Simpang KKA dan Juli – Takengon putus akibat banjir dan longsor yang menimpa Aceh. Harusnya tetap ada banyak “jalur tikus” untuk menyelamatkan dataran Tinggi Gayo dari diskoneksi akibat banjir yang menyebabkan barang-barang pokok dan BBM melambung tinggi.
Tembus ke Bener Meriah dan Aceh Tengah
Ketika penulis membawa tim posko NU Peduli memberangkatkan bantuan menuju dataran tinggi Gayo pertama sekali pada 29 Desember 2025, penulis menggunakan informasi dari Komandan Batalyon Arhanud 5/CSBY, Letkol Febry Adiyanto, SH. Ia mengatakan bahwa jalan menuju Aceh Tengah melalui jalur Buntul (Bener Meriah) bisa dilewati dengan aman, ketika sebelumnya harus melalui jalur “buka-tutup” sehingga waktu tempuh menjadi lebih lama.
Garansi itulah yang mendorong kami nekat mengirimkan bantuan berupa sembako termasuk bantuan 200 kg beras dari Wali Kota Lhokseumawe dan pakaian pantas pakai yang telah disortir terlebih dahulu.
Perjalanan memang memakan waktu lebih lama dibandingkan biasanya. Jika di waktu normal perjalanan dari Lhokseumawe ke Takengon bisa ditempuh 2 hingga 2 jam 30 menit. Pada perjalanan saat itu waktu tempuh untuk mencapai Buntul saja memerlukan waktu hingga 3 jam. Mungkin waktu ini masih dianggap “normal” dibandingkan dengan aksi mahasiswa asal Gayo sebelumnya yang memerlukan waktu semalaman untuk bisa menuju Simpang Tiga Redelong yang menjadi ibukota Bener Meriah.
Bahkan ketika paket bantuan tiba di Aceh Tengah, setelah sempat nyasar dibawa ke Toweren, tim sudah tiba menjelang maghrib. Tgk Adi Risnha yang menjadi penanggung jawab Posko Peduli NU tetap menyambut tim dengan baik. Tim bantuan memang memutuskan kembali ke Lhokseumawe pada malam itu. Perjalanan malam itu terasa sangat panjang, karena harus menunggu hingga sembilan jam sebelum semua tim tiba dengan selamat!
Perjalanan kedua penulis dan tim membawa paket donasi dari Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) – LAZISNU memang memberikan pengalaman langsung yang belum ada sebelumnya. Perjalanan dari Simpang KKA hingga Gunung Salak, Aceh Utara berlangsung cukup lancar, tapi longsoran kiri-kanan telah terlihat memerihkan hati.
Ketika memasuki Kabupaten Bener Meriah, pengalaman kerusakan lingkungan akibat longsoran bukit begitu beraneka rupa. Bahkan terbentuknya banyak “aliran sungai” baru memang memberikan keyakinan bahwa bencana ini memerlukan waktu tahunan untuk kembali pulih. Ketika penulis istirahat di Buntul, seorang pedagang mengatakan bahwa pohon-pohon yang tumbuh di bukit-bukit telah ditebang demi pembukaan lahan perkebunan baru.
“Kita tahu polisi ada, tentara dan polisi hutan ada, tapi semua diam saja melihat penebangan pohon. Keuchiek (kepala desa) juga tidak dapat berbuat apa-apa akibat tindakan masyarakat yang mengambil jalan mempertahankan hidup dengan membuka lahan perkebunan,” ungkapnya lirih.
Memang selama ini daerah Bener Meriah – Aceh Tengah selain menjadi penghasil kopi terbaik di dunia – juga penghasil markisa, wortel, kol, labu siam, tomat, hingga cabai dengan kualitas tiada dua. Ketika terjadi paceklik harga cabai merah di pesisir timur Aceh yang harganya mencapai Rp200-250 ribu sekilogram, para petani asal Gayolah yang menjaga stabilitas harga sehingga tidak dipermainkan oleh para spekulan Aceh. Bahkan akibat melimpah-ruah cabai di tanah Gayo, influencer Ferry Irwandi sampai memborong berton-ton cabai dan dibawa ke Jakarta dengan pesawat Hercules.
Gayo Habis
Pemandangan di dataran tinggi Gayo memang berbeda dengan pengalaman banjir di Lhokseumawe, Aceh Utara, Aceh Timur, Langsa, dan Aceh Tamiang. Daerah Bener Meriah – Aceh Tengah sempat lama sekali terisolasi baik dari arah Bireuen dan Lhokseumawe.
Ketika jalur terbuka dan para penyaksi dan relawan memilih memasuki daerah ini, pengalaman memperlihatkan longsoran hampir merata di setiap bukit sehingga mengubah kontur dan topografi wilayah kabupaten pemekaran ini. Kecamatan seperti Pinte Rime Gayo, Gajah Putih, Mesidah, Syiah Utama, dan Permata telah remuk-redam berubah bentuk dan menjadi sulit dikenali lagi. Jalan penghubung yang selama ini menjadi wahana wisata ke Aceh Tengah pasti melewati Bener Meriah, kini telah berarak jalan terputus, sulit ditembus akibat batu gunung terlempar tak beraturan.
Rusaknya akses Bener Meriah jelas memengaruhi ekosistem pariwisata yang telah hidup selama ini di Tanah Gayo melalui pembangunan hotel, vila, dan hostel. 46 ribu penduduk Bener Meriah yang menjadi korban jelas tidak bisa berbuat apa-apa di tengah kehancuran yang cukup kompleks ini.
Jika mahaduka ini hanya ditangani oleh pemerintah daerah, diperlukan setengah abad untuk rehabilitasi dan rekonstruksi, termasuk relokasi. Beruntugnya sumber air berlimpah dan cuaca bersahabat melingkupi dataran yang terentang ketinggian antara 900 m – 1700 m di atas permukaan laut tersebut. Ini pula yang menjadi ciri hidupnya sektor perkebunan dan pertanian basah di daerah ini yang menjadi penopang gizi nabati masyarakat Aceh pesisir.
Mungkin saatnya LAZISNU – PBNU datang dan memilih lokasi untuk membangun percontohan kampung yang bisa menggemburkan tradisi Nahdliyin di daerah yang multikultural ini. Meskipun hancur, Aceh membantu daerah yang tengah mengalami ketersisihan akses dari pusat ekonomi-politik utama. Di samping alamnya yang ramah dan perlu dijaga dari eksploitasi hutan, tari Saman, Didong, Guel, dan Bines adalah dimensi auratik budaya Gayo yang patut dilestarikan Republik ini sebagai imajinasi kebangsaan yang perlu dijaga bersama.
Teuku Kemal Fasya, Ketua Posko NU Peduli Bencana Aceh. Dosen Universitas Malikussaleh, Lhokseumawe.