Cerpen

Cerpen: Tuhan di Dalam Lemari Pakaian

NU Online  ·  Ahad, 23 Agustus 2026 | 20:00 WIB

Cerpen: Tuhan di Dalam Lemari Pakaian

Ilustrasi (NU Online/AI Generated)

Di kepala anakku, Tuhan mungkin berwujud sesuatu yang menyerupai kantong ajaib yang bisa mengeluarkan mainan tanpa batas, atau barangkali sesosok wajah penuh wibawa dengan janggut putih panjang yang sering digambarkan di buku-buku dongeng sebelum tidur. Anak-anak selalu membutuhkan wujud untuk segala hal yang tidak mereka pahami. Mereka butuh menyentuh tepiannya, meraba warnanya, dan memastikan ukurannya agar mereka tidak tersesat dalam belantara ketidaktahuan.

 

Malam itu, hujan baru saja reda di luar jendela. Sisa-sisa air terjatuh satu-satu dari daun mangga di pekarangan, menghantam seng dengan bunyi tik, tik, tik yang monoton dan melelahkan. Aroma tanah basah—petrikor yang purba—merayap masuk lewat celah ventilasi udara, membawa serta hawa dingin yang menusuk tulang. Udara Jakarta yang biasanya bising dan pengap, malam itu mendadak menjadi begitu intim, begitu sunyi, seolah-olah seluruh kota sedang menahan napasnya untuk menyaksikan sesuatu yang rapuh.

 

Kami sedang berbaring berdua di atas kasur busa yang sudah agak melesek di bagian tengahnya. Di atas kami, langit-langit kamar yang catnya mulai mengelupas dipenuhi oleh stiker bintang-bintang plastik murahan. Bintang-bintang yang kami beli di pasar malam itu memancarkan cahaya hijau berpendar dalam gelap (phosphorescent), sebuah tiruan langit malam yang menyedihkan namun cukup untuk menenangkan seorang anak kecil yang takut pada kegelapan mutlak.


"Ayah," suaranya kecil, nyaris tenggelam oleh desau angin yang menggesek gorden jendela. Sebuah panggilan yang memecah sunyi yang sejak sore tadi kami rawat bersama.

 

"Ya, Sayang?" aku menyahut tanpa menoleh, mataku masih menatap lurus ke sebutir bintang plastik yang paling terang di atas lemari pakaian.


"Tuhan itu sebenarnya tinggal di mana? Dan kenapa Dia tidak pernah mau mengunjungiku?"


Pertanyaan itu mendarat di dadaku seperti sebutir batu kali yang dijatuhkan ke dalam sumur tua yang dalam dan berlumut. Ada dentang yang keras, lalu gema yang panjang dan sunyi. Aku tersentak. Seluruh sendi di tubuhku rasanya mendadak kaku. Pertanyaan anak-anak selalu memiliki daya hancur yang luar biasa bagi ketenteraman batin orang dewasa. Mereka bertanya tanpa beban, sementara kita yang mendengar harus menanggung beban seluruh sejarah teologi dan filsafat manusia di atas pundak yang ringkih.

 

Aku tidak langsung menjawab. Aku menoleh memandangnya. Di dalam temaram kamar, matanya yang bulat tampak memantulkan pendar hijau dari langit-langit. Mata itu menatapku dengan ketelanjangan yang luar biasa, tanpa prasangka, tanpa keraguan. Sebuah tatapan yang menuntut sebuah kebenaran mutlak, sementara aku sendiri adalah seorang lelaki yang saban hari menyembunyikan keraguan di balik tumpukan buku dan kertas-kertas puisi yang berdebu.


Aku teringat lembar-lembar puisi yang sering kutulis di sudut-sudut kafe yang bising. Puisi-puisi tentang kehilangan yang tak selesai, tentang jarak yang tak pernah menyempit, tentang bagaimana kata-kata sering kali menjadi pengkhianat terbesar ketika kita ingin menyampaikan rindu. Aku selalu merasa mahir menjinakkan bahasa. Namun malam ini, di hadapan anakku yang baru berusia enam tahun, seluruh kosakata yang kupunya mendadak mengkerut, luruh, dan menjadi sampah yang tak berguna. Menjelaskan Tuhan tidak bisa menggunakan majas-majas rumit atau definisi kaku di dalam kamus tebal yang berjejer di ruang kerja.

 

"Kau benar-benar ingin tahu?" tanyaku pelan, suaraku agak parau. Aku mengulurkan tangan, mengusap rambutnya yang halus dan berbau sampo melon.

 

Ia mengangguk kuat-kuat. Tubuh kecilnya bergerak di balik selimut gambar beruang. "Sebab kata Ibu Guru di sekolah, Tuhan itu ada di mana-mana. Tapi kemarin waktu aku petak umpet di dalam lemari baju sampai ketiduran, aku tidak melihat siapa-siapa di sana selain gantungan baju Ayah. Tuhan juga tidak datang waktu aku menangis karena lututku berdarah jatuh dari sepeda."

 

Ada nada protes yang dramatis dalam suaranya. Sebuah gugatan polos dari seorang manusia baru yang merasa diabaikan oleh Penguasa Semesta. Dadaku berdenyut perih.

 

"Lihat bintang-bintang di langit-langit kamarmu itu," kataku kemudian, mencoba mengalihkan tatapannya ke atas. "Kau tahu kenapa mereka bisa menyala sekarang, padahal beberapa jam lalu mereka hanya plastik berwarna putih yang pucat?"

 

Ia mendongak, mengamati deretan stiker yang berpendar. "Karena lampu kamar dimatikan?"

 

"Itu hanya cara kita melihatnya, Sayang. Tapi rahasia yang sebenarnya adalah, sepanjang siang tadi, ketika lampu kamar kita nyalakan dan matahari bersinar terang di luar, bintang-bintang plastik ini diam-diam bekerja keras. Mereka menyerap seluruh cahaya yang mengenainya. Mereka menyimpannya baik-baik di dalam tubuh mereka yang kecil. Lalu, ketika malam tiba, ketika dunia menjadi gelap dan semua orang mulai merasa ketakutan, bintang-bintang ini tidak menyimpan cahaya itu untuk diri mereka sendiri. Mereka membagikannya kembali kepada kita. Mereka mengembalikan cahaya itu agar kamarmu tidak sepenuhnya gelap."

 

Anakku diam. Desah napasnya yang teratur terasa hangat menerpa lengan atas jubah tidurku. Ia mendengarkan dengan khusyuk yang amat sangat, jenis kekhusyukan yang barangkali sudah lama hilang dari ruangan-ruangan ibadah orang dewasa yang penuh dengan kepura-puraan.

 

"Tuhan itu," lanjutku, meraba kata demi kata dengan sangat hati-hati, seperti seorang lelaki yang sedang berjalan di atas seutas tali di atas jurang yang dalam, "Tuhan itu seperti cahaya yang diserap oleh bintang-bintang itu. Tuhan tidak memiliki rumah yang terbuat dari bata, semen, atau kayu seperti rumah kita. Rumah Tuhan adalah sebuah tempat yang paling luas di dunia, namun letaknya tersembunyi di tempat yang paling sunyi."

 

"Di mana, Ayah? Di balik awan yang tinggi?" kejar-kejarnya, suaranya naik satu oktav. Rasa ingin tahunya bermekaran seperti bunga liar di musim hujan.


"Bukan di balik awan. Rumah Tuhan ada di dalam kebaikan-kebaikan kecil yang sering kali kita lupakan. Ketika kau membagikan separuh biskuitmu kepada temanmu yang menangis karena bekalnya tertinggal, atau ketika kau dengan sabar menuntun seekor semut hitam yang tersesat di lantai kamar mandi agar tidak terinjak... pada detik itulah, Tuhan sedang meminjam tanganmu. Tuhan menitipkan sepotong kecil rasa sayang-Nya di dalam hatimu, lalu kau membagikannya kepada makhluk lain. Saat kau melakukan itu, kau sedang memperlihatkan wajah Tuhan kepada dunia."

 

Sunyi kembali merajai kamar. Kalimat-kalimatku mengambang di udara, bercampur dengan aroma minyak telon dan petrikor. Anakku tampak menimbang-nimbang kata-kataku, memasukkannya ke dalam laboratorium kecil di kepalanya yang masih murni. Ia sedang meramu pemahaman baru tentang dunia.


"Jadi," ia berbisik, nadanya mendadak berubah menjadi reflektif, seolah-olah ia baru saja menemukan sebuah teka-teki yang rumit, "kalau besok aku marah dan menendang kucing kurus yang suka mencuri ikan di meja makan, apakah itu berarti aku sedang mengusir Tuhan dari hatiku?"

 

Pertanyaan itu menghantamku lebih keras dari yang pertama. Anak-anak selalu berhasil menarik garis lurus yang radikal antara teori moral dan praktik kehidupan. Sementara kita, orang dewasa, adalah makhluk yang paling ahli membuat pembenaran atas setiap kejahatan kecil yang kita lakukan sehari-hari.


Aku menarik napas panjang, meresapi kegetiran yang tiba-tiba muncul di tenggorokanku. "Tuhan tidak pernah benar-benar bisa diusir, Sayang. Dia tidak seperti tamu yang akan merajuk dan pulang jika kau tidak menyambutnya dengan baik. Tapi, ketika kau menyakiti makhluk lain, kau sedang menutup jendela hatimu rapat-rapat. Cahaya Tuhan jadi tidak bisa keluar, dan hatimu akan menjadi sama gelapnya dengan kamar ini jika semua bintang di langit-langit itu kita copot."


Aku meraih jemari kecilnya yang hangat. Kutuntun tangan itu, kuletakkan telapaknya yang mungil tepat di atas dada kirinya sendiri. Di balik kaus katun tipis yang dipakainya, aku bisa merasakan sebuah getaran yang konstan, sebuah ritme kehidupan yang paling jujur. Dug-dug. Dug-dug.

 

"Kau merasakannya?" tanyaku lirih.

 

Ia mengangguk pelan. "Ada yang mengetuk di dalam dadaku."


"Itu jantungmu. Dan di dalam setiap detakannya, ada sebaris nama Tuhan yang sedang diucapkan tanpa suara. Tuhan selalu ada di situ, menjagamu dari jarak yang paling dekat yang bisa kau bayangkan. Lebih dekat daripada urat lehermu, lebih dekat daripada helai rambut yang jatuh di jidatmu, bahkan lebih dekat daripada napas yang baru saja kau hirup. Dia tidak pernah tidur, Dia tidak pernah berjalan-jalan ke luar kota, hanya agar kau bisa menutup matamu dengan tenang dan bermimpi indah setiap malam tanpa perlu takut pada apa pun."

 

Air mata tiba-tiba menggenang di sudut mataku, beruntung kegelapan menyembunyikannya dengan sempurna. Aku tidak tahu apakah aku sedang menasihati anakku atau sebenarnya sedang meyakinkan diriku sendiri yang sudah terlalu sering merasa kesepian di tengah dunia yang makin asing ini. Di dalam puisi-puisiku, aku sering menggambarkan Tuhan sebagai sosok yang absen, sebagai kesunyian yang dingin setelah ditinggalkan kekasih. Namun malam ini, lewat detak jantung anakku, aku dipaksa untuk percaya kembali bahwa perpisahan tidak pernah benar-benar ada.

 

Anakku tidak mengajukan pertanyaan ketiga. Keheningan yang pekat kembali membungkus kami, namun kali ini bukan keheningan yang mencekam atau menakutkan. Itu adalah keheningan yang penuh, keheningan yang hangat pasca-badai. Sebuah senyuman tipis, hampir tak terlihat, terbit di bibir kecilnya yang mungil. Ia membalikkan badannya membelakangiku, meringkuk mencari posisi ternyaman, lalu menarik selimutnya hingga sebatas dada. Ia merapatkan punggung kecilnya ke dadaku, mencari perlindungan fisik yang bisa kuberikan sebagai seorang ayah.

 

Perlahan-lahan, gerakan napasnya berubah menjadi lebih lambat dan berat. Matanya telah terpejam sepenuhnya, menyerah pada kantuk yang menjemputnya menuju dunia mimpi yang putih.

 

Di dalam kamar yang temaram, di bawah pendar hijau bintang-bintang plastik yang mulai meredup karena kehabisan energi yang mereka serap siang tadi, aku terus terjaga. Aku memandangi rambut anakku, menghirup aroma tubuhnya yang magis, dan mendengarkan ritme napasnya yang teratur.

 

Malam itu, di sebuah sudut kota yang basah oleh sisa hujan, anakku tidak hanya sedang bertanya tentang Tuhan. Ia, dengan seluruh kepolosan dan kerapuhannya, justru baru saja menuntun tanganku yang gemetar, membawa jiwaku yang bimbang, dan mempertemukan aku kembali dengan Sang Pencipta—melalui sebuah dialog sunyi di atas kasur busa, di bawah langit-langit kamar yang dipenuhi cahaya kepalsuan yang mendadak terasa begitu suci.

Karang Anjog, Juli 2026

 

Riswo Mulyadi, aktif menulis puisi dan geguritan bahasa Banyumasan. Buku kumpulan puisi tunggalnya: Gigir Bukit Sinawing (2017) Kumpulan Geguritan Banyumasan: Luh Netes Nang Gligire Sinawing (2023), Kini aktif sebagai pendidik di MI Ma’arif NU 1 Cilangkap, Tinggal di Karanganjog Desa Cihonje Kecamatan Gumelar Banyumas, Jawa Tengah juga aktif di Lesbumi NU Banyumas.

Gabung di WhatsApp Channel NU Online untuk info dan inspirasi terbaru!
Gabung Sekarang