Yogyakarta, NU Online
Kalangan seniman rakyat di gunung-gunung Magelang, Jawa Tengah, mengakui, pengasuh pondok pesantren Asrama Perguruan Islam (API) Tegalrejo KH Muhammad Yusuf Chudroli (Gus Yusuf) memiliki kedekatan khusus dengan mereka.
Hampir setiap pentas seni dan tradisi ritual budaya masyarakat lima gunung di Kabupaten Magelang, kyai muda berpengaruh di eks-Keresidenan Kedu kelahiran tahun 1973 itu berada di tengah masyarakat seniman desa setempat, sekadar menengok kiprah mereka maupun didaulat untuk menyampaikan tausyiah budaya.
Setiap petuah budayanya dipastikan menjadi daya pikat bagi masyarakat gunung dan desa-desa Magelang serta menjadi pewarna khas ajang budaya yang sedang mereka gelar.
"Saya ’enjoy’ di Magelang. Di sini saya senang ’ngancani’ (menemani) teman-teman berkesenian, dengan teman-teman seniman gunung, petani, dan jemaah pengajian," kata bungsu dari 11 bersaudara keturunan KH Chudlori (almarhum) yang pendiri Ponpes Salafiyah API Tegalrejo itu.
Kesenangan suami Vina Rohmatul Ummah berkesenian itu juga ditunjukkan dalam tradisi khataman beberapa tahun terakhir di ponpesnya yang selalu disemarakkan dengan kirab budaya gunung-gunung mengelilingi kompleks ponpes yang berada di Jalan Raya Magelang-Kopeng, Salatiga itu.
Saking melekatnya hubungan kultural dengan masyarakat gunung Magelang, bapak tiga anak yang juga Ketua DPC Partai Kebangkitan Bangsa Kabupaten Magelang itu masih enggan berpikir tentang posisi Ketua DPW PKB Jateng yang ditinggalkan Abdul Kadir Karding yang kini ditarik ke DPP PKB di Jakarta. (ant/kut)
Terpopuler
1
Khutbah Jumat: Spirit Muharram untuk Menghadapi Era Modern
2
Usulan LF PBNU Atasi Perbedaan Awal Bulan Hijriah di Tengah Kesepakatan Imkanur Rukyah
3
Kepada Pengurus NU, KH Nurul Huda Djazuli: Tetap Ikhlas demi Menghidupkan NU
4
Seruan 13 Kiai Sepuh tentang AHWA Jelang Pembukaan Munas dan Konbes NU 2026
5
Khutbah Jumat Bahasa Jawa: Nguri-uri Kamulyaning Wulan Muharram
6
Khutbah Jumat: Pesan Rasulullah, Jangan Mencari-cari Kesalahan Orang Lain
Terkini
Lihat Semua