Antara Kenangan dan Harapan: Menata Ulang Wisata Religi Batee Iliek Pascabanjir Aceh
NU Online · Ahad, 29 Maret 2026 | 08:00 WIB
Masayarakat menikmati keindahan Krueng Batee Iliek yang banyak berubah pascabanjir bandang 25 November 2025. Gambar diambil Jumat (27/3/2026) (Foto: NU Online/Helmi Abu Bakar)
Helmi Abu Bakar
Kontributor
Bireuen, NU Online
Empat bulan setelah bencana banjir, Batee Iliek di Bireuen Aceh, belum sepenuhnya pulih. Namun di tengah perubahan itu, harapan tetap tumbuh di antara masyarakat yang memiliki keterikatan emosional dengan kawasan tersebut.
Batee Iliek selain dikenal sebagai kawasan wisata alam, juga memiliki nilai sejarah penting dalam Perang Aceh. Kawasan ini tercatat sebagai benteng terakhir pertahanan rakyat Aceh saat menghadapi kolonial Belanda pada akhir abad ke-19. Di balik benteng pertahanan itu, mengalir sebuah sungai bersejarah yang dikenal sebagai Krueng Batee Iliek, yang menjadi saksi bisu perjuangan rakyat Aceh.
Dalam catatan sejarah, pada tahun 1877, Belanda mengirim sekitar 1.350 personel pasukan dengan persenjataan modern untuk menaklukkan wilayah ini. Namun, perlawanan sengit dari rakyat Aceh yang dipimpin oleh Teuku Chik Raja Bugis dan Pocut Meuligo membuat pasukan kolonial mengalami kesulitan besar. Strategi perang yang digunakan sangat efektif, dengan memanfaatkan kondisi geografis seperti Bukit Kuta Glee dan aliran Krueng Batee Iliek.
Bencana banjir bandang 25 November 2025 yang menghantam wilayah Aceh, termasuk Krueng Batee Iliek, datang dengan kekuatan yang sulit dibayangkan. Air bercampur tanah, batang kayu besar, bahkan material yang menyerupai raksasa mengalir ganas, seolah mencari mangsa di sepanjang aliran sungai.
Di tengah amukan itu, salah satu simbol paling penting ikut hilang—batu besar Batee Iliek. Batu tersebut selama ini dikenal sebagai magnet dan “the power” Krueng Batee Iliek, menjadi penanda sejarah sekaligus pusat daya tarik wisata religi yang dikunjungi masyarakat dari berbagai daerah.
Padahal, batu-batu di Krueng Batee Iliek memiliki sejarah panjang yang tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat. Batu-batu itu terbentuk secara alami melalui proses panjang alam—bermetamorfosis dari ukuran kecil hingga menjadi bongkahan besar yang kokoh di tengah aliran sungai.
Di sepanjang krueng itu, terdapat berbagai ukuran batu, dari yang kecil hingga raksasa. Batu terbesar yang hilang akibat banjir bahkan diperkirakan memiliki panjang sekitar 3 hingga 4 meter dengan lebar mencapai 1 hingga 2 meter. Keberadaannya selama ini menjadi ikon yang tidak tergantikan.
Dalam tradisi masyarakat, batu dari Krueng Batee Iliek juga memiliki nilai spiritual tersendiri. Ulama sepuh Samalanga, almarhum Abu Meuluem, pernah menganjurkan agar batu dari sungai tersebut digunakan sebagai penanda kuburan—diletakkan di bagian kepala dan kaki.
Penelusuran NU Online, sebelum banjir Bandang sebagaimana diungkapkan Ayah Meuluem (Tgk Hasanoel) batu lainnya Krueng atau sungai yang direkomendasikan Abu Meuleum adalah batee (batu) Krueng Tiro Pidie. Ini sebagaimana batu yang diletakkan di maqbarah allahyarham almursyid Abu Kuta Krueng Pijay. Hal ini dipercaya memiliki nilai plus, simbolik dan kedekatan dengan alam serta sejarah kawasan.
Seiring waktu, batu-batu dari Krueng Batee Iliek bahkan berkembang menjadi bagian dari aktivitas ekonomi masyarakat. Sebagian warga mulai mengambil dan menjual batu tersebut untuk berbagai kebutuhan, baik sebagai bahan bangunan maupun keperluan lain. Aktivis ini telah dilakukan masyarakat sekitar Krueng Batee Iliek.
Namun, hilangnya batu besar akibat banjir bandang menjadi pukulan tersendiri. Tidak hanya menghilangkan objek fisik, tetapi juga menghapus salah satu simbol penting yang selama ini melekat dalam identitas Batee Iliek.
Sebagian masyarakat masih datang ke lokasi, meski tidak seramai dulu. Mereka datang untuk mengenang, melihat perubahan, dan merasakan kembali jejak spiritual yang pernah hidup di sana.
Misniati, warga Pidie Jaya yang datang bersama keluarganya, mengaku terharu melihat kondisi terbaru kawasan tersebut. “Dulu kami sering ke sini. Batu itu selalu jadi tempat kami singgah. Sekarang sudah tidak ada. Rasanya seperti kehilangan sesuatu yang sangat berarti,” ujarnya pada Jumat (27/3/2026).
Menurutnya, Batee Iliek bukan hanya tempat wisata, tetapi ruang batin yang menyimpan kenangan. Kehilangan simbol-simbol penting membuat kawasan itu terasa berbeda, bahkan asing bagi sebagian orang.
Tokoh NU Bireuen, Tgk. Iswadi menilai bahwa kondisi ini harus menjadi momentum refleksi sekaligus kebangkitan. Ia menekankan bahwa meski simbol fisik hilang, nilai spiritual kawasan tersebut masih bisa dihidupkan kembali. “Yang hilang itu bentuknya, tapi maknanya jangan sampai hilang. Batee Iliek tetap harus menjadi ruang tafakkur dan pengingat sejarah,” jelasnya.
Ia juga menyoroti pentingnya peran pemerintah dalam menata ulang kawasan tersebut. Tidak hanya membangun kembali, tetapi juga menjaga nilai sejarah dan spiritual yang ada.
“Kalau dikelola dengan baik, ini bisa menjadi wisata religi yang kuat. Tapi harus hati-hati, jangan sampai kehilangan ruhnya,” tambahnya.
Abah Iswadi menambahkan bahwa Krueng Batee Iliek yang dahulu menjadi saksi lahirnya ulama dan peradaban kini menjadi pengingat akan kekuatan alam. Ia pernah menjadi sumber kehidupan, lalu berubah menjadi arus yang menghancurkan, dan kini menjadi ruang refleksi.
“Di tengah arus yang terus mengalir, masyarakat Samalanga masih menyimpan harapan. Bahwa suatu saat, kawasan ini akan kembali hidup—meski tidak sama seperti dulu, namun tetap membawa makna yang lebih dalam. Batee Iliek mungkin telah berubah, tetapi cerita dan ruhnya akan tetap mengalir bersama waktu,” paparnya.
Terpopuler
1
Khutbah Jumat: Keutamaan Silaturahmi dan Saling Memaafkan
2
Kunjungi Dubes Iran, Ketum PBNU Sampaikan Solidaritas dan Dukungan Moral
3
DPR Akan Bahas dan Kawal Proses Hukum Kasus Dugaan Pelecehan oleh Juri Tahfidz TV
4
Halal Bihalal sebagai Ijtihad Sosial Ulama Nusantara
5
Genosida Israel di Gaza Masih Belum Berhenti, 72.267 Jiwa Meninggal Sejak Oktober 2023
6
Pemerintah Akan Pangkas MBG Jadi 5 Hari, Begini Penjelasan Kepala BGN
Terkini
Lihat Semua