Data Pengungsi Banjir Aceh Tak Sinkron, Klaim Pemulihan Hampir 100 Persen Dipertanyakan
NU Online · Jumat, 27 Maret 2026 | 21:00 WIB
Helmi Abu Bakar
Kontributor
Aceh, NU Online
Pernyataan Presiden RI Prabowo Subianto yang menyebutkan bahwa pemulihan pascabencana di Aceh telah mencapai hampir 100 persen dan tidak ada lagi warga tinggal di tenda, kini memunculkan polemik di lapangan. Sejumlah fakta dan data terbaru justru menunjukkan kondisi yang berbeda.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat masih terdapat 6.187 jiwa pengungsi yang tinggal di tenda di berbagai wilayah Aceh. Data tersebut diperoleh melalui verifikasi langsung di lapangan oleh tim BNPB bersama aparat setempat.
Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, menyebutkan bahwa pihaknya melakukan pendataan langsung ke titik-titik pengungsian, termasuk masjid, gedung pemerintah, hingga tenda darurat.
“Data ini kami peroleh dari penghitungan langsung di lapangan. Kami cek ke titik pengungsian, baik mandiri maupun di tenda,” ujarnya.
Namun, data tersebut tidak sejalan dengan data yang dimiliki pemerintah daerah di sejumlah wilayah terdampak. Perbedaan angka pengungsi bahkan cukup mencolok.
Di Kabupaten Aceh Utara, BNPB mencatat sebanyak 4.385 jiwa pengungsi. Sementara itu, Pelaksana Tugas Kepala BPBD Aceh Utara, Fauzan, menyebutkan jumlah pengungsi di wilayahnya mencapai 18.908 jiwa.
Perbedaan signifikan juga terjadi di Kabupaten Aceh Timur. BNPB mencatat hanya 113 jiwa, namun Bupati Aceh Timur Iskandar Usman Al-Farlaky menyatakan jumlah pengungsi sebenarnya mencapai 2.326 jiwa.
Sementara di Aceh Tamiang, BNPB mencatat 992 jiwa pengungsi, sedangkan Plt Kepala BPBD Aceh Tamiang, Imam Suhery (Bayu), menyebutkan jumlah riil mencapai 1.396 jiwa.
Selain itu, BNPB juga mencatat pengungsi di beberapa daerah lain seperti Bireuen sebanyak 176 jiwa, Aceh Tengah 92 jiwa, Nagan Raya 134 jiwa, dan Gayo Lues 295 jiwa. Namun data rinci dari daerah menunjukkan dinamika yang terus berubah dan belum sepenuhnya sinkron.
Perbedaan data ini memperkuat indikasi bahwa kondisi di lapangan belum sepenuhnya pulih seperti yang disampaikan secara resmi di tingkat nasional.
Sebelumnya, masyarakat dan sejumlah pihak sipil juga telah menyuarakan ketidaksesuaian antara klaim pemulihan dan realitas di lapangan. Masih banyak warga yang bertahan di tenda, belum mendapatkan hunian sementara (huntara), maupun bantuan yang merata.
Situasi ini menunjukkan adanya persoalan serius dalam sinkronisasi data antara pemerintah pusat dan daerah. Ketidaksesuaian ini tidak hanya berdampak pada kebijakan, tetapi juga berpotensi merugikan masyarakat terdampak.
Wakil Ketua PWNU Aceh Tgk Iskandar Zulkarnaen, mengingatkan agar perbedaan data tidak mengorbankan hak masyarakat.
“Perbedaan data ini jangan sampai mengabaikan masyarakat. Yang terpenting adalah memastikan bantuan benar-benar sampai kepada yang membutuhkan,” ujarnya.
Menurutnya, data yang tidak akurat dapat berdampak pada lambatnya penanganan dan distribusi bantuan. Ia menekankan pentingnya transparansi dan verifikasi yang menyeluruh.
“Jangan sampai karena data yang tidak sinkron, ada masyarakat yang terlewat dan tidak mendapatkan haknya,” tambahnya.
Ia juga mendorong adanya koordinasi yang lebih intens antara pemerintah pusat dan daerah agar tidak terjadi tumpang tindih informasi.
“Semua pihak harus duduk bersama, menyamakan data, agar penanganan bencana benar-benar tepat sasaran,” tegasnya.
Tgk Iskandar menambahkan ketidaksinkronan data ini menjadi indikator bahwa proses pemulihan pascabencana belum sepenuhnya tuntas. Diperlukan langkah konkret untuk memastikan bahwa setiap korban benar-benar terdata dan mendapatkan penanganan yang layak.
"Ke depan, akurasi data menjadi kunci utama dalam penanganan bencana. Tanpa data yang valid, kebijakan yang diambil berpotensi tidak tepat sasaran, " ujarnya
Di tengah perbedaan klaim dan realitas, harapan masyarakat tetap sederhana: mendapatkan tempat tinggal yang layak dan kehidupan yang kembali normal.Dan hingga kini, bagi ribuan warga di Aceh, harapan itu masih menunggu kepastian.
Pantauan NU Online kondisi di lapangan menunjukkan bahwa persoalan pengungsi tidak hanya terkait jumlah, tetapi juga kualitas hidup. Banyak warga masih menghadapi keterbatasan fasilitas dasar, seperti listrik, air bersih, dan akses ekonomi.
Sejumlah wilayah terdampak bahkan masih berada dalam kondisi darurat, dengan hunian sementara yang belum rampung atau belum tersedia sama sekali.
Momentum Idulfitri yang seharusnya menjadi masa kebahagiaan, bagi sebagian warga justru diwarnai dengan ketidakpastian. Mereka masih menunggu kepastian hunian, bantuan, serta pemulihan ekonomi.
Terpopuler
1
Khutbah Jumat: Keutamaan Silaturahmi dan Saling Memaafkan
2
Khutbah Jumat: Berbagi Tanpa Pamer, Peduli Tanpa Sekat
3
Jalur Banda Aceh-Medan Macet Panjang, Ansor Imbau Pemudik Utamakan Keselamatan
4
Prabowo Klaim Pemulihan Aceh Hampir 100 Persen, NU Aceh Tamiang: 70 Persen Warga Masih Mengungsi
5
DPR Ingatkan Mutu Pendidikan di Tengah Wacana PJJ untuk Efisiensi Energi
6
Iran Pasca-Larijani: Menuju Perang tanpa Akhir?
Terkini
Lihat Semua