Pondok pesantren di berbagai daerah menjadi tempat penggemblengan kader Nahdlatul Ulama (NU) sejak organisasi ini didirikan secara resmi pada 1926. Praktis sejak awal karakter NU dibentuk dari pesantren.
Hal ini disampaikan Rais Syuriyah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Kediri KH Zainuri Fakih dalam acara pembukaan silaturrahim pesantren-pesantren se Kabupaten Kediri, di Pondok Pesantren Sirojul Ulum Semanding, Pare, Kediri, Jum’at (17/4) malam.
r /> Silaturrahim diadakan oleh Pengurus Cabang Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) Kabupaten Kediri bersama Lajnah Ta’lif wan Nasyr (LTN) Kabupaten Kediri. Sedikitnya perwakilan dari 31 pesantren telah hadir dalam acara pembukaan malam itu.
”Jangan heran kalau pesantren diundang acara NU pasti hadir karena sejak dulu pesantren menjadi tempat penggemblengan kader NU,” kata pengasuh pesantren Darussalam, Sumbersari, Kediri.
Perkembangan berikutnya, tambah Kiai Zainuri, NU membentuk organisasi khusus bernama RMI sebagai forum silaturrahmi antar pondok pesantren. Pembentukan badan otonom ini dimaksudkan agar kegiatan NU di pesantren tidak tercampur dengan kegiatan keorganisasian NU secara umum.
Acara silaturrahim itu juga dimaksudkan untuk mengeratkan kembali persatuan antara pesantren-pesantren di kediri dalam wadah RMI. Rencananya di beberapa kecamatan yang belum terbentuk kesatuan RMI akan dibentuk kepengurusan RMI setingkat Majelis Wakil Cabang (MWC).
Wakil Rais Syuriyah PCNU Kabupaten Kediri KH Abu Musa Al-Asy’ary menyatakan, pesantren-pesantren tidak bisa terlepas dari aktivitas NU karena para santri yang belajar di pondok pesantren adalah putra-putri dari warga NU (Nahdliyin).
”Pesantren adalah NU kecil, sementara NU adalah pesantren besar,” kata Kiai Abu Musa mengutip pernyataan salah seorang pendiri NU KH Wahab Chasbulllah.
”Menurut Rais Syuriyah PWNU Jawa Timur KH Miftachul Ayar pesantren itu bagaikan ikan dan NU itu lautnya. Laut tak berarti jika tak ada ikan, sementara ikan akan mati jika tidak hidup di air,” katanya.
Kiai Abu Musa berharap RMI menjadi forum untuk merekatkan hubungan antar pesantren sembari memperkuat basis organisasi NU.
Acara silaturrahim antar pesantren itu dirangkai dengan pelatihan jurnalistik dan karya tulis pesantren bersama Situs Berita PBNU NU Online dan Majalah Aula PWNU Jawa Timur.
Menurut ketua panitia KH Miftah Badri, para santri perlu menggeluti bidang ini karena kecenderungan dunia penerbitan saat ini justru didominasi oleh kelompok Islam di luar NU. (nam)