Warta

Perlu Strategi Kebudayaan di Tingkat Lokal

Rabu, 22 April 2009 | 05:39 WIB

Pati, NU Online
Di tengah krisis global dan kegamangan politik dewasa ini kebudayaan menjadi bagian penting untuk melihat kembali identitas bangsa yang semakin rapuh. Perlu ada strategi kebudayaan di tingkat lokal.

“Kita perlu menghadirkan gerakan yang lebih kongkret, di tengah krisis global. Maka, harus ada upaya yang genuine dari seniman dan pegiat kebudayaan di ranah lokal,” ungkap seniman Sucipto Hadi Purnomo dalam diskusi kebudayaan di Sanggar GusUran Pati, Senin (20/4).<>

Diskusi bertajuk "Kebudayaan dalam Kegelisahan Globalisasi, Refleksi Krisis Internasional dan Pemilu 2009” yang diselenggarakan Rumah Adab Indonesia Mulia.

Gerakan kongkret itu lanjut Cipto yang juga Dosen Sastra Jawa Unnes Semarang, akan menjadikan kebudayaan Indonesia lebih bermakna dan memunculkan kreatifitas baru yang lebih luas.

”Kalau ragam budaya tidak dikelola maksimal, pondasi ideologi dan perspektif hidup tidak akan lengkap. Maka, krisis identitas akan lebih parah,” kata pengarang Cerbung Saridin Mokong itu.

Selain Sucipto hadir budayawan Anis Sholeh Ba’asyin. Diskusi dipandu penulis muda yang juga kontributor NU Online Munawir Aziz.  

Budayawan Anis Sholeh Ba’asyin mengingatkan, krisis identitas Indonesia juga disebabkan runtuhnya ideologi politik negeri ini.

”Politik negeri ini seakan kehilangan ideologi yang menopang gerakan. Kompromi politik telah mengubur ideologi, hanya ada kepentingan miskin substansi. Inilah yang menghancurkan identitas politik sebagai pondasi kebudayaan”, tegas Anis.

Anis menambahkan, di tengah krisis global sekarang ini, semua negara berhak menentukan cara pandang hidup bernegara.

”Kalau kita mau jeli dan berani, sudah saatnya gerakan kebudayaan negeri ini dirumuskan kembali dalam suasana yang lebih jernih. Sekarang ini, setiap negara memiliki posisi yang sama. Sangat bodoh kalau Indonesia tak berani merancang strategi kebudayaan yang lebih kuat,” ungkap Anis.

Diskusi yang dihadiri puluhan seniman, sastrawan, santri dan generasi muda ini, diakhiri dengan kesepakatan untuk menguatkan kembali tradisi lokal sebagai bagian penting kebudayaan Nusantara.

”Yang perlu dilakukan di ranah lokal, yakni menggairahkan kembali iklim kebudayaan yang bersumber dari tradisi lokal. Kalau hal ini terjadi, saya kira cara pandang manusia Indonesia akan lebih kokoh dengan keberpihakan pada budaya sendiri”, tegas Anis (ziz)


Terkait