Cerpen

Percakapan Matahari dan Bulan

NU Online  ·  Ahad, 10 Mei 2026 | 07:00 WIB

Percakapan Matahari dan Bulan

Ilustrasi (NU Online/Meta AI)

Memasuki malam ke-13 peredaraannya—yang dari bumi keindahaannya kian tampak dalam balutan sinar membulat hampir-hampir sempurna—, kegelisahannya kian menjadi-jadi. Karena belakangan, menurutnya, orang-orang sepertinya tidak lagi suka memandanginya apalagi membicarakannya. Tidak seperti di masa lalu, sebelum mereka menemukan lampu, mereka menjadikan sinarnya sebagai penerang perjalanan; apabila sedang purnama, di bawah keteduhan pancaran sinarnya, bocah-bocah selepas ngaji di langgar tampak riang bermain jonjangan di halaman rumah ditunggui orang tua mereka duduk-duduk di serambi sambil sesekali menyenandungkan keindahannya. Akan tetapi, kini mereka—baik para orang tua maupun bocah-bocah—tampak lebih sering menunduk sembari mengelus-elus benda kotak bercahaya di tangan mereka.


Kegelisahannya bertambah-tambah saat ia teringat beberapa hari lalu ia mendengar kabar bahwa orang-orang sekarang lebih suka memperhatikan Matahari. Apa yang telah dilakukan oleh Matahari, demikian benaknya, sehingga merebut perhatian orang-orang? Apa mungkin Matahari memberitahu orang-orang bahwa sinarnya hanya pantulan cahaya Matahari sehingga orang-orang lebih memperhatikan matahari ketimbang dirinya?

 

Semakin lama ia memikirkannya, ia terseret untuk berburuk sangka pada Matahari. Kemudian, daripada menyangka yang bukan-bukan, ia berniat meminta penjelasan langsung pada Matahari mengenai kabar tersebut.


Maka, pada saat mereka berpapasan, setelah mengucap salam yang kemudian dibalas salam oleh Matahari, Bulan menanyakan bagaimana keadaan Matahari.
Mula-mula seusai mengucap hamdalah, Matahari menyatakan bahwa dirinya dalam keadaan sehat wal afiat, tanpa kekurangan suatu apa. Kemudian, saat Matahari menyatakan dengan nada penuh kekaguman bahwa dirinya sedang memikirkan potensi yang ada dalam dirinya yang sedemikian hebat berupa luapan energi yang amat dahsyat yang mana pancaran cahayanya mampu menerangi bumi yang jaraknya sedemikian jauh, selintas Bulan menangkap semacam kebanggaan diri yang bisa memercikan kesombongan pada diri Matahari. Dari sini, selintas ia pun kembali tergoda untuk berburuk sangka bahwa Matahari telah berbuat sesuatu sehingga orang-orang lebih menyukai Matahari ketimbang dirinya.


Akan tetapi, saat Matahari melanjutkan jawabannya yang menyatakan bahwa potensi dirinya yang sedemikian dan telah berlangsung selama ribuan tahun hingga sekarang tidak lain sebab kehebatan Dzat yang menciptakan, mengatur dan memeliharanya, Bulan menyadari bahwa nada kekaguman Matahari ternyata untuk mengagumi Pencipta mereka, Gusti Allah Ta’ala.


Kemudian, sembari menepis buruk sangkanya, Bulan menceritakan bahwa di antara sekian kebahagiaannya adalah keberadaan dirinya yang merupakan tanda—bukti—keberadaan Dzat yang menciptakan dirinya juga alam semesta beserta seluruh isinya, Gusti Allah Ta’ala. Menurutnya, semakin banyak orang memperhatikannya, maka akan semakin banyak kesempatan mereka menyadari adanya Sang Pencipta lewat kehadirannya. Maka, wajar apabila ia kini gelisah karena orang-orang kian jarang memperhatikannya.

 

Setelah diam untuk beberapa saat, ia melanjutkan dengan menyatakan bahwa keadaannya ini berbeda dengan Matahari yang kabarnya belakangan menyita perhatian orang-orang, dan ini barang tentu membuat Matahari bahagia.

 

Atas pernyataan tersebut, mula-mula Matahari menyatakan bahwa memang belakangan orang-orang, selain suka membicarakannya, mereka pun suka berjemur menikmati pancaran cahayanya. Karena kabarnya, menurut orang-orang, hal itu berguna bagi kesehatan mereka. Hal itu, sudah barang tentu membuatnya bahagia. Karena, sebagaimana Bulan, ia pun bahagia menjadi tanda keberadaan Sang Pencipta. Ia pun sependapat dengan Bulan bahwa semakin banyak orang memperhatikannya, maka akan semakin banyak kesempatan mereka menyadari adanya Sang Pencipta lewat kehadirannya. Persoalannya kemudian, kebanyakan orang membicarakannya sebatas manfaatnya bagi mereka alias tidak membicarakannya sebagai bukti yang amat nyata bahwa adanya adalah tanda keberadaan Gusti Allah Ta’ala.

 

Pada titik ini, lanjut Matahari, mula-mula ia pun merasakan kegelisahan yang nyaris sama dengan Bulan. Akan tetapi, katanya kemudian, kita tidak pernah tahu, boleh jadi lewat kebermanfaatan kita bagi mereka, lama-lama menjadikan mereka memikirkan keberadaan kita. Dan, boleh jadi dari sini mereka menyadari keberadaan Pencipta kita juga mereka, Gusti Allah Ta’ala.


Jawaban tersebut mengingatkan Bulan bahwa kehadirannya di awal peredaran masih dinanti oleh sebagian orang untuk menandai masuknya awal bulan. Dan ini adalah salah satu dari sekian manfaatnya bagi mereka. Selain itu, pernah ia mendengar kabar bahwa seorang ulama yang mendalami bidang tafsir Al-Qur’an membuat perumpaan tentang proses perjalanan hidup manusia di dunia dengan dirinya: penampakannya dari bumi yang sebelum sabit, ia tidak kelihatan, kemudian tampak sedikit demi sedikit seperti sabit hingga separuh hingga bulat sempurna pada malam ke-15  peredarannya.


Setelah itu, dari malam ke malam penampakannya sedikit demi sedikit berkurang hingga tidak kelihatan kembali. Ini seperti fase demi fase yang dialami oleh manusia: mula-mula ia tidak ada, kemudian lahir dalam keadaan lemah berupa seorang bayi kecil ibarat bulan sabit. Kemudian tumbuh seiring bertambah kemampuannya hingga sempurna umurnya ibarat bulan purnama yang terang benderang sinarnya. Setelah itu, dari waktu ke waktu sedikit demi sedikit kemampuannya berkurang hingga manusia kembali tiada—meninggal dunia.

 

Kemudian ia menyimpulkan bahwa keberadaannya kini di alam raya dengan segala potensi hingga waktu yang tidak ada yang tahu kecuali oleh Penciptanya, adalah karunia yang harus ia syukuri. Karena kabarnya, di antara bintang-bintang di angkasa, ada yang lahir dan mati. Sedang dirinya sampai kini masih hidup, masih beredar mengelilingi bumi dengan sekian manfaat bagi manusia.

 

Demikianlah percakapan Matahari dan Bulan pada suatu siang yang, apabila dilihat dari tempat sampean, mereka tampak berdekatan.


Doplangkarta, 28 Februari 2022
 

Gabung di WhatsApp Channel NU Online untuk info dan inspirasi terbaru!
Gabung Sekarang