Islam adalah agama yang komprehensif. Segala jenis persoalan dibahas dalam Islam, termasuk soal kesehatan reproduksi atau sex education. Jadi bagi santri tema ini tidak dianggap tabu.
Demikian diungkapkan Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Islam (Nuris) KH Muhyidin Abdusshomad saat memberikan sambutan sekaligus membuka seminar nasional “Kesehatan Reproduksi Remaja, Menyosal Problematika dan Solusi” di aula Nuris, Jl Sarangan 48, Jember, Senin (22/5).<>
Kiai Muhyiddin mengakui, soal sex education memang terkadang masih tabu dibicarakan di kalangan umat Islam, khususnya dunia pesantren. Sebab, ketika membicarakan masalah sex yang terbayang adalah hal-hal yang bersifat porno.
Padahal, katanya, sex educatioan itu sangat penting bagi kesehatan reproduksi. “Bahkan ada satu kitab namnya Qurrotul Uyun”, itu di situ banyak membahas soal sex,” kata Rais Syuriyah PCNU Jember ini.
Tentu saja, pendididkan sex sangat membantu bagi kelancaran dan kesehatan pasangan suami dalam memberikan keturunan. Sehingga diketahui bagaimana caranya berhubungan suami istri yang baik dan sebagainya. “Tapi memang tidak semua umur bisa mempelajari pendidikan sex,” tukasnya.
Sementara itu, Direktur Yayasan Rahima AD Eridani menyatakan, seminar tersebut berangkat dari sebuah keprihatinan mengenai kondisi pasangan suami istri yang ternyata banyak persoalan. Dijelaskannya, dirinya telah mengadakan penelitian di Kabupaten Jember dan Bondowoso. “Hasilnya, ternyata menunjukkan tingkat kesetatan reproduksi sangat rendah,” ungkapnya saat memberikan sambutan.
Seminar itu sendiri diselenggarakan oleh Yayasan Rahima, Jakarta bekerja sama dengan Pondok Pesantren Nuris. Seminar yang diikuti oleh 150 siswa dan guru itu merupakan permulaan kegiatan dari Rahima terkait dengan reproduksi. Selanjutnya mulai besok akan digelar work shop selama 4 hari untuk memperdalam pembahasan tema serupa. (ary)