Sejumlah pimpinan pesantren besar di Jawa dan tokoh dari berbagai perguruan tinggi terkemuka akan berkumpul di Pesantren Darul Muttaqien, yang berlokasi di Kecamatan Parung, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Ahad (10/5) besok. Mereka akan bertemu untuk membahas berbagai isu seputar dunia pendidikan nasional.
Pertemuan para pimpinan pesantren dan tokoh kampus tersebut dikemas dalam bentuk kegiatan halaqoh nasional reorientasi pendidikan perspektif pesantren dan Nahdlatul Ulama (NU). Hajat tersebut digagas bersama oleh Keluarga Mahasiswa Nahdlatul Ulama (KMNU) Institut Pertanian Bogor (IPB) dan Pesantren Darul Muttaqien Bogor.<>
Ketua KMNU IPB Nailul Abrar mengatakan, halaqoh ini digelar guna mengisi Hardiknas pada 2 Mei lalu. “Banyak persoalan besar seputar dunia pendidikan yang tengah kita hadapi. Karena itu, kami gagas halaqoh agar dapat menyamakan cara pandang pesantren dan NU dalam merespons isu pendidikan terkini,” kata Nailul.
Halaqoh pendidikan tersebut mengetengahkan tema “Pemerataan kesempatan dan pengembangan kualitas pendidikan yang berkeadilan bagi semua.”
Pada halaqoh ini ada 10 pemateri yang notabene pimpinan sejumlah pesantren besar dan tokoh berbagai kampus terkemuka akan hadir. Pengasuh Pesantren Tebuireng Jombang Jawa Timur Ir KH Salahuddin Wahid (Gus Sholah) dijadwalkan akan hadir dan menjadi keynote speaker pada sesi pertama.
Gus Sholah akan tampil bersama empat panelis, yakni Pengasuh Pesantren Darul Muttaqien Bogor Drs KH Mad Rodja Sukarta, Guru Besar Institut Pertanian Bogor (IPB) Prof Dr Cecep Kusmana MS, Direktur Pesantren Daarul Rahman Jakarta KH Faiz Syukron Makmun LC MA, dan Direktur Recognition and Mentoring Program (RAMP) IPB Dr Ir Aji Hermawan MM.
Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Masdar Farid Mas’udi MA didaulat sebagai keynote speaker pada sesi kedua, juga didampingi empat panelis. Empat panelis yang akan tampil bersama Masdar, yakni Rektir Universitas Islam 45 (UNISMA) Bekasi Dr Nandang Najmul Munir, Dewan Pakar Pesantren Al-Falakiyyah an-Nahdliyyah Pagentongan Bogor yang juga Guru Besar IPB Prof Dr Surjono Hadi Sutjahjo MS, Pengasuh Pesantren Al-Karimiyyah Kota Depok KH Ahmad Damanhuri MA serta akivis NU Circle alumni School of Public Policy, University of Birmingham, United Kingdom, Ifan Haryanto MSc.
Menurut Nailul, sesi pertama akan banyak menyoroti seputar penguraian akar problematika dunia pendidikan nasional. Sedangkan sesi kedua akan membahas perumusan pemikiran pesantren dan NU mengenai pemerataan kesempatan dan peningkatan mutu pendidikan.
“Kita tahu dunia pendidikan nasional semakin bercorak kapitalis. Pendidikan lebih dilihat sebagai potensi ekonomi ketimbang sebagai layanan sosial. Hal ini akan mendatangkan masalah, karena orang miskin akan semakin susah sekolah,” papar pria yang belum genap seminggu memimpin KMNU IPB itu.
Sementara itu Pengasuh Pesantren Darul Muttaqien KH Mad Rodja Sukarta menambahkan, dirinya merasa mendapatkan kehormatan dengan kehadiran sejumlah pimpinan pesantren dan tokoh kampus ke pesantrennya.
Dia berharap forum ini akan menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi pesantren, NU dan bangsa. “Semoga hasilnya dapat disumbangkan bagi revitalisasi depdiknas.”
Kalangan pesantren, lanjut Rodja, merupakan bagian tidak terpisahkan dari pendidikan nasional. “Karena itu, pesantren pun perlu proaktif memperjuangkan pembenahan sektor pendidikan agar menghasilkan output terbaik,” ujarnya. (hir)