8 Guru Aceh Belajar Kitab Kuning di Pesantren Cipasung
Selasa, 22 September 2015 | 13:01 WIB
Tasikmalaya, NU Online
Delapan guru asal Banda Aceh mempelajari cara membaca dan memahami kitab kuning di pondok pesantren Cipasung, Tasikmalaya, Jawa Barat. Mereka diutus pemerintah Aceh di pesantren yang didirikan al-maghfurullah KH Ruhiat tersebut, selama sebulan.
<>
Para guru tersebut berasal dari 4 pesantren, yaitu Manarul Islam Kabupaten Aceh Tamiang diwakili Tengku Muhadir Al-Bambiyi dan Eva Solina. Kedua, Darul Amin Kabupaten Aceh Tenggara diwakili Arifin dan Nurliana. Ketiga dari Minhajus Salam Kabupaten Subulus Salam diwakili Romi Efendi dan Jamadin. Keempat dari Syafinatus Salamah Kabupaten Aceh Singkil diwakili Hashruddin dan Muhibuddin.
Menurut salah seorang peserta, Eva Solina, mereka tiba di Pondok Pesantren Cipasung pada Sabtu malam(12/9). Mereka ditempatkan di wisma Pondok Pesantren Cipasung.
Eva menambahkan, ia dan teman-temannya diajarkan membaca kitab kuning dengan metode kitab Amtsilati karya kiai muda asal Bangsri, Jepara, KH. Taufiqul Hakim. “Amtsilati merupakan metode pembelajaran kitab kuning secara cepat, tepat, dan mengasyikan. Terinspirasi dari metode belajar cepat membaca Al-Quran, yakni ”Qiro’ati,” katanya.
Selama di Cipasung, mereka akan didampingi sekaligus dibimbing dua ustadz, yaitu Asep Nursyamsi dan Hilmi. Jadwal mengaji pagi oleh Ustadz Hilmi dan Ustadz Asep pada sore serta malam harinya.
Masih menurut Eva, mereka sangat tertarik untuk mempelajari kitab Amtsilati karena selain mudah difahami, metode yang ditawarkan pun praktis. Sehingga akan membuka jalan bagi para pemula yang selama ini merasa kesulitan dalam mempelajari ilmu alat (nahwu dan sharaf).
Setelah program itu selesai, mereka akan langsung memberlakukan pembelajaran Amtsilati di kota serambi mekah tersebut. “Di Aceh belum ada. Untungnya ada Cipasung yang bersedia untuk mengajari kami membaca kitab kuning dengan metode Amtsilati ini,” ungkap Eva dengan logat Acehnya.
Salah seorang utusan dari Pondok Pesantren Minhajus Salam, Romi Efendi mengaku, ke Cipasung menjadi tempat pembelajarannya karena pemerintah sudah memprogrammkannya. “Kami hanya mengikuti saja,” pungkasnya. (Zulfatul Fuadiyah/Abdullah Alawi)