Belum padunya gerak Nahdlatul Ulama (NU) dari tingkat pusat hingga tingkat ranting menjadi pembicaraan utama para kiai yang tergabung dalam Majma' al-Buhuts An-Nahdliyyah (forum diskusi ke-NU-an) yang Rabu (20/6) kemarin berkumpul di Pondok Pesantren Al Manshur, Popongan, Tegagondo, Wonosari, Kabupaten Klaten.
Kontributor NU Online Abdul Muiz melaporkan, acara silaturrahmi kiai dan bedah buku ”Negara Pancasila” karya As’ad Said Ali itu pun akhirnya membincang perkembangan NU terkini. Pasalnya, dalam pembahasan buku ini tidak terlepas adanya peran NU dalam kemerdekaan Republik Indonesia pada 1945.<>
DR KH Mustofa Bisri (Gus Mus), Mustasyar PBNU, yang menjadi salah satu panelis mengungkapkan, selama ini peran NU dalam pembangunan negara RI tak perlu diragukan. Akan tetapi kalau melihat kondisi ke dalam tubuh NU, siapapun tahu bahwa NU belum bisa satu komando. Sehingga wajar jika setiap ada perintah atau tausyiyah dari PBNU belum semuanya diikuti oleh pengurus di tingkat bawahnya.
Menurut Gus Mus, NU itu sudah sehat, akan tetapi belum sampai kepada taraf sehat wal afiat. Untuk hal itu menurutnya, perlu ada upaya yang serius dari para ulama dan kiai serta pengurus NU di semua tingkatan untuk menyehatkan kembali NU.
"Jika selama ini NU selalu berfungsi sebagai pemadam kebakaran, pendorong mobil mogok hingga sebagai satpam, ya jangan disalahkan NU-nya, karena NU tujuannya jelas".
Salah satu upaya menyehatkan NU, perlu ada keputusan tingkat nasional melalui Muktamar nanti, apakah NU akan tetap seperti sekarang, kembali ke partai politik seperti pada tahun 1952 atau di tingkatkan perannya agar NU memiliki 'taji'. ”Semuanya terserah muktamirin mendatang,” ujar Gus Mus yang baru saja mendapat gelar Doktor Honoris Causa pekan lalu.
"Percuma saja NU menggedor pemerintah, jika NU sendiri tidak sehat, karena NU tidak punya daya dobrak sama sekali. Padahal NU punya komitmen dan itu sudah dibuktikan sejarah tentang kesetiaan NU terhadap Indonesia," katanya.
Bedah buku "Negara Pancasila" semula akan menghadirkan panelis DR KH Sahal Mahfudz, DR KH Hasyim Muzadi. Akan tetapi hingga akhir acara yang bersangkutan tidak nampak. Sebagai gantinya, pihak panitia menyiapkan panelis Gus Mus, KH. Maemun Zubair sesepuh NU yang juga Ketua Majelis Pertimbangan Pusat DPP PPP dan Ketua Lakpesdam NU Jawa Timur Prof DR Kacung Marijan. (amz/nam)