Malik Ibnu Zaman
Kolumnis
Katanya, nama berpengaruh terhadap nasib. Dengan kata lain, nama turut andil dalam menentukan jalan hidup seorang anak Adam. Itulah yang aku dengar dari Koer sewaktu aku diajak oleh ibu ke rumahnya. Katanya, memberi nama bukan sekadar memilih nama yang bermakna baik, tetapi juga perlu mempertimbangkan hari kelahiran, atau yang dikenal dengan weton
“Makanya orang dulu memberikan nama itu ada kaidahnya. Jika namanya berawalan huruf J, biasanya lahir pada hari Jumat. Kalau orang sekarang, nggak memakai kaidah itu lagi,” ujarnya.
Tentu saja aku hanya mantuk-mantuk mendengarkan penjelasan Koer. Aku sendiri tak akrab dengannya meskipun masih satu kampung, hanya sekedar kenal nama saja. Usianya 40 tahun. Kata ibu, ia masih kerabat jauh, masih satu canggah dengan ibu. Ibu memanggil Koer dengan panggilan 'Kang'.
Kedatangan ibu ke Koer, bukan sekadar silaturahim, tetapi ada tujuan lain. Sudah setengah tahun, ibu didera sakit yang tak berkesudahan. Cek darah sudah ia lakukan, namun tak ditemukan penyakit. Maka pengobatan alternatif pun dicoba, sebab tubuh ibu semakin hari makin kurus.
Koer sendiri mewarisi kemampuan menyembuhkan penyakit itu dari mendiang ayahnya. Ayahnya memang dikenal sebagai ahli suwuk pada masanya, bahkan namanya masyhur hingga kabupaten sebelah.
Ia mengatakan bahwa ada yang jahil dengan ibu. Koer tak menyebutkan nama orang yang jahil kepada ibu, tetapi ia mengatakan bahwa masih tetangga rumah. Ia bercerita bahwa medium yang digunakan adalah sandal.
“Ya, setengah tahun yang lalu sepulang dari pasar, sandalku hilang di depan rumah,” ucap ibu.
Koer bercerita bahwa setan yang dikirim untuk menyerang ibu adalah kuntilanak. Ia menyebutkan dengan detail ciri-ciri dari kuntilanak itu. Katanya kuntilanak itu ompong, hanya ada dua taring. Tubuhnya pendek dan kurus, lalu memakai gaun berwarna hitam. Tentu saja aku merinding mendengar penjelasan dari Koer. Ditambah lagi kuntilanak yang disebutkan oleh Koer itu aku lihat setengah tahun yang lalu mengetuk jendela kamarku di jam 11 malam.
Baca Juga
Cerpen: Wong Nyupang
“Kalau mau melihatnya gampang, di jam 11 malam tepat. Tetapi sebelum itu seduh kopi hitam yang dicampur beras merah, bacakan ayat kursi sebanyak 111 kali. Lalu siramkan ke sekeliling rumah, sisakan sedikit saja. Setelah itu tunggu di teras, tak berselang lama pasti muncul. Setelah itu kalian tanya langsung ke kuntilanak tersebut, kiriman dari siapa, maharnya berapa, dukunnya siapa,” jelasnya.
“Kalau kuntilanak itu melawan?” tanyaku.
“Gunanya menyisakan seduhan kopi dan beras merah itu ya untuk jaga-jaga kalau kuntilanak itu melawan,” jawabnya.
Setelah itu Koer pamit ke belakang, tak berselang lama ia kembali ke ruang tamu. Kali ini ia membawa satu botol air mineral, lalu diserahkan kepada ibu. Ia berucap bahwa air tersebut diminum sebelum tidur.
Baca Juga
Cerpen: Perempuan Kedua
Awalnya kami berniat langsung pulang, tapi sebelum aku sempat bilang ingin pulang, ia langsung bercerita tentang banyak dari warga kampung yang melakukan praktek pesugihan. Desas-desus itu memang sudah sering aku dengar. Setelah membicarakan siapa saja yang terlibat dalam pesugihan dan jenis-jenis pesugihan yang mereka lakukan, Koer berganti topik obrolan. Ia membahas perihal nama.
Lalu ia menanyakan siapa nama lengkapku dan wetonku. Aku pun menjawab bahwa namaku adalah Amir Ramadhan Akbar, hari lahirku Jumat Manis. Kemudian ia menghitung sesuatu entah apa dengan jarinya.
“Nama yang bagus. Berdasarkan hitungan kamu bisa sukses, berlimpah kekayaan asalkan sabar, jangan tergesa-gesa dalam mengambil keputusan” ucapnya.
“Satu lagi, kalau hari Jumat, jam 9-10 pagi diusahakan jangan bepergian,” imbuhnya.
Baca Juga
Cerita Pendek: Perjanjian Kedua Iblis
“Kenapa?” tanyaku.
“Karena bepergian di jam tersebut, pasti ada saja masalahnya kan?”
Aku hanya diam mendapat jawaban demikian, sambil mengingat-ingat peristiwa yang pernah aku alami. Seingatku, aku pernah 3 kali mengalami kejadian buruk di jam tersebut, dengan Jumat yang berbeda. Pernah uangku jatuh dengan nominal lumayan. Lalu kedua, hampir ditabrak mobil ketika lampu merah. Ketiga, hampir diserempet motor.
Kemudian ibuku izin pamit terlebih dahulu, sebab sudah waktunya ia harus tidur. Ia dijemput oleh pamanku. Sementara itu aku tetap di rumah Koer, sebab obrolan belum tuntas.
Baca Juga
Cerita Pendek: Gambar Buatan
“Nama ibumu Labibah, lahir Sabtu Manis, nama bapakmu dan wetonnya?”
“Jamal, Rabu Pahing.”
Kembali ia menghitung dengan jari tangannya. Ia mengatakan bahwa weton ibuku sebenarnya membawa keberuntungan dalam berdagang. Namun, bapaku tak cocok berdagang, tangannya panas. Aku jadi ingat dulu bapaku, dua puluh tahun lalu pernah lima kali membuka restoran. Namun, berakhir dengan kebangkrutan.
“Kehidupan rumah tangga orang tuamu dalam hal sandang, pangan, papan memang terpenuhi, tetapi sulit untuk mewujudkan kebutuhan tersier,” katanya.
Baca Juga
Cerita Pendek: Alhamdulillah
“Apa gara-gara bapaku anak ketiga, sementara ibuku anak pertama?” tanyaku. Ya, aku memang pernah mendengar dari beberapa orang, kalau anak pertama cocoknya menikah dengan anak bungsu. Diibaratkan dalam pepatah Jawa sebagai 'sumbu ketemu tutup', dengan kata lain adalah pernikahan yang ideal. Sementara itu mitosnya anak pertama yang menikah dengan anak ketiga, akan membawa ketidakberuntungan.
“Ya,” jawabnya singkat.
Sebenarnya aku ingin menanyakan kepada Koer, tentang banyak hal. Aku ingin menanyakan tentang nama dan weton keluargaku yang lain. Selain itu, aku juga ingin menanyakan kepadanya tentang kekasihku yang sedang menempuh studi di Belanda sana. Apakah Gentari cocok menikah denganku. Tetapi aku jadi takut untuk menanyakannya. Jangan-jangan kalau jawaban Koer negatif, malah memperkeruh hubungan aku dengan Gentari.
Koer menanyakan, apakah aku sudah memiliki calon. Aku hanya tersenyum, ia pun menawarkan untuk membantu menghitungnya.
Baca Juga
Cerita Pendek: Nyeser
“Siapa nama calonmu dan wetonnya, biar aku hitung. Kalau hitungannya nggak cocok kan bisa dicari solusi dari sekarang.”
“Belum punya calon,” kataku bohong.
Aku pun berusaha untuk mengalihkan dengan obrolan tentang ganti nama. “Dahulu kalau ganti nama itu mudah, slametan, bikin bubur merah putih. Tetapi kalau sekarang mengganti nama ribetnya bukan main, harus melalui penetapan di pengadilan terlebih dahulu. Setelah dikabulkan, nama ijazah juga harus diganti, ngurus lagi,” kataku.
“Kalau mau ganti nama, di KTP nggak perlu diganti, biarkan saja. Nama baru, tak perlu ditulis di KTP,” paparnya.
Baca Juga
Cerpen: Asal Muasal Kebiadaban
Selanjutnya aku pamit, sebab tak elok rasanya bertamu terlalu lama, apalagi di larut malam. Sepanjang perjalanan pulang ke rumah, aku jadi bingung. Diriku terasa berada di dua sisi, antara percaya atau tidak. Kalau ini kebetulan, kenapa ucapan Koer terasa begitu tepat? Ada bagian dalam diriku yang ingin percaya, tapi ada juga yang menolak mentah-mentah.
Sesampainya di kamar, Gentari meneleponku. Hal pertama yang terucap dari bibirnya adalah pertanyaan tentang ibu, bagaimana keadaannya, dan apakah jadi dibawa ke pengobatan alternatif. Lalu sebelum menutup telepon, ia memintaku untuk menjaga ibu dengan sepenuh hati. Teringat akan perhatiannya kepada ibu selama ini, membuat aku sejenak melupakan pertanyaan apakah dari segi weton, aku dan Gentari cocok.
Malik Ibnu Zaman lahir di Tegal Jawa Tengah. Menulis cerpen, puisi, esai, dan resensi yang tersebar di beberapa media online. Buku terbarunya sebuah kumpulan puisi berjudul Kumpulan Orang Kalah (2026).
Terpopuler
1
KH Miftachul Akhyar: Muktamar Ke-35 Jadi Pelajaran NU untuk Berani Keluar dari Kebiasaan
2
Hukum Mengambil Air Masjid untuk Kebutuhan Warga Saat Kekeringan, Bolehkah?
3
Khutbah Jumat: Hati Merasa Jauh dari Allah, Apa yang Harus Dilakukan?
4
Khutbah Istisqa: Saat Kekeringan Melanda Saatnya Muhasabah dan Berbenah Diri
5
Khutbah Jumat: Musim Kemarau dan Anjuran Hemat Air dalam Islam
6
Membaca Ulang Fiqih Pajak: Agenda yang Tersisa dari Muktamar Ke-35 NU
Terkini
Lihat Semua