Cerita Anak Kos Menghadapi Tanggal Tua: Menahan Belanja hingga Masak Sendiri
NU Online Ā· Sabtu, 30 Mei 2026 | 20:00 WIB
Ayu Lestari
Kontributor
Rembang, NU Online
Bertahan di penghujung bulan masih menjadi tantangan bagi sebagian orang, terutama bagi para anak kos yang bekerja jauh dari kampung halaman. Saat pemasukan belum bertambah sementara kebutuhan tetap berjalan, berbagai strategi penghematan pun dilakukan agar keuangan tetap terkendali hingga awal bulan berikutnya.
Hesti, seorang anak kos yang bekerja sebagai penyaji makanan di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr. R. Soetrasno Rembang, mengaku memilih hidup lebih hemat saat memasuki akhir bulan.
Meski demikian, ia mengatakan tidak ada perubahan yang terlalu signifikan dalam pola makan antara awal dan akhir bulan. Hanya saja, ia lebih sering memasak sendiri untuk menekan pengeluaran.
āBiasanya kalau akhir bulan masaknya nugget, tempe, tahu, atau mi instan. Lebih sering memasak sendiri supaya lebih hemat,ā ungkap Hesti kepada NU Online, Sabtu (30/5/2026).
Selain mengatur pola makan, ia juga berusaha menahan keinginan untuk membeli barang-barang yang tidak terlalu dibutuhkan. āBenar-benar harus bisa menahan keinginan untuk beli ini dan itu,ā ujarnya.
Menurut Hesti, kehidupan sebagai anak kos mengajarkannya untuk lebih disiplin dalam mengelola keuangan. āSaya pribadi jadi belajar berhemat. Dengan anggaran yang terbatas, kita harus bisa bertahan ketika sudah memasuki akhir bulan,ā katanya.
Senada dengan Hesti, Cahaya, anak kos yang juga bertugas sebagai petugas Pos Bantuan Hukum (Posbakum) di Pengadilan Agama Rembang, mengaku lebih berhati-hati dalam membelanjakan uang ketika dana yang tersisa mulai terbatas.
āLebih tepatnya jadi lebih berhati-hati dalam mengeluarkan uang, terutama untuk hal-hal yang kurang bermanfaat,ā ujarnya.
Menurut Cahaya, kebiasaan memasak sendiri cukup membantu menekan pengeluaran saat tanggal tua.
āBiasanya saya masak sayur sop, tempe goreng, tahu goreng, atau oseng kangkung. Untuk nasi juga masak sendiri. Kadang lauknya beli matang karena kalau masak sendiri justru bisa lebih boros. Saya tinggal sendiri di kos, jadi sayang kalau ada bahan makanan yang terbuang,ā jelasnya.
Meski demikian, ia mengakui ada tantangan tersendiri ketika harus bertahan dengan uang yang terbatas hingga akhir bulan.
āKadang sedikit overthinking karena takut ada pengeluaran yang tidak terduga,ā katanya.
Bagi Cahaya, hidup di kos-kosan menjadi proses belajar untuk mandiri, mengatur keuangan, dan menyusun prioritas kebutuhan.
āSebagai anak kos, kita harus belajar membagi gaji untuk berbagai kebutuhan sehari-hari, seperti token listrik, perawatan diri, jajan, dan kebutuhan lainnya,ā pungkasnya.
Terpopuler
1
Melalui PBNU, YANMU Salurkan 11 Ambulans dan 1.000 Al-Quran untuk PWNU dan PCNU
2
Nasirun, Keluarganya, dan Tarekat
3
Disertasi tentang Orientasi Doktrinal NU Antar Asikin Sumarto Raih Doktor di University of Jordan
4
PBNU Pastikan Pesantren Tambakberas Siap Tampung 3.000 Lebih Peserta Muktamar Ke-35 NUĀ
5
Baznas Ajak Elemen Bangsa Perkuat Persatuan melalui Gerakan Zakat
6
Masuk Bursa Bakal Calon Ketua Umum PBNU, Ini Kiprah dan Profil KH Marsudi Syuhud
Terkini
Lihat Semua