Cerpen

Cerpen: Keluar dari Dalam Goa

NU Online  ·  Ahad, 26 April 2026 | 18:00 WIB

Cerpen: Riswo Mulyadi

Goa itu tidak pernah benar-benar gelap. Ia hanya terlalu lama menyimpan diam, seperti dada yang lupa cara berdebar.


Aku masuk ke sana tanpa upacara. Tanpa pamit pada siapa pun. Hanya membawa tubuh yang letih dan pikiran yang seperti benang kusut. Di dalamnya, waktu tidak berjalan lurus. Ia berputar, kadang seperti asap, kadang seperti doa yang tak tuntas dilafalkan.


Aku berdiri di ambangnya, dengan lutut gemetar. Batu-batu di dinding seperti menyimpan riwayat napas orang-orang sebelumku. Ada yang pernah berdoa di sini, ada yang menangis diam-diam, ada pula yang memilih tinggal dan menamai kegelapan sebagai rumah.

 

Lalu suara itu pecah.

 

Seseorang berlari.


Ia tidak berjalan seperti manusia yang ragu pada nasibnya. Ia berlari seperti waktu yang menolak ditahan. Di barisan paling depan, Chairil menendang pintu batu yang selama ini kami tatap seperti takdir. Sekali hantam, retak. Sekali teriak, dunia seperti terguncang.


“Maju!” suaranya menyambar seperti petir yang tersesat ke dalam dada.

 

Aku melihat darah di dadanya, tapi ia tidak tampak peduli. Luka itu seperti bendera. Berkibar, bukan disembunyikan.


“Apa kau mau mati di dalam sini?” ia menoleh sekilas, matanya seperti api yang lapar.

 

Aku tidak sempat menjawab. Karena di sampingku, seseorang menarik lenganku perlahan.


Sosoknya seperti Sapardi.

 

Ia tidak membawa api. Ia membawa hujan.

 


“Jangan terburu-buru,” katanya pelan, hampir seperti angin yang lewat di antara rambutku. “Dengarkan dulu.”


Aku diam.


Dan entah bagaimana, untuk pertama kalinya aku mendengar sesuatu yang sebelumnya selalu terlewat: tetes air yang jatuh dari langit-langit goa. Bukan sekadar air. Ada suara tanah yang menerimanya. Ada percakapan yang selama ini tidak pernah kupahami.


“Setiap perpisahan punya cara sendiri untuk pamit,” lanjutnya. “Bahkan dingin pun tidak pergi dengan kasar.”

 

Aku menunduk. Kemejaku basah, entah oleh embun atau oleh sesuatu yang diam-diam ingin menetap.

 

Belum sempat aku mengerti sepenuhnya, tawa kecil terdengar dari sisi lain.


Jokpin.

 

Ia duduk santai di atas batu, sibuk membersihkan celananya dari lumpur, seolah dunia tidak sedang berada di ambang perubahan besar.

 

“Goa ini,” katanya sambil terkekeh, “seperti kamar mandi yang dikunci terlalu lama. Bau kenangan dan kesepian bercampur jadi satu.”

 

Aku tak kuasa menahan senyum.

 

Ia menyodorkan sesuatu yang tak terlihat.


“Ini, roti. Dan kopi. Biar nanti kau tidak kaget kalau di luar sana ternyata Tuhan sedang sibuk menjemur pakaian.”


Aku tertawa kecil, meski tak sepenuhnya mengerti. Tapi anehnya, aku merasa lebih ringan.


Dari arah belakang, langkah-langkah lain mendekat.

 

Namun mereka tidak berjalan seperti kami.


Mereka menari.

 

Rumi dan Rabi’ah.


Kaki mereka tidak benar-benar menyentuh tanah, atau mungkin tanah yang memilih menyesuaikan diri pada langkah mereka. Wajah mereka tidak memandang dinding, tidak pula pintu. Mereka seperti melihat sesuatu yang tidak kasatmata, sesuatu yang justru lebih nyata.


“Kenapa kau takut keluar?” tanya Rumi, matanya dalam seperti samudra yang tidak pernah kehabisan rahasia.

 

Aku terdiam.


Rabi’ah tersenyum, bukan pada wajahku, tapi seolah langsung ke jantungku.


“Dunia di luar itu kecil,” katanya lembut. “Yang luas adalah cinta yang kau bawa.”

 

Aku merasa sesuatu runtuh di dalam diriku. Bukan ketakutan. Tapi tembok yang selama ini kusebut sebagai perlindungan.


Langkah terakhir datang paling pelan.

 

Namun justru paling terasa.


Sosoknya seperti Gus Mus, yang pernah kulihat di layar kaca.


Ia tidak berkata apa-apa pada awalnya. Hanya menepuk bahuku, seperti seorang ayah yang tahu anaknya sedang berperang dengan dirinya sendiri.

 

“Ayo,” katanya akhirnya, suaranya hangat seperti senja yang tidak pernah memaksa malam datang lebih cepat. “Dunia memang berisik. Kadang menipu. Tapi di situlah kau belajar jadi manusia.”


Manusia.

 

Kata itu terasa asing, sekaligus akrab.

 

Aku menoleh ke depan.

 

Aku mengangguk.

 

Entah sejak kapan, tanganku tidak lagi mencengkeram batu.


Seseorang di sampingku—yang sejak tadi diam seperti bayangan yang setia—berbisik,

 

“Kau tidak sendirian.”


Aku menoleh, tapi wajahnya seperti kabur. Mungkin ia memang bukan untuk dilihat, hanya untuk didengar.

 

“Pintu sudah terbuka.”

 

Dan benar.

 

Cahaya masuk seperti air yang menemukan celahnya sendiri. Pelan, tapi pasti. Hangat, tapi tidak menyilaukan.

 

Aku melangkah.


Satu langkah kecil, tapi terasa seperti meninggalkan seluruh masa lalu yang terlalu lama kugenggam.

 

Udara di luar berbeda.


Ia tidak menekan dada.


Ia mengisinya.

 

Aku mengangkat tangan.


Bukan lagi untuk menahan dinding.

 

Tapi untuk menggenggam sesuatu yang baru kusadari ada di sana.


Sebuah pena.

 

Masih ringan. Masih asing. Tapi seperti memiliki denyutnya sendiri.

 

Lalu seseorang menepuk punggungku.

 

“Ke mana kita akan berjalan setelah ini?”


Aku menoleh.

 

Wajah-wajah itu masih ada. Tapi kini tidak lagi seperti penunjuk jalan.

 

Mereka seperti... telah menyerahkan sesuatu.

 

Aku memandang ke depan.

 

Dunia terbentang, tidak dengan jawaban, tapi dengan kemungkinan.

 

Aku tersenyum kecil.


“Kita tidak berjalan,” kataku pelan.


“Kita menulis.”


Karang Anjog, April 2026

 

Riswo Mulyadi, lahir di Banyumas tahun 1968, aktif menulis puisi dan geguritan bahasa banyumasan. Buku kumpulan puisi tunggalnya: Gigir Bukit Sinawing (2017) Kumpulan Geguritan Banyumasan: Luh Netes Nang Gligire Sinawing (2023), Kini aktif sebagai pendidik di MI Ma’arif NU 1 Cilangkap Kecamatan Gumelar Banyumas, Jawa Tengah.

Gabung di WhatsApp Channel NU Online untuk info dan inspirasi terbaru!
Gabung Sekarang