Kerukunan antar umat beragama bukan hanya diperlukan untuk menghindari konflik. Kerukunan memiliki makna yang lebih luas, yaitu membangun modal sosial yang kuat untuk meraih kemajuan bersama sebagai suatu bangsa
Demikian dalam sambutan Menteri agama Muhammad Maftuh Basyuni pada pembukaan Dialog Pemuda Lintas Agama Tingkat Nasional 2009 di Asrama Haji Banjarbaru, Kalimantan Selatan, Selasa (30/6).<>
Menurut Menag, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) adalah harga mati yang harus dipertahankan serta tidak boleh diganggu dengan berbagai isu ataupun sikap perilaku disintegrasi.
”Pada prinsipnya semangat proklamasi tidak mentolerir sedikitpun adanya disparitas dan disintegritas yang merugikan bangsa ini,” kata Menag dalam sambutan yang dibacakan dibacakan oleh Kabalitbang Depag Atho Mudzhar.
”Konflik-konflik yang bernuansa keagamaan, kesukuan dan kedaerahan yang pernah melanda masyarakat kita harus diakhiri,” tambahnya.
Sementara itu Dialog Pemuda Lintas Agama Nasional diikuti peserta dari seluruh provinsi di Indonesia. Setiap provinsi minimal berjumlah enam peserta dari enam agama yang ada.
Menag menyambut baik dialog ini. Setidaknya ada dua dasar pertimbangan yang harus dicermati, katanya. “Yaitu bahwa pemuda dan mahasiswa adalah aset nasional dan sebagai sebagai generasi penerus estafet perjuangan dan kepemimpinan bangsa di masa datang,” kata Menag.
Menurutnya, pembinaan pemuda secara konseptual dan terarah merupakan kewajiban dan tanggungjawab semua pihak.
Kedua, secara psikologis pemuda dan mahasiswa berada pada usia yang penuh dengan ujian dan pencarian. “Pada usia ini biasanya pemuda sedang mencari jati diri. Baik secara individual maupun dalam lingkup sosial,” kata Menag.
Menag berharap ajang dialog ini dijadikan wahana bertukar pandangan, pemikiran dan pengalaman di kalangan generasi muda yang berasal dari daerah dengan tradisi serta adat istiadat yang berbeda. (nur)