Nahdlatul Ulama dan Persaudaraan Manusia di Dunia yang Terbelah
Rabu, 4 Februari 2026 | 16:00 WIB
Dunia sedang bergerak dalam irama yang menghentak keras dan menghardik kemanusiaan tanpa ampun. Perang bersenjata, krisis pengungsi, politik identitas, dan kebencian berbasis agama sedang mendominasi lanskap global, dari Gaza, Ukraina, penculikan Presiden Venezuela, krisis Iran hingga berbagai gejolak kawasan di Dunial Selatan (Global South).
Di tengah situasi ini, gagasan human fraternity (persaudaraan manusia) acap dirujuk, tetapi jauh dari diperjuangkan. Ia acap berhenti sebagai bahasa moral yang indah, namun, kehilangan keberanian politik dan sosial. Padahal, persaudaraan manusia hanya bermakna jika ia dihidupi oleh aktor-aktor yang konsisten dan berakar kuat dalam praksis. Pada perayaan hari persaudaraan manusia internasional pekan ini, penulis mengulas peran Nahdlatul Ulama (NU) dalam mewujudkan persaudaraan manusia universal.
NU, sejatinya, tumbuh dari tradisi Islam yang menekankan agama sebagai sumber etika sosial. Prinsip rahmatan lil ‘alamin bukan sekadar sebagai klaim teologis, melainkan sebagai bentuk tanggung jawab moral untuk menjaga martabat manusia. Dalam tradisi NU, keberagamaan tidak diukur dari ketegasan identitas, melainkan bagaimana agama mampu melindungi kehidupan, mengurangi penderitaan, dan membangun keadilan sosial. Perspektif ini menjadi penting ketika agama, di banyak tempat, justru direduksi menjadi alat pembenaran kekerasan dan eksklusi, terutama oleh kelompok mayoritas terhadap minoritas.
Kerangka ukhuwah yang dikembangkan NU, yang terdiri dari ukhuwah Islamiyah, ukhuwah wathaniyah, dan ukhuwah basyariyah, menunjukkan kesinambungan antara iman, kebangsaan, dan kemanusiaan universal. Ukhuwah basyariyah menegaskan bahwa martabat manusia tidak bergantung pada perbedaan agama, etnis, atau kewarganegaraan. Dalam dunia global yang semakin terpolarisasi oleh logika “kami” dan “mereka”, pandangan ini menawarkan koreksi etis yang mendasar: bahwa perbedaan adalah fakta sosial yang harus dikelola dengan empati, bukan senjata untuk meniadakan hak hidup pihak lain.
Komitmen kemanusiaan tersebut menemukan ekspresi nyatanya dalam praktik dialog antariman (interfaith dialogue) yang dikembangkan NU. Dialog tidak dipahami sebagai pertemuan seremonial antar elite agama, tetapi sebagai proses membangun kepercayaan sosial. NU mempraktikkan dialog kehidupan sebagai kerja dengan hidup berdampingan, saling melindungi, dan bekerja sama lintas iman dalam merespons persoalan kemanusiaan. Dengan cara ini, dialog menjadi sarana merawat kemanusiaan bersama, bukan sekadar simbol toleransi.
Dalam lanskap global, NU telah menyebarkan suara moderasi dan perdamaian melalui berbagai kegiatan diplomatik internasional. Misalnya, forum Religious Twenty (R20) di Indonesia sebagai contoh upaya NU dalam mewujudkan dialog lintas agama untuk pembangunan perdamaian dunia. Saya berpandangan bahwa R20, untuk beberapa derajat, telah berhasil membawa paradigma dialog antaragama untuk pembangunan perdamaian dan potensi dampaknya terhadap resolusi konflik global. Kegiatan-kegiatan serupa banyak dilakukan oleh jaringan organisasi dan aktivis-aktivis NU yang bergerak di bidang dialog antar iman.
Pendekatan NU ini sejalan dengan semangat global yang termaktub dalam Dokumen Abu Dhabi tentang Persaudaraan Manusia (2019), yang menyerukan agar agama kembali menjadi jembatan perdamaian, bukan tembok penghalang. Namun, kekuatan NU terletak pada konsistensinya di tingkat akar rumput. Apa yang sering dibicarakan di forum global telah lama menjadi bagian dari pengalaman sosial NU di Indonesia, pada tingkat masyarakat majemuk yang rawan gesekan, tetapi juga kaya praktik ko-eksistensi damai. Di sini, persaudaraan manusia tidak hadir sebagai proyek abstrak, melainkan sebagai hasil dari kerja sosial dan etika keagamaan yang panjang.
Dalam konteks global yang lebih luas, NU juga tampil sebagai suara moral dari dunia Muslim Global South. Tanpa retorika konfrontatif, NU mengingatkan bahwa tatanan dunia hari ini masih sarat ketimpangan, di mana sebagian penderitaan lebih mudah diabaikan karena faktor geopolitik dan identitas. Oleh karena itu, persaudaraan manusia tidak bisa dipisahkan dari keadilan global. Perdamaian yang mengabaikan korban, baik akibat perang, migrasi paksa, maupun kemiskinan struktural, hanyalah ketenangan semu yang rapuh.
Sebagai aktor masyarakat sipil keagamaan, NU menunjukkan bahwa agama dapat berperan dalam membentuk norma global yang lebih manusiawi. Ketika negara acap terjebak pada kepentingan sempit, suara etis dari komunitas keagamaan menjadi penyeimbang yang penting. NU mengajukan pesan yang sederhana namun mendalam, yaitu agama seharusnya memperluas empati, bukan memperdalam polarisasi; merawat kehidupan, bukan membenarkan kekerasan.
Tantangan ke depan tentu tidak ringan. Populisme agama, disinformasi digital, dan radikalisme agama, politik identitas terus menggerus kerja panjang persaudaraan. NU dituntut untuk menerjemahkan nilai-nilai Islam moderat ke dalam bahasa global yang relevan bagi generasi baru. Persaudaraan manusia harus terus diperjuangkan sebagai jawaban etis atas persoalan nyata dunia, meliputi perang, krisis pengungsi, ketimpangan ekonomi, dan krisis iklim.
Pungkasannya, peran NU dalam persaudaraan manusia menyampaikan satu pesan penting bagi dunia, yaitu iman dan kemanusiaan bukan dua kutub yang diametral dan saling meniadakan. Justru, di saat dunia terbelah oleh kekerasan, kebencian dan angkara murka, masa depan planet bumi ditentukan oleh mereka yang paling setia menjaga martabat manusia tanpa syarat, tanpa sekat, dan tanpa menunggu dunia menjadi adil terlebih dahulu. Dunia memerlukan pendekatan yang lebih liberal dengan menekankan Kerjasama dan diplomasi, tinimbang mengejar kekuasaan dengan kekuatan militer.
Ridwan al-Makassary, Dosen di Jurusan Ilmu Politik, Fakultas Ilmu-Ilmu Sosial Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII) dan Direktur Center of Muslim Politics and World Society (COMPOSE) UIII.