Ketika Tawa Menjadi Terapi, Ikhtiar Relawan NU Pulihkan Luka Pascabencana Aceh
NU Online · Rabu, 7 Januari 2026 | 21:00 WIB
Helmi Abu Bakar
Kontributor
Pidie Jaya, NU Online
Aula Kementerian Agama Kabupaten Pidie Jaya siang itu tak sepenuhnya sunyi sebagaimana lazimnya ruang pelatihan. Di sela kursi-kursi yang tersusun rapi, tawa sesekali meledak, disusul tepuk tangan spontan. Suasana itu terasa kontras dengan duka yang masih menyelimuti banyak wilayah Aceh pascabencana banjir bandang dan longsor.
Namun justru di ruang itulah harapan dirajut perlahan, melalui empati, kebersamaan, dan kehadiran yang tulus.
Di aula tersebut, Lembaga Kemaslahatan Keluarga (LKK) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) bekerja sama dengan Kementerian Agama Republik Indonesia menggelar kegiatan peningkatan kapasitas relawan dalam memberikan dukungan psikososial pascabencana.
Kegiatan berlangsung selama beberapa hari, 4-9 Januari 2026, menyasar wilayah terdampak banjir dan longsor di Kabupaten Pidie Jaya, Bireuen, Aceh Utara, hingga Kota Langsa. Salah satu rangkaiannya dipusatkan di Aula Kemenag Pidie Jaya, Senin (5/1/2026).
Peserta kegiatan datang dari beragam latar belakang: kepala Kantor Urusan Agama (KUA), penyuluh agama Islam, guru PAUD, kader Ansor, hingga relawan Nahdlatul Ulama. Mereka adalah orang-orang yang sehari-hari bersentuhan langsung dengan masyarakat terdampak, menyaksikan duka, kehilangan, sekaligus ketangguhan warga.
Pelatihan ini tidak sekadar ceramah satu arah. Sejak awal, suasana dibuat hidup dan interaktif. Diskusi mengalir, simulasi dilakukan, dan tawa kerap terdengar. Semua itu menegaskan satu pesan penting: pemulihan psikososial tidak selalu dimulai dari kata-kata besar, melainkan dari kehadiran yang manusiawi.
Salah satu narasumber utama adalah Psikolog Keluarga dan Pendidikan LKK PBNU, Hj Nurmey Nurulchaq. Dalam pemaparannya, ia menekankan pentingnya pendekatan psikososial yang hati-hati, tidak tergesa-gesa, serta berpijak pada konteks sosial dan budaya masyarakat setempat.
“Anak-anak pada umumnya tidak mudah mengalami trauma berat selama mereka masih mendapatkan kehadiran dan pendampingan dari orang tua atau figur dewasa di sekitarnya. Masalah biasanya muncul ketika apa yang dirasakan hati tidak sejalan dengan apa yang dipikirkan oleh kepala,” jelas Nurmey.
Ia juga menyoroti kuatnya modal sosial masyarakat Indonesia, termasuk Aceh, yang memiliki tradisi gotong royong dan kebersamaan. Berdasarkan kajian ilmiah, pendekatan dukungan psikososial berbasis komunitas terbukti lebih efektif dalam membantu pemulihan pascabencana.
“Pendekatan psikososial yang kuat banyak ditemukan di Indonesia dan Asia. Budaya saling berbagi dan gotong royong menjadi faktor penting dalam membangun kembali ketahanan mental masyarakat,” ungkapnya.
Dalam pendampingan korban bencana, Nurmey mengingatkan relawan agar bijak memilih kata. Menurutnya, istilah seperti trauma atau seruan sabar yang diucapkan tergesa-gesa justru berpotensi menambah beban psikologis penyintas.
“Lebih baik menggunakan istilah dukungan psikososial yang lebih lembut dan empatik. Kata ‘sabar’ pun sebaiknya tidak mudah diucapkan, karena kita tidak berada di posisi mereka,” tegasnya.
Pelatihan ini dirancang berkelanjutan. Dalam satu bulan ke depan, para fasilitator akan melakukan pendampingan lanjutan di lokasi pengungsian. Sebelum memasuki bulan Ramadhan, ditargetkan terbentuk orang-orang kunci dari kalangan pengungsi yang mampu menjadi fasilitator bagi sesama penyintas, sehingga pemulihan tumbuh dari dalam komunitas itu sendiri.
Di balik dinamika pelatihan, hadir sosok yang membumikan suasana: Sugeng Widodo, anggota Tim LKK PBNU-Kemenag RI yang akrab disapa “Paman”. Dengan gaya jenaka namun sarat makna, ia berulang kali menegaskan bahwa relawan NU tidak cukup hanya memahami materi.
“Relawan NU itu bukan relawan papan tulis. Kita disiapkan untuk turun langsung ke pengungsian, menyapa, mendengar, dan menemani,” ujarnya.
Peserta kemudian dibagi ke dalam tiga kelompok sasaran pendampingan: anak-anak, remaja, dan orang tua. Masing-masing menyusun program pendampingan selama empat minggu ke depan. Diskusi berjalan hidup, terutama pada kelompok anak-anak. Dalam simulasi, canda dan tawa mengalir.
“Anak-anak tidak butuh ceramah panjang. Mereka butuh ditemani bermain dan diyakinkan bahwa dunia masih aman,” ujar Sugeng, disambut tawa peserta.
Kelompok orang tua tak kalah dinamis. Diskusi menyentuh persoalan kecemasan, kehilangan, dan ketidakpastian masa depan. Sementara pada kelompok remaja, Tgk Barral Muharram, kader Ansor, menekankan pentingnya ruang ekspresi dan pendampingan sebaya.
“Remaja sedang mencari jati diri. Kalau tidak kita dampingi, mereka bisa salah arah,” tegasnya.
Kepala Seksi Bimbingan Masyarakat Islam Kemenag Pidie Jaya sekaligus Sekretaris PCNU Pidie Jaya, Tgk Zahari, menyebutkan kegiatan ini diikuti 39 relawan dari berbagai unsur.
“Peserta terdiri dari penyuluh agama, penghulu, Ansor, guru PAUD, dan relawan NU. Mereka inilah yang akan menjadi penguat di tengah masyarakat,” ujarnya.
Menjelang akhir sesi, Sugeng kembali menutup dengan pesan sederhana namun menguatkan. “Kita datang bukan sebagai orang paling tahu, tapi sebagai orang yang mau menemani.”
Hari itu, Aula Kemenag Pidie Jaya menjadi saksi bahwa pemulihan pascabencana tidak selalu dimulai dari bangunan megah atau bantuan besar. Ia bisa berawal dari tawa, obrolan sederhana, dan niat tulus untuk saling menguatkan. Dari aula itu pula, relawan-relawan NU bersiap melangkah ke pengungsian, menyemai harapan, empati, dan keyakinan bahwa luka dapat dipulihkan bersama.
Terpopuler
1
PBNU Tegaskan Aliansi yang Mengatasnamakan Angkatan Muda NU Bukan Bagian dari Organisasi NU
2
Khutbah Jumat: Rajab, Bulan Islah dan Perdamaian
3
Ketum PBNU Respons Penetapan Eks Menag Yaqut Cholil Qoumas sebagai Tersangka Korupsi Kuota Haji
4
Nyai Ainiyah Yusuf, Cahaya di Pesantren Mambaus Sholihin Gresik
5
Khutbah Jumat: Rezeki yang Halal Menjadi Penyebab Hidup Tenang
6
PWNU Aceh Dukung Pendataan Rumah Terdampak Banjir, Warga Diminta Melapor hingga 15 Januari
Terkini
Lihat Semua