Cerpen

Langkah Pulang

NU Online  ·  Ahad, 6 September 2026 | 10:00 WIB

Langkah Pulang

Ilustrasi (NU Online/AI Generated)

Langit malam ini gelap seperti biasanya. Jalanan Jakarta yang seolah tidak pernah sepi, saat ini masih dilalui kendaraan yang berlalu lalang.

 

Di sudut jalan yang remang, di bawah pancaran lampu jalan yang temaram, Nessa melihat seorang bapak ojol yang duduk termenung di atas motornya. Wajahnya terlihat lusuh, sorot matanya kosong menatap jalan yang sepi. Tubuhnya nampak lelah, bahunya lunglai, jujur dia tak tega.

 

“Selamat malam, Mbak. Perlu jasa antar?” tanya bapak ojol dengan suara parau. “Saya antar ke mana saja cukup bayar lima ribu."

 

“Maksudnya, Pak?” Nessa masih mencerna perkataan sosok di hadapannya. 

 

“Mbak bisa saya antar ke mana saja sesuai tujuan Mbak. Tarifnya lima ribu rupiah, yang penting perut saya keisi.”

 

“Tapi saya tidak ada uang cash, Pak. Atau…,” 

 

“Atau Mbak punya roti?” Nessa tertegun. “Bayar pakai roti saja juga enggak apa-apa, Mbak.”

 

Ternyata bapak ojol belum makan dari pagi. Belum terima orderan katanya. 

 

Ini adalah pengalaman pertama Nessa, atau yang biasa dipanggil Sa, karyawati yang sering pulang malam karena tuntutan pekerjaannya itu menemukan secara langsung kejadian yang biasanya hanya disaksikan melalui layar kaca. 

 

“Kalau begitu boleh bantu antar saya ke resto terdekat, Pak?”

 

Bapak ojol mengangguk lemah. “Tidak masalah, Mbak. Saya bisa antar ke resto.” Tangan bapaknya sedikit bergetar. 

 

Sa terdiam sejenak, merasa iba mendengar cerita bapak ojol. “Baiklah, Pak. Kita ke resto sekarang, ya. Saya juga belum makan.”

 

Mereka berdua berangkat menuju sebuah resto yang tidak terlalu jauh. Sepuluh menit kemudian mereka sampai di sana. Sa meminta bapak ojol untuk ikut masuk kemudian memesan beberapa menu dan mengajak bapak ojol makan bersama.

 

“Bapak mau pesan apa? Silakan pesan sesuai selera,” Sa tersenyum ramah.

 

Bapak ojol tampak ragu-ragu. Awalnya bapak itu menolak, “Mbak, saya tidak enak.” 

 

Sa tersenyum lagi, lebih lebar kali ini. “Jangan sungkan, Pak. Malam sudah larut dan Bapak belum makan dari pagi. Saya traktir Bapak, pesanlah apa saja yang Bapak suka.”

 

Karena kondisinya sekarang, pria berusia 50an itu menerima tawaran Sa. Bapak ojol memesan nasi goreng. 

 

Setelah selesai makan, mereka keluar dari resto. Sa tiba-tiba tersadar bahwa bapak ojol belum meminum apapun.

 

“Pak, kita ke minimarket terdekat, ya. Saya mau beli minuman.”

 

Di bangku yang disediakan oleh minimarket, Sa duduk di sebelah bapak ojol. Mereka berdua menikmati malam yang tenang sambil menghirup udara segar. Bapak ojol meneguk air mineralnya dengan perlahan, terlihat sangat haus.
 

 

Sa menatap bapak ojol dengan penuh perhatian. “Pak, kalau boleh tahu, kenapa Bapak belum makan sampai selarut ini?” tanyanya lembut. “Tapi jika Bapak tidak nyaman menjawabnya, tidak apa-apa.”
 

 

Bapak ojol tersenyum tipis, lalu menatap Sa dengan mata yang penuh kelelahan namun juga kehangatan. “Sebenarnya, saya sudah keliling dari pagi. Dari Kebon Jeruk sampai Bundaran HI, tapi semua penumpang sudah memesan secara online.”
 

 

Ia berhenti sejenak, mengambil napas panjang sebelum melanjutkan. “Ponsel saya mati, Mbak. Pagi tadi ada orang yang mencoba menjambret ponsel saya. Untungnya dia terjatuh dan tidak berhasil mengambilnya, tapi ponsel saya terlempar dan hampir terinjak kendaraan lain. Jadinya rusak dan belum bisa dipakai lagi."
 

 

Sa merasa simpati mendengar cerita bapak ojol. “Jadi karena itu Bapak tidak bisa menerima pesanan secara online?” 

 

“Iya, Mbak. Sejak ponsel saya rusak, saya hanya bisa menawarkan jasa secara langsung di jalan. Tapi kebanyakan orang sekarang lebih memilih pesan lewat aplikasi, jadi seharian ini saya tidak mendapatkan penumpang sama sekali,” jawab bapak ojol dengan nada getir.
 

 

Sa berpikir sejenak, mencari cara untuk membantu bapak ojol lebih dari sekadar memberi makan. “Pak, mohon maaf sebelumnya, boleh saya membantu Bapak memperbaiki ponsel itu? Saya punya kenalan tukang Hp.”

 

Bapak ojol terkejut dan terlihat bingung. “Ah, Mbak, saya tidak bisa menerima bantuan sebesar itu. Mbak sudah sangat baik pada saya malam ini.”

 

“Tidak apa-apa, Pak. Anggap saja ini rezeki dari Tuhan lewat saya. Bapak butuh ponsel untuk bekerja, dan saya ingin membantu jika Bapak memperkenankannya.”

 

Bapak ojol terdiam cukup lama, matanya berkaca-kaca. Sa duduk dengan tenang menunggu jawaban bapak ojol.

 

“Terima kasih banyak, Mbak. Saya tidak tahu harus berkata apa. Semoga Tuhan membalas kebaikan Mbak dengan berlipat ganda.”
 

 

Sa berbicara dengan teknisi yang kebetulan kawan karibnya sedari SD via telepon, memastikan tokonya masih buka. 

 

Mereka berdua kemudian berangkat ke toko perbaikan ponsel. 

 

“Sa, bisa ditunggu, Gue cek dulu, yah.” 

 

Setelah memeriksa ponsel bapak, Kenzi menggelengkan kepala, “Maaf Sa, kerusakannya cukup parah.”
 

 

Sa berpikir sejenak. Ia baru saja menerima bonus yang cukup besar dari bos di kantor tadi siang. Bonus itu sebenarnya ingin ia tabung, tapi sekarang ia merasa bahwa uang tersebut bisa digunakan untuk sesuatu yang lebih berarti.

 

Melihat isyarat dari Kenzi, Sa membuka notifikasi pesan yang ia kirimkan. Kenzi hendak menawarkan ponsel lamanya untuk bapak ojol jika beliau berkenan. Masih sangat layak pakai dan bisa digunakan untuk bapak bekerja.

 

“Pak, kalau Bapak berkenan, apakah Bapak mau pakai ponsel lama teman saya?” kata Sa dengan nada hati-hati.
 ​​​​​

 

Mendengar hal itu, bapak ojol tampak terkejut dan matanya mulai berkaca-kaca. “Mbak, saya gak bisa terima ini. Ini terlalu banyak. Saya merasa sangat tidak enak hati,” ujarnya, sambil mencoba menahan air mata.
 

 

“Kebetulan ponsel saya yang satunya menganggur, Pak” Kenzi mencoba menawarkan, “semoga jika dipergunakan di tangan Bapak bisa menjadi benda yang bermanfaat. Biar hisab saya lebih ringan. Hehe.”

 

“Bagaimana, Pak?” tanya Sa dengan nada lembut.
 

 

Bapak ojol terdiam sejenak, air mata mulai mengalir di pipinya. “Mbak, Mas, terima kasih banyak. Saya tidak tahu harus berkata apa. Semoga Tuhan membalas kebaikan Mbak dan Mas dengan berlipat ganda,” katanya dengan suara bergetar.
 

 

“Ini, Pak.” Kenzi menyerahkan ponselnya dengan hati-hati. “Semoga bisa membantu Bapak untuk bekerja.”
 

 

Bapak ojol menerima ponsel tersebut dengan tangan gemetar, merasa terharu dan bersyukur. “Terima kasih, Mbak, Mas. Saya tidak akan pernah melupakan kebaikan ini.”
 

 

Malam itu berakhir dengan hati yang hangat dan harapan baru bagi bapak ojol. Mereka berpisah dengan perasaan yang penuh kehangatan dan syukur. Bapak ojol pun kembali ke rumahnya dengan semangat baru, merasa bahwa malam itu adalah anugerah dari Tuhan yang tak ternilai.

 

Sa pulang dengan hati yang ringan. Ia tersenyum dalam ketenangan hati. Dalam benaknya, kata-kata bijak Ali bin Abi Thalib mengemuka:
 

 

“Apa yang ditakdirkan menjadi milikmu akan menemukanmu.”
 

 

Dengan keyakinan itu, ia melangkah pulang dengan langkah mantap, siap menghadapi apa pun yang ditakdirkan Tuhan untuknya. 
 

 

Annisa Ratna Pratiwi. Menyukai cerita pendek sejak remaja. Membaca dan menulis menjadi perjalanan untuk menemukan kedamaian, makna, dan inspirasi. Tinggal dan berkarya di Majalengka, Jawa Barat. Baca cerpen-cerpen lainnya dari Annisa Ratna di NU Online melalui tautan ini.

Gabung di WhatsApp Channel NU Online untuk info dan inspirasi terbaru!
Gabung Sekarang