Bangkalan, NU Online
Sejumlah pelajar di Bangkalan di Pulau Madura Jawa Timur memaknai tahun baru 2026 sebagai waktu yang tepat untuk menata kembali mimpi serta menumbuhkan motivasi baru dalam belajar. Mereka pun menaruh harapan dan menargetkan pencapaian tertentu di tahun 2026 ini.
Di Kecamatan Tanjungbumi, Bangkalan, Alisha Niquita Azzahra, siswi kelas II SDN Macajah 1 Tanjungbumi, Bangkalan, berharap di tahun baru dirinya bisa meraih banyak prestasi dan membanggakan kedua orang tuanya.
“Aku ingin mendapatkan ranking satu terus dan juga ingin ikut lomba-lomba agar bisa menjadi juara satu. Semoga di tahun baru ini bisa tercapai,” ujarnya, Rabu (31/12/2025) dikutip dari laman NU Online Jatim
Baca Juga
Memaknai Tahun Baru sebagai Momen Zakat
Sementara itu, Mohammad Royhan Wildana, siswa kelas VII SMPN 1 Tanjungbumi, Bangkalan, berharap di tahun baru 2026 ini dirinya bisa menjadi pribadi yang lebih baik dan lebih rajin belajar. Ia juga ingin mulai mengembangkan bakat yang dimilikinya.
“Semoga di tahun baru ini saya bisa lebih semangat belajar, nilainya tambah bagus, dan bisa menyalurkan bakat yang saya punya,” ungkapnya.
Ada pula Arikha Bilqis Nuarah, siswi kelas X SMAN 1 Tanjungbumi, Bangkalan yang menjadikan tahun baru sebagai motivasi untuk terus mengembangkan kemampuan diri dan meraih prestasi.
“Saya ingin lebih aktif ikut kegiatan dan lomba, mengumpulkan portofolio serta sertifikat prestasi. Harapannya nanti bisa jadi bekal buat masuk perguruan tinggi lewat jalur beasiswa,” tuturnya.
Pada pergantian tahun 2025 menuju 2026, pemerintah melakukan pembatasan dan larangan menghidupkan kembang api. Pengurus RMI NU Jawa Timur, Abdul Wasik dalam opininya Memaknai Tahun Baru sebagai Refleksi dan Solidaritas mengungkapkan bahwa bagi pesantren, pergantian tahun bukanlah ruang euforia, melainkan momentum refleksi dan penguatan empati sosial. Cara pandang ini relevan dengan situasi Indonesia menjelang Tahun Baru 2026, ketika bangsa masih berduka akibat bencana di Aceh dan Sumatra.
Pembatasan perayaan dan larangan pesta kembang api, sebut Wasik, menunjukkan bahwa Tahun Baru tidak harus dirayakan dengan kemewahan, melainkan dengan kepedulian terhadap sesama, nilai yang telah lama hidup di lingkungan pesantren.
Pesantren memaknai pergantian waktu sebagai kesempatan untuk muhasabah, mengevaluasi diri, dan memperbaiki arah hidup. Dalam tradisi ini, kebebasan tanpa kendali tidak dipandang sebagai kemajuan, tetapi justru sebagai awal kerentanan moral dan sosial. Karena itu, pesantren memilih menghadirkan doa, dzikir, istighostah, dan shalawat sebagai respons atas perubahan waktu, bukan pesta dan hura-hura.
Sikap arif juga diajarkan dalam menyikapi Tahun Baru Masehi. Meski bukan tradisi keagamaan Islam, pesantren tetap menghormatinya tanpa harus larut dalam perayaan yang berpotensi mudarat. Jalan tengah inilah yang ditawarkan pesantren: menghargai tradisi sosial sambil menjaga nilai spiritual dan kemanusiaan. Dari pesantren, masyarakat belajar bahwa harapan tidak harus dinyalakan dengan kembang api, tetapi dengan empati, solidaritas, dan komitmen bersama untuk membangun kehidupan yang lebih beradab.
Terpopuler
1
PBNU Tegaskan Aliansi yang Mengatasnamakan Angkatan Muda NU Bukan Bagian dari Organisasi NU
2
Ketum PBNU Respons Penetapan Eks Menag Yaqut Cholil Qoumas sebagai Tersangka Korupsi Kuota Haji
3
Khutbah Jumat: Rajab, Bulan Islah dan Perdamaian
4
Khutbah Jumat: Rezeki yang Halal Menjadi Penyebab Hidup Tenang
5
PWNU Aceh Dukung Pendataan Rumah Terdampak Banjir, Warga Diminta Melapor hingga 15 Januari
6
Khutbah Jumat: Media Sosial dan Ujian Kejujuran
Terkini
Lihat Semua