Warta

Fatayat Harus Bentengi Keluarga dari ”Bongkar Pasang”

Selasa, 9 Juni 2009 | 03:06 WIB

Kota Tegal, NU Online
Fatayat Nahdlatul Ulama (NU) sebagai organisasi sayap dari NU dalam yang anggotanya terdiri atas ibu-ibu muda harus menjadi teladan dalam membentengi keluarga dari pengaruh global.

Fatayat yang akan mengadakan peringatan hari lahir (Harlah) ke-59 harus mampu menjadi pelopor keluarga yang sakinah mawadah warohmah, dan menghindarkan perilaku menyimpang seperti 'bongkar pasang' pasangan hidup akibat sentilan memori cinta lama dan pengaruh lingkungan sekitar.<>

“Ibu-ibu muda sekarang, banyak yang mempermainkan keluarga sebagai ajang 'percobaan' perkawinan,” kata Ketua Pengurus Cabang Fatayat Kota Tegal Dra Siti Mudrikah, saat bincang-bincang dengan NU Online di gedung KPUD Kota Tegal Senin (8/6).

Menurutnya, fenomena 'bongkar pasang' ini akibat tidak memaknai inti dari perkawinan itu sendiri. “Ibu muda itu, menyadari akan status dan kodratnya sebagai seorang ibu,” lanjutnya.

Jangan sampai dengan dalih modernitas dan 'mumpung' masih muda  lalu melalaikan kodratinya. Justru dalam posisi muda itu, tentunya masih memiliki kekuatan prima dalam membimbing putra-putrinya. Dengan demikian tidak sampai terseret pada aqidah diluar Ahlusunnah Wal Jamaah.

“Sejak pertama kita memiliki anak, dituntun dari proses mengandung, melahirkan dan membesarkan dengan tradisi-tradisi NU. Jangan sampai dengan dalih modernitas kita 'singkirkan' tradisi Aswaja,” paparnya.

Fatayat, seharusnya tetap mentradisikan mitoni, aqiqah, walimah dan tradisi NU lainnya. “Acara ulang tahun anak diganti dengan 'selametan nasi kuning' misalnya, menjadikan sentuhan ibu-ibu muda ini bisa mempertahankan tradisi NU,” tutur Mudrikah yang juga angota Divisi Organisasi, Keuangan, logistik KPUD Kota Tegal itu.

Sementara Ketua PC Fatayat NU Kab Brebes Dra Farah Evi menyatakan, dalam peringatan Harlahnya tahun ini Fatayat harus mampu membangun kemandirian. “Setapak demi setapak, seyogyanya Fatayat harus mampu mandiri dari organisasi induknya, NU,” kata Sahabati Evi.

Kemandirian bisa dibangun, lanjutnya, bila para kader Fatayat memiliki basis ketrampilan yang memadai. Termasuk dalam tata kelola organisasi, ditangani oleh tangan-tangan profesional. Ketrampilan pribadi kader akan mendorong terciptanya kekuatan kemandirian organisasi menjadi lebih kokoh. 

Semisal dikembangkanya ekonomi keluarga dengan jalan koperasi. Kesehatan keluarga dengan klinik atau youth centre. Disamping itu, pendalaman aqidah dengan pengajian rutin jangan sampai ditinggalkan.

Sementara itu Ketua PC Fatayat Kabupaten Tegal Dra Hj Nurhasanah memandang peringatan hari lahir (harlah) ke-59 Fatayat bisa menjadi momentum semangat kebersamaan. Sebab, dalam berbagai hal perlu dilakukan dengan semangat kebersamaan.

“Yang namanya organisasi, ya harus ada unsur kerjasama untuk mencapai tujuan yang diharapkan,” ucapnya tegas.

Seperti dalam acara puncak Harlah Selasa (9/6) besok, PC Fatayat Kabupaten Tegal memasang bendera Fatayat sepanjang 10 Km di Jalur Pantura Kabupaten Tegal. Disamping itu, mengirim 60 kadernya untuk mengikuti kegiatan Harlah Nasional di Semarang yang dilanjutkan dengan Wisata Religi keberbagai Makam Walisanga di Jawa Tengah.

Ketua PW Fatayat NU Jateng Dra Hj Elfi Zahro Kasmawati, MM dihubungi melalui telepon selulernya mengatakan, peringatan puncak Harlah Nasional Fatayat ke-59 akan digelar Selasa (9/6) besok di Masjid Agung Jawa Tengah.

“Kami hanya sebagai panitia pelaksana saja, Mas. Seluruhnya menjadi kebijakan Panitia Pusat,” ujarnya.

Direncanakan, Ibu Ani Yudhoyono (Istri Presiden) akan membuka acara sekaligus memberikan pengarahan.

Ditanya, apakah ini sebagai pertanda Fatayat mendukung SBY-Boediyono dalam Pilpres mendatang? Elfi tidak mau berkomentar banyak. Dia menjelaskan, kalau Fatayat secara organisasi tetap netral. (was)


Terkait