Warga keturunan Tionghoa di Sumatra Utara khususnya di Kota Medan diimbau berdoa untuk KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur saat merayakan Tahun Baru Imlek 2561 yang jatuh pada 14 Februari mendatang.
"Sangat wajar jika pada Imlek kali ini warga Tionghoa sedikit meluangkan waktu berdoa untuk bapak pluralisme, almarhum Gus Dur," ujar anggota DPRD Kota Medan Hasyim, di Medan, Kamis (11/2).<>
Menurut Hasyim, kebijakan Gus Dur yang menetapkan Imlek sebagai hari libur fakultatif pada masa kepemimpinannya dan kemudian ditetapkan sebagai hari libur nasional oleh Presiden Megawati Soekarnoputri secara otomatis telah mengangkat derajat dan martabat warga Tionghoa di Indonesia.
Kebijakan Gus Dur tersebut, kata anggota dewan dari PDI Perjuangan yang bernama Tionghoa Oei Kien Lim ini, telah menyejajarkan warga Tionghoa dengan warga suku lainnya di Indonesia.
"Kebijakan Gus Dur itu menjadi simbol perekat ukhuwah sekaligus mematikan diskriminasi, karena sejak itu derajat warga Tionghoa terangkat dan diskriminasi perlahan terhapus," ujar Wakil Ketua Fraksi PDI Perjuangan DPRD Kota Medan itu.
Sehubungan dengan itu, Hasyim menilai Tahun Baru Imlek merupakan momentum yang tepat untuk memperkuat persatuan dan kesatuan bangsa. Karenanya, ia mengajak warga Tionghoa memanfaatkan momen Imlek 2561 untuk mendoakan Gus Dur.
"Mari kita tingkatkan silaturahmi melalui Imlek, karena Imlek adalah simbol persaudaraan sekaligus matinya diskriminasi rasial dan suku di Indonesia. Mari kita kembali meluangkan sedikit waktu untuk mendoakan almarhum," katanya. (ant)