Malam itu hujan deras mengguyur Desa Karangsari. Ahmad Syaifudin duduk termenung di emperan rumah kayu tuanya, menatap kosong ke arah langit gelap. Pria berusia 35 tahun itu tampak jauh lebih tua dari usianya. Kerutan di wajahnya menceritakan kisah panjang tentang penyesalan yang menggunung.
"Mas Ahmad, masuk dulu. Nanti masuk angin," suara lembut ibunya, Nyai Khodijah, terdengar dari dalam rumah.
Ahmad hanya mengangguk tanpa berkata apa-pun. Matanya masih terpaku pada gerimis yang mulai reda.Â
Sudah lima tahun berlalu sejak Ahmad meninggalkan Pesantren Al-Hikam tempat ia mengaji sejak kecil. Lima tahun yang penuh dengan keputusan keliru, jalan yang sesat, dan dosa yang ia sendiri tak sanggup menghitungnya. Ahmad yang dulu adalah santri pondok pesantren meskipun tidak sampau selesai. Kini, ia hanya seonggok manusia yang kehilangan arah.
***
Baca Juga
Cerpen: Perempuan Kedua
Nyai Khodijah keluar membawa secangkir teh hangat. Wanita paruh baya yang masih setia mengenakan sarung batik dan kerudung putih itu duduk di samping anaknya. Tidak ada kata yang terucap, hanya keheningan yang berbicara di antara mereka berdua.
"Ibu tahu, ananda lagi gelisah," ucap Nyai Khodijah akhirnya memecah keheningan.
Ahmad menunduk. Air matanya mulai menggenang. "Ibu, aku sudah terlalu jauh tersesat. Dosaku sudah menggunung. Aku malu Bu, malu sama Allah, malu sama Ibu, malu sama guru-guruku di pesantren."
Nyai Khodijah mengusap lembut punggung anaknya. "Ananda ingat nggak waktu kecil, Ibu sering cerita tentang Sahabat Nabi yang dulunya pembunuh tapi kemudian masuk surga?"
"Wahsyi bin Harb," jawab Ahmad pelan.
Baca Juga
Cerpen: Wong Nyupang
"Nah, kalau dia yang membunuh Hamzah pamannya Nabi aja bisa diampuni Allah, masa dosa Mas Ahmad nggak bisa diampuni? Allah Maha Pengampun, Mas. Pintu taubat selalu terbuka."
Ahmad memeluk ibunya dan menangis tersedu-sedu. Tangisan yang sudah lama ia pendam, tangisan penyesalan, tangisan harapan yang hampir padam.
***
Keesokan paginya, Ahmad memutuskan untuk mengunjungi makam ayahnya, Kiai Munawir, yang meninggal tiga tahun lalu. Kiai Munawir adalah pengasuh pesantren kecil di desa itu, seorang ulama yang dihormati. Ahmad masih ingat pesan terakhir ayahnya sebelum wafat.
"Ahmad, ayah tahu kamu sedang tersesat. Tapi ingat nak, selama ruh masih di badan, taubat masih bisa diterima. Jangan pernah putus asa dari rahmat Allah."
Baca Juga
Cerpen: Asal Muasal Kebiadaban
Ahmad berjalan menyusuri jalan setapak menuju pemakaman. Kabut pagi masih menyelimuti perkampungan. Sesampainya di makam ayahnya, Ahmad duduk bersimpuh. Ia membaca tahlil dengan suara bergetar.
"Ayah, Ahmad minta maaf. Ahmad telah mengecewakan Ayah. Ahmad sudah jauh dari ajaran yang Ayah tanamkan sejak kecil. Ahmad..." suaranya tercekat.
Angin pagi berhembus pelan, seolah membawa bisikan lembut. Ahmad merasakan ketenangan yang aneh, seolah ayahnya tengah memeluknya dari alam sana.
"Ahmad!" sebuah suara mengagetkannya.
Ahmad menoleh. Di sana berdiri Gus Malik, adik kelasnya dulu di pesantren yang kini menjadi ustadz muda di Al-Hikam. Gus Malik mengenakan sarung kotak-kotak dan peci hitam, khas santri.
Baca Juga
Cerpen: Tirakat yang Gagal
"Gus Malik? Njenengan kok ada di sini?" tanya Ahmad terkejut.
"Saya mau ziarah kubur sekalian tahlilan untuk almarhumah nenek saya. Eh malah ketemu sampeyan," jawab Gus Malik sambil tersenyum. "Alhamdulillah."
​​​​​​​Mereka berdua duduk di depan nisan Kiai Munawir. Gus Malik melirik Ahmad yang tampak kurus dan pucat.
"Mas Ahmad, sudah lama kita nggak ketemu. Kabar sampeyan gimana?"
​​​​​​​Ahmad terdiam. Ia tak tahu harus menjawab apa. Gus Malik meletakkan tangannya di pundak Ahmad.
"Mas, kalau sampeyan lagi susah, cerita aja. Saya nggak akan menghakimi. Kita ini saudara sesama Muslim. Prinsip kita kan tasamuh, toleransi."
Ahmad menarik nafas panjang. "Gus, aku sudah terlalu banyak berbuat dosa. Aku malu untuk kembali. Aku takut nggak akan diterima lagi."
"Diterima sama siapa? Allah atau manusia?"
"Dua-duanya, Gus."
​​​​​​​Gus Malik tersenyum. "Kalau Allah, jelas diterima Mas. Allah itu Maha Pengampun. Dalam hadits qudsi, Allah berfirman: 'Wahai anak Adam, selama engkau berdoa kepada-Ku dan mengharap kepada-Ku, Aku akan mengampuni dosamu, dan Aku tidak peduli.' Kalau manusia, ya sudahlah. Yang penting Allah ridha."
Baca Juga
Cerpen: Kau Sama di Hadapan-Nya
"Tapi aku sudah meninggalkan shalat, Gus. Aku sudah melakukan hal-hal yang memalukan. Aku minum, berjudi, dan... dan banyak lagi yang lain."
"Mas Ahmad, justru karena sudah sadar itulah sampeyan harus segera bertaubat. Jangan ditunda-tunda. Setan itu pintar, dia akan bisiki sampeyan untuk menunda-nunda taubat sampai besok, besok, dan besok lagi. Sampai akhirnya ajal datang."
​​​​​​​Ahmad menangis lagi. Gus Malik membiarkannya menangis, karena ia tahu tangisan itu adalah langkah awal penyembuhan.
"Gus, aku mau bertaubat. Tapi aku nggak tahu harus mulai dari mana. Rasanya beban dosa ini terlalu berat."
"Mulai dari yang kecil, Mas. Mulai dari shalat lima waktu dulu. Terus istighfar sebanyak-banyaknya. Sampeyan ingat nggak, dulu Kiai Munawir sering ngaji kitab Ihya Ulumuddin?"
Baca Juga
Laki-Laki Bernama Karta
​​​​​​​Ahmad mengangguk.
"Imam Al-Ghazali bilang, taubat itu ada tiga rukun: menyesali dosa yang lalu, meninggalkan dosa seketika, dan bertekad untuk tidak mengulanginya lagi. Sampeyan sudah punya rasa sesal, sekarang tinggal meninggalkan dosa dan bertekad tidak mengulangi."
"Tapi Gus, aku takut nggak kuat. Takut balik lagi ke jalan yang salah."
"Makanya sampeyan harus punya lingkungan yang baik. Sampeyan tahu kita punya tradisi majelis taklim, yasinan, tahlilan. Ikut aja kegiatan-kegiatan itu. Jangan mengurung diri. Biar ada kontrol sosial."
​​​​​​​Ahmad menatap Gus Malik. "Apa warga di sini nggak akan menghakimiku?"
Baca Juga
Hingga Beduk Ashar
"Sampeyan jangan terlalu mikirin omongan orang. Yang penting niat sampeyan tulus. Lagian, warga desa ini mayoritas paham konsep taubat. Mereka akan dukung sampeyan kok."
​​​​​​​Setelah berbincang cukup lama, Gus Malik mengajak Ahmad untuk datang ke pengajian rutin di musholla desa malam itu. Ahmad ragu, tapi akhirnya mengangguk pelan.
​​​​​​​Malam itu, Ahmad memberanikan diri datang ke Mushala Al-Ikhlas. Mushala kecil itu sudah ramai dengan jamaah, kebanyakan bapak-bapak dan pemuda desa. Ahmad duduk di pojok belakang, mencoba tidak menarik perhatian.
"Mas Ahmad! Alhamdulillah sampeyan datang!" seru Pak Saroji, ketua takmir musholla, dengan antusias.
​​​​​​​Beberapa kepala menoleh. Ahmad merasa tidak nyaman dengan tatapan mereka. Tapi Pak Saroji merangkulnya dengan hangat.
"Monggo duduk di depan, Mas. Nggak usah di pojok. Kita semua saudara di sini."
​​​​​​​Pengajian malam itu membahas kitab Riyadhus Shalihin. Ustadz Mahfudz, seorang ulama sepuh yang sudah mengajar sejak zaman Kiai Munawir masih hidup, membacakan hadits dengan suara yang merdu.
"Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: 'Sesungguhnya Allah sangat gembira dengan taubatnya hamba-Nya, melebihi kegembiraan salah seorang dari kalian yang menemukan untanya yang hilang di padang pasir yang tandus.'"
​​​​​​​Ahmad merasakan getaran di hatinya mendengar hadits itu. Air matanya mengalir tanpa bisa ia bendung. Ustadz Mahfudz melihat Ahmad dan tersenyum lembut.
"Saudara-saudara, taubat itu bukan tanda kelemahan. Taubat itu tanda keberanian. Berani mengakui kesalahan, berani merubah diri. Dan Allah itu Maha Pemurah, Dia tidak akan menolak hamba yang kembali dengan hati yang tulus."
​​​​​​​Setelah pengajian selesai, Ustadz Mahfudz memanggil Ahmad. "Le Ahmad, ayo kesini sebentar."
​​​​​​​Ahmad mendekati sang ustadz dengan perasaan campur aduk. Takut, malu, tapi juga rindu pada sosok guru yang dulu sering membimbingnya.
"Ustadz, saya..." kata-kata Ahmad terputus.
​​​​​​​Ustadz Mahfudz memeluk Ahmad. "Nggak usah ngomong apa-apa. Ustadz tahu kok. Yang penting sekarang kamu sudah kembali. Ayahmu pasti senang melihat dari sana."
"Tapi Ustadz, saya sudah terlalu banyak berbuat salah. Saya sudah mengecewakan almarhum Bapak, mengecewakan Ustadz, mengecewakan semua orang."
​​​​​​​"Le Ahmad, dengerin Ustadz. Kita punya prinsip yang indah sekali: 'Al-muhafadhatu 'ala al-qadim ash-shalih wa al-akhdzu bi al-jadid al-ashlah' Menjaga tradisi lama yang baik dan mengambil hal baru yang lebih baik. Kamu boleh jatuh, itu tradisi lama kamu yang jelek. Sekarang saatnya kamu ambil jalan baru yang lebih baik. Gitu aja kok."
"Tapi saya takut nggak kuat, Ustadz."
"Kamu tidak sendirian. Kamu punya Ibu yang selalu mendoakan, punya warga desa yang akan dukung, punya Allah yang Maha Pengasih. Kamu juga punya tradisi yang kaya dengan dzikir, wirid, dan amalan-amalan yang bisa menguatkan hatimu."
​​​​​​​Ustadz Mahfudz mengeluarkan sebuah buku kecil dari sakunya. "Ini Ustadz kasih buat kamu. Wirid Ratib al-Haddad. Baca setiap habis Maghrib dan Subuh. Insyaallah hatimu akan tenang."
​​​​​​​Ahmad menerima buku itu dengan tangan bergetar. "Terima kasih, Ustadz."
"Mulai besok, kamu shalat berjamaah di mushala ini. Yang penting konsisten dulu."
​​​​​​​Malam itu Ahmad pulang dengan perasaan lebih ringan. Di kamarnya, ia mencoba membaca Ratib al-Haddad. Suaranya bergetar, berkali-kali terhenti karena tangisan. Tapi ia terus melanjutkan hingga selesai.
​​​​​​​Ibunya mendengar dari luar kamar. Nyai Khodijah tersenyum sambil menyeka air matanya. Ia langsung sujud syukur, berdoa panjang untuk kesembuhan jiwa anaknya.
​​​​​​​Esok paginya, pukul setengah lima subuh, Ahmad sudah bersiap ke mushala. Ini pertama kalinya dalam lima tahun ia shalat subuh berjamaah. Kakinya terasa berat, tapi ia terus melangkah.
Saat iqamah dikumandangkan, Ahmad berdiri di shaf. Hatinya berdebar keras. Ketika takbir, air matanya langsung mengalir deras. Sujudnya begitu panjang, ia menangis dalam sujud, memohon ampunan.
"Ya Allah, terimalah taubatku. Aku kembali kepada-Mu dengan segala kesalahan dan dosaku. Ampunilah aku ya Rabb."
​​​​​​​Setelah shalat, mereka melakukan wirid bersama. Suara tahlil dan shalawat mengalun merdu. Ahmad merasakan ketenangan yang sudah lama tidak ia rasakan.
Hari-hari berikutnya, Ahmad berusaha konsisten shalat berjamaah. Awalnya sangat berat. Godaan untuk kembali ke kebiasaan lama sangat kuat. Teman-teman lamanya menghubungi, mengajak untuk berkumpul lagi.
"Mad, ayo kumpul kayak dulu. Lu ke mana aja sih?"
​​​​​​​Ahmad menggenggam ponselnya erat. "Maaf, gua lagi ada urusan. Gua gak bisa."
"Ah lu sok suci sekarang ya? Jangan lupa diri lu!"
​​​​​​​Ahmad mematikan ponselnya. Tangannya gemetar. Ia segera mengambil tasbih dan berdzikir, mencoba menenangkan hatinya.
​​​​​​​Gus Malik yang mengetahui perjuangan Ahmad, sering mampir untuk memberi semangat.
"Mas Ahmad, sampeyan tahu nggak, kenapa kita punya tradisi istighosah dan tahlilan rutin?"
"Untuk apa, Gus?"
"Salah satunya untuk saling menguatkan. Kita ini makhluk sosial, butuh dukungan komunitas. Makanya Rasulullah bilang, 'Yad Allah ma'a al-jama'ah' Tangan Allah bersama jamaah. Sampeyan gak usah berjuang sendirian."
"Tapi Gus, kadang saya masih merasa godaan sangat kuat. Saya takut jatuh lagi."
"Wajar, Mas. Namanya juga setan, tugasnya memang menggoda. Tapi sampeyan harus ingat, Allah lebih kuat dari shaitan. Sampeyan tau hadits tentang taubat yang diterima Allah?"
Ahmad menggeleng.
"Rasulullah bersabda: 'Orang yang bertaubat dari dosa seperti orang yang tidak berdosa.' Ini bukan berarti dosa hilang begitu saja, tapi Allah akan menghapus dosa itu kalau taubatnya tulus. Bahkan lebih dari itu, Allah bisa merubah dosa-dosa itu jadi kebaikan."
"Kok bisa, Gus?"
"Allah berfirman dalam Al-Quran surat Al-Furqan ayat 70: 'Kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman, dan beramal saleh; maka kejahatan mereka diganti Allah dengan kebaikan. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.' Luar biasa kan rahmat Allah?"
​​​​​​​Ahmad terdiam meresapi penjelasan Gus Malik. Hatinya terasa hangat.
"Gus, saya boleh minta tolong nggak?"
"Silakan, Mas."
"Saya mau belajar ngaji lagi dari awal. Saya sudah lupa banyak. Bisa gak Gus Malik ngajari saya?"
​​​​​​​Gus Malik tersenyum lebar. "Alhamdulillah, dengan senang hati, Mas. Kita mulai dari Al-Quran. Setiap bakaa Isya kita ngaji bareng di mushala. Sampeyan mau?"
"Mau, Gus. Sangat mau."
​​​​​​​Sejak saat itu, Ahmad rutin mengaji dengan Gus Malik. Mereka membaca Al-Quran dengan tartil, mempelajari kembali tajwid, dan membahas tafsir.
​​​​​​​Suatu malam, setelah mengaji, Ahmad bertanya pada Gus Malik. "Gus, kenapa ya Allah menciptakan kita yang mudah berbuat salah? Kenapa kita gak diciptakan sempurna seperti malaikat?"
​​​​​​​Gus Malik tersenyum. "Pertanyaan yang bagus. Imam Al-Ghazali pernah menjawab pertanyaan serupa. Beliau bilang, kalau manusia diciptakan sempurna, tidak akan ada makna taubat, tidak akan ada makna perjuangan, tidak akan ada makna rahmat dan ampunan Allah yang luar biasa besar. Justru karena kita lemah dan mudah berbuat salah, maka kita bisa merasakan betapa mulianya rahmat Allah."
"Jadi dosa itu... bagian dari rencana Allah?"
"Bukan seperti itu, Mas. Allah tidak ridha dengan dosa. Tapi Allah tau bahwa manusia pasti akan berbuat salah. Makanya Allah memberikan pintu taubat. Rasulullah bersabda: 'Seandainya kalian tidak berbuat dosa, Allah akan mengganti kalian dengan kaum yang berbuat dosa, lalu mereka meminta ampun kepada Allah, dan Allah mengampuni mereka.' Artinya, Allah sangat cinta dengan hamba yang bertaubat."
​​​​​​​Ahmad merenungkan kata-kata Gus Malik. Perlahan, ia mulai memahami konsep taubat yang sesungguhnya.
Terpopuler
1
Khutbah Jumat: Menjadi Teladan yang Dikenang Sepanjang Zaman
2
Khutbah Jumat: Menyeimbangkan 5 Unsur Utama dalam Diri Manusia
3
Khutbah Jumat: Makna dan Keutamaan Membaca Basmalah
4
Khutbah Jumat: Zakat, Jalan Menuju Masyarakat Adil dan Peduli
5
MBG dan Larangan Pemborosan dalam Islam
6
War Haji, Jalan Pintas yang Berpotensi Sengketa
Terkini
Lihat Semua