Cerpen: Pensil Kajoe
"Surga itu hanya untuk orang beriman! Bukan untuk orang seperti kamu, yang masa lalunya lebih hitam dari arang!"
Suara itu meledak seperti petir. Lelaki muda berbaju koko berdiri di tengah warung kopi reyot yang biasa dipenuhi orang-orang gagal. Tangannya menunjuk tajam ke arah lelaki tua bersarung lusuh di ujung ruangan. Mbah Wirya hanya menunduk sebentar, lalu menatapnya tanpa marah.
“Kalau surga hanya untuk orang seperti kamu,” katanya pelan, “lalu siapa yang akan merangkul orang seperti kami?”
Baca Juga
Kurban untuk Langit
Warung hening. Asap kopi menggantung di udara. Tak ada yang berani bicara, meski tiap wajah menyimpan letupan yang tertahan.
***
Di kota kecil Lempong, warung Mbah Wirya lebih mirip ruang rawat luka batin ketimbang tempat makan. Letaknya di ujung gang, dekat lapangan voli yang tanahnya merah bata. Bangunannya miring, atap sengnya bocor di lima titik, dan dindingnya penuh tempelan kertas kecil berisi catatan tangan: puisi, nasihat, kutipan orang bijak, bahkan daftar utang yang belum dibayar.
Namun di dalamnya, orang-orang merasa aman.
Baca Juga
Tersesat di Bawah Air Terjun
Janda muda korban kekerasan rumah tangga bisa duduk berdampingan dengan pensiunan hakim. Anak jalanan bersarung hitam bisa berbagi rokok dengan bekas polisi militer. Tak ada ceramah, tak ada cerutu moral. Hanya kopi pahit, obrolan pelan, dan bahu yang siap disandari siapa saja.
***
Suatu malam hujan deras, seorang perempuan bertato datang menggigil, bajunya basah kuyup. Ia masuk tanpa bicara, lalu menangis keras di pojokan. Tak ada yang bertanya kenapa. Mbah Wirya hanya menyodorkan kopi, lalu duduk di sebelahnya, memutar radio tua yang mendesah pelan lagu keroncong.
Perempuan itu berkata kemudian, "Aku kehilangan anakku, karena aku masih dihukum oleh masa lalu yang tak bisa aku ubah."
Baca Juga
Percakapan Matahari dan Bulan
Mbah Wirya menjawab, “Tuhan itu bukan catatan polisi. Ia tak memelihara berkas perkara. Ia menunggu, bukan menghukum.”
***
Banyak yang bilang Mbah Wirya dulunya jagal. Ia hidup di masa politik yang gelap, bertangan darah, berhati besi. Ia pernah berdiri di garis yang salah, dan entah bagaimana, ia masih hidup.
Tapi itu cerita lama. Yang kini orang lihat hanya lelaki tua dengan tangan gemetar, yang menghabiskan malam mendengarkan cerita orang lain. Ia tak pernah bicara tentang Tuhan, tapi orang merasa dekat dengan Tuhan ketika duduk bersamanya.
Baca Juga
Di Antara Debu dan Takdir Ain Jalut
“Surga itu bukan menara yang harus dipanjat,” katanya suatu kali kepada seorang anak muda yang frustasi, “Kadang ia cuma lorong kecil tempat kau bisa bernapas tanpa dituding.”
***
Pada pertengahan tahun, seorang tokoh agama nasional datang ke Lempong. Namanya Kiai Umar. Ia dikenal karena pidatonya yang lantang, ceramahnya yang penuh dalil, dan kampanyenya tentang moral. Ia mengunjungi warung Mbah Wirya, bukan sebagai tamu, tapi sebagai penguji.
Ia bertanya keras, di depan banyak orang, “Apa yang kau ajarkan di sini, Mbah? Ini tempat amoral! Orang tidak shalat, perempuan tidak menutup aurat, lagu dangdut diputar bebas!”
Baca Juga
Cerpen: Keluar dari Dalam Goa
Mbah Wirya menjawab, “Aku tak mengajarkan apa pun. Aku hanya menyediakan tempat di mana orang bisa pulang sebelum kembali mengenal dirinya sendiri.”
Kiai Umar tertawa sinis, lalu meninggalkan warung. Tapi malamnya, ia kembali diam-diam. Duduk di pojok. Memesan kopi tanpa gula. Menangis pelan. Tak ada yang menanyakan apa pun. Tapi sejak itu, wajahnya lebih tenang saat berceramah.
***
Suatu saat datang Rafi, pemuda lulusan Timur Tengah, yang idealismenya tajam seperti pisau baru. Ia bergabung beberapa minggu di warung Mbah Wirya, mencatat, mengamati. Lalu satu malam, ia berkata:
Baca Juga
Bacaan Al-Fatihah Si Tolhah
“Mbah, aku masih belum bisa menerima bahwa tempat ini bisa membawa orang ke surga.”
Mbah Wirya tersenyum. “Kau tahu, Rafi… kalau ada orang yang menuntun orang buta menyeberang jalan, meskipun ia tak salat lima waktu, bukankah ia sudah menolong makhluk Tuhan?”
Rafi mengangguk ragu.
“Lalu,” lanjut Mbah Wirya, “apakah Tuhan lebih menghargai orang yang hafal dalil, atau orang yang jadi dalil hidup bagi sesamanya?”
Baca Juga
Jejak Kembali ke Cahaya
Rafi tak menjawab malam itu. Tapi seminggu kemudian, ia membawa sekarung roti untuk dibagi kepada anak-anak yang biasa tidur di emperan.
***
Mbah Wirya wafat dalam tidur. Usianya tak pasti, mungkin delapan puluh, mungkin lebih. Ia ditemukan pagi-pagi oleh Santi, seorang perempuan yang dulu pernah berniat bunuh diri di toilet warung.
Di sebelah tubuhnya, ada secarik kertas:
"Jika jalanku tak lurus, semoga niatku tak bengkok. Jika surgaku jauh, semoga aku tak menyakiti siapa pun untuk mencapainya."
Orang-orang dari berbagai sudut kota datang mengantarnya. Tidak ada seremoni. Tidak ada doa resmi. Tapi ada air mata. Ada doa pelan. Ada tahlil dari anak punk yang terbata-bata.
Dan ada senyum di wajah Mbah Wirya yang sudah membiru, seolah ia tahu: Tuhan sedang membuka gerbang surga yang tak bertembok itu.
***
Warung itu tetap buka. Anak-anak yang dulu dilindungi, kini bergantian menyeduh kopi. Di dinding belakang, terpampang tulisan besar:
“Semua Jalan Bisa Menuju Surga, Asal Tidak Menginjak Orang Lain Saat Berjalan.”
***
Di luar sana, banyak jalan ke surga. Ada yang lewat sajadah mahal, ada yang lewat mimbar mewah. Tapi di sudut gang kecil Lempong, ada jalan kecil yang sunyi--yang tak selalu lurus, tapi penuh tangan-tangan yang saling mengangkat.
Dan Tuhan, mungkin, lebih sering ditemukan di sana:
Di warung yang reyot, dengan kopi tanpa gula, dan seseorang yang mendengarkanmu sepenuh hati.
Tumiyang, 10 Juli 2025
Pensil Kajoe adalah nama pena dari penulis kelahiran Banyumas. Tulisannya baik cerpen, cerkak, puisi sudah dimuat di berbagai media cetak/online tanah air. Tahun 2023 mendapat anugerah Penyair Sastratama dari Lumbung Puisi Sastrawan Nasional. Saat ini berdomisili di Tumiyang , Pekuncen, Banyumas, Jawa Tengah.
Terpopuler
1
Khutbah Jumat: Tanda Shalat Kita Diterima
2
Khutbah Jumat: Menjadi Hamba Sejati melalui Rangkaian Ibadah Haji
3
Khutbah Jumat: Tobat Ekologis, Menjaga Bumi Sebagai Amanah Ilahi
4
Prabowo Instruksikan Belajar Bahasa Prancis, P2G Minta Tidak Bebankan Guru dan Siswa
5
NU Care-LAZISNU Gelar Pelatihan Literasi Keuangan dan AI bagi Perempuan Indonesia
6
Mobile Crisis Rescue, Respons Cepat Tanggap Kedaruratan Kemenhaj di Mina
Terkini
Lihat Semua