Daerah

Massuro’ Baca, Cara Orang Bugis-Makassar Sambut Ramadhan dengan Hikmah

NU Online  ·  Rabu, 18 Februari 2026 | 11:30 WIB

Massuro’ Baca, Cara Orang Bugis-Makassar Sambut Ramadhan dengan Hikmah

Warga Sulawesi Selatan mengadakan ritual doa yang disebut Massuro Baca menjelang Ramadhan (Foto: istimewa)

Maros, NU Online

Menjelang datangnya bulan suci Ramadhan, masyarakat di sejumlah wilayah Sulawesi Selatan masih melestarikan tradisi turun-temurun yang dikenal dengan sebutan Massuro’ Baca. Tradisi ini dimaknai sebagai momentum mendoakan para leluhur sekaligus mempererat hubungan sosial antarwarga sebelum memasuki bulan penuh berkah.

 

Salah satu pelaksanaan Massuro’ Baca berlangsung pada Selasa (10/2/2026). Tradisi ini umumnya digelar pada bulan Sya’ban atau menjelang Ramadhan, dengan menghadiahkan bacaan doa, zikir, serta ayat-ayat suci Al-Qur’an bagi anggota keluarga yang telah wafat.


Di tengah arus modernisasi dan perubahan sosial, Massuro’ Baca tetap dijaga sebagai bagian dari identitas religius dan kultural masyarakat Bugis-Makassar.

 

Secara etimologis, Massuro’ Baca berasal dari bahasa Bugis-Makassar. Kata massuro’ berarti memohon atau meminta, sedangkan baca merujuk pada bacaan doa-doa, zikir, dan ayat-ayat Al-Qur’an. Dalam praktiknya, warga berkumpul di rumah orang tua, tokoh keluarga, atau tempat yang disepakati untuk melaksanakan doa bersama.

 

Dalam buku Islam dan Kebudayaan Bugis-Makassar dijelaskan bahwa tradisi doa bersama seperti Massuro’ Baca merupakan bentuk akulturasi antara ajaran Islam dan budaya lokal yang telah berlangsung sejak masuknya Islam di Sulawesi Selatan. Tradisi ini menjadi media internalisasi nilai-nilai keislaman seperti penghormatan kepada orang tua dan leluhur, solidaritas sosial, serta penguatan ikatan kekeluargaan.

 

Sejumlah kajian jurnal kebudayaan Sulawesi Selatan juga menyebutkan bahwa ritual doa kolektif dalam tradisi Bugis-Makassar tidak hanya berdimensi spiritual, tetapi juga sosial. Melalui kegiatan berkumpul dan makan bersama, masyarakat membangun ruang silaturahmi, memperkuat kohesi sosial, serta mentransmisikan nilai-nilai budaya kepada generasi muda.

 

Di beberapa daerah seperti Kabupaten Maros, Bone, Soppeng, dan Gowa, Massuro’ Baca biasanya dirangkaikan dengan penyajian hidangan tradisional seperti sokko’, ikan bakar, serta aneka kue lokal. Jamuan tersebut menjadi simbol kebersamaan dan rasa syukur sebelum memasuki Ramadhan.


Rahman, warga Kecamatan Bontoa, Kabupaten Maros, mengatakan bahwa keluarganya rutin melaksanakan Massuro’ Baca setiap menjelang Ramadhan.

 

“Kami berkumpul, membaca doa dan Al-Qur’an, lalu makan bersama. Ini juga menjadi momen saling memaafkan sebelum memasuki bulan puasa,” ujarnya.


Menurutnya, tradisi tersebut menjadi sarana memperkenalkan nilai agama dan budaya kepada anak-anak sejak dini, agar mereka memahami pentingnya menghormati leluhur sekaligus menjaga hubungan kekeluargaan.


Tradisi Massuro’ Baca tidak hanya mengandung nilai spiritual, tetapi juga menjadi perekat sosial yang kuat di tengah masyarakat. Melalui doa, kebersamaan, dan penghormatan terhadap leluhur, warga berharap tradisi ini terus dirawat dan diwariskan sebagai bagian dari khazanah Islam Nusantara.

 

Bagi masyarakat Bugis-Makassar, Massuro’ Baca bukan sekadar ritual tahunan, melainkan cara menjaga harmoni hubungan dengan Allah, sesama manusia, dan sejarah keluarga menjelang Ramadhan.


Kontributor: Sahyul Pahmi

Gabung di WhatsApp Channel NU Online untuk info dan inspirasi terbaru!
Gabung Sekarang