Di Dayah Darul Aman, Suluk Ramadhan Jadi Ruang Pemulihan Batin
NU Online · Rabu, 25 Februari 2026 | 16:00 WIB
Helmi Abu Bakar
Kontributor
Aceh Besar, NU Online
Suasana Pesantren Darul Aman di Desa Lampuuk, Kecamatan Darussalam, Aceh Besar, berubah hening usai salat Zuhur. Percakapan santri mereda, pintu-pintu ruangan tertutup, dan keheningan menyelimuti balai sederhana tempat sekitar 60 jamaah duduk bersila menjalani zikir khafi, zikir dalam diam yang menjadi ciri Tarekat Naqsyabandiyah.
Mayoritas jamaah merupakan lansia dari berbagai daerah di Aceh. Mereka mengikuti tawajjuh, salah satu tahapan penting dalam suluk, yakni perjalanan spiritual untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Warisan Sanad Tarekat
Tradisi suluk di Dayah Darul Aman merupakan kelanjutan mata rantai pengajaran tarekat di Aceh. Praktik ini bermula dari Abu Zakaria, menantu Almarhum Mursyid Abu Lueng Ie, yang sebelumnya membimbing suluk di Dayah Darul Ulum Abu Lueng Ie. Setelah Abu Zakaria wafat, kesinambungan tarekat dilanjutkan oleh Abon Tajjuddin, putra Abu Lueng Ie.
Melalui sanad tersebut, ajaran suluk tetap terjaga dalam manhaj Ahlussunnah wal Jamaah yang mengakar kuat di Aceh. Bagi masyarakat setempat, tarekat bukan sekadar ritual, melainkan jalan tazkiyatun nafs (penyucian jiwa) dan pembinaan akhlak.
Ruang Pemulihan Pascabencana
Ketua Yayasan Dayah Darul Aman Tgk H Saifullah menjelaskan, suluk rutin digelar setiap Ramadan. Namun pascatsunami 2004 dan berbagai bencana lain yang melanda Aceh, makna suluk semakin terasa.
“Sejak pasca tsunami, suluk terus kita laksanakan. Banyak jamaah merasakan ketenangan setelah mengikuti rangkaian ibadah ini,” ujarnya.
Menurut Saifullah, suluk menjadi ruang pemulihan batin bagi jamaah yang membawa luka kehilangan dan trauma panjang. Dalam tradisi ini, zikir dan muraqabah menjadi medium menumbuhkan sikap sabar, tawakal, dan ridha atas ketetapan Allah.
Disiplin Spiritual
Suluk dijalani dengan disiplin ketat. Sejak pukul 03.00 WIB, jamaah bangun untuk memperbanyak zikir dan wirid. Aktivitas berlangsung hampir sepanjang hari, berhenti hanya untuk salat wajib, berbuka, dan sahur.
Sebelum mengikuti suluk, jamaah diwajibkan mandi taubat, salat taubat, serta berkomitmen patuh kepada mursyid. Konsumsi peserta pun ditentukan oleh pesantren.
“Konsumsi peserta sudah ditentukan pesantren agar mudah dikontrol dan terjaga kepastiannya,” jelas Saifullah yang juga Sekretaris LTNNU Aceh.
Menurutnya, disiplin tersebut merupakan latihan pengendalian diri untuk menjernihkan hati.
Kesaksian Jamaah
Syahren (76), warga Trienggadeng, telah 11 tahun rutin mengikuti suluk Ramadhan di Darul Aman. “Suluk di sini lebih mudah. Makanan sudah disediakan, jadi kita bisa fokus beribadah,” katanya.
Aminah (67), jamaah asal Sabang, juga merasakan hal serupa. Ia telah lima kali mengikuti suluk. “Rasa fokus ibadah seperti ini sulit dicari sehari-hari,” ujarnya.
Tahun ini jumlah jamaah memang menurun dibanding sebelumnya yang bisa mencapai 80–100 orang. Sebagian jamaah dari luar daerah tidak hadir, diduga terdampak bencana. Namun ada pula korban bencana yang justru datang untuk mencari ketenangan batin.
Saifullah menilai suluk dapat menjadi rutinitas trauma healing berbasis iman. “Supaya lebih ikhlas dan berserah diri kepada Allah,” pungkasnya.
Di ruang sunyi itu, doa-doa dipanjatkan tanpa suara. Tradisi suluk di Dayah Darul Aman menunjukkan bahwa tarekat tetap relevan sebagai terapi spiritual di tengah kehidupan modern yang penuh tekanan. Dalam zikir yang hening, para jamaah menemukan ketenangan, dan dari ketenangan itu, jiwa yang terluka perlahan pulih.
Terpopuler
1
Khutbah Jumat: Ramadhan dan Kesempatan yang Tidak Selalu Terulang
2
Innalillah, Ulama Mazhab Syafii asal Suriah Syekh Hasan Hitou Wafat dalam Usia 83 Tahun
3
Khutbah Jumat: Ramadhan, Melatih Sabar, Memperkuat Syukur
4
Kultum Ramadhan: Lebih Baik Sedikit tapi Istiqamah
5
Khutbah Jumat: Tiga Kebahagiaan Orang Puasa
6
Keluar Mani yang Tidak dan Membatalkan Puasa
Terkini
Lihat Semua