Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kota Padang pada pemilihan presiden (pilpres) 8 Juli mendatang memberikan kebebasan kepada seluruh kadernya untuk menentukan pilihan capres dan cawapresnya. Karena itu, dipastikan tidak ada intervensi dari PMII untuk memilih capres-cawapres tertentu.
Demikian ditegaskan Ketua PMII Cabang Padang Firdaus kepada NU Online di Padang, Rabu (1/7). Menurut Firdaus, PMII merupakan organisasi pengkaderan yang mengusung nilai-nilai ahlussunnah waljamaah, bukanlah organisasi politik atau underbow dari partai politik tertentu. Bila ada orang yang mengatakan bahwa PMII ikut menyukseskan salah satu capres pada pilpres itu tidak benar dan dianggap sebagai pencemaran nama baik organisasi.<>
“Secara lembaga PMII kota padang sangat menjaga indenpendensinya menyongsong pilpres damai 2009 ini. Selaku Ketua PMII Kota Padang saya mengimbau seluruh kader yang tersebar di Kota Padang dan daerah Sumbar lainnya agar bersikap profesional dalam menghadapi pilpres kali ini,” kata Firdaus.
Menurut Firdaus, kader PMII jangan sampai golput (tidak menentukan hak pilihnya). Kami menghimpau kader PMII jangan mudah dipengaruhi oleh pihak-pihak yang berkepentingan untuk menyukseskan salah satu calon, karena itu akan menyebabkan pergeseran fungsi sosial dan orientasi dari warga pergerakan. Kita harus memperlihatkan netralitas kita pada masyarakat luas khususnya warga Kota Padang, sehingga kredibelitas PMII di tengah-tengah masyarakat tidak ternoda.
“Jika ada kader PMII yang ikut dalam salah satu tim sukses pemenangan capres itu terlepas dari wewenang dan tanggungjawab kepengurusan PMII. Sebagai warga Indonesia yang baik kita memang harus ikut menyukseskan pesta demokrasi nasional (pilpres), namun momen seperti ini harus digunakan oleh kader untuk memberikan pendidikan politik yang baik dan bijaksana pada masyarakat,” kata Firdaus.
Hal ini dapat dilakukan tidak hanya dengan bergabung dengan salah satu tim sukses dari pasangan capres, kita bisa melakukan sosialisasi Pemilu, melakukan roadshow dalam rangka menghimbau masyarakat agar menggunakan hak pilihnya secara profesional, dan program-program mendidik lainnya yang bermanfaat bagi masyarakat khususnya menghadapi pilpres kali ini.
Firdaus mengakui, kader memang dipersiapkan untuk menjadi pemimpin di masa depan. Mulai dari semenjak masih dibangku perkuliahan kader ditempa dengan ilmu pengetahuan, pengalaman dan wawasan, salah satunya dalam hal politik praktis. Tapi untuk terjun secara langsung dalam politik seorang kader membutuhkan waktu yang cukup lama agar mapan dan tidak sekedar ikut-ikutan dalam politik praktis tersebut nantinya, kata Firdaus. (arm)