Berkunjung ke Langgar Tinggi, Jejak Sejarah Islam yang Berdiri Sejak 1892 di Pekojan
NU Online · Senin, 9 Maret 2026 | 16:30 WIB
Jakarta, NU Online
Program Free Guided Walking Tour di kawasan Kota Tua Jakarta mengajak wisatawan mengunjungi sejumlah situs bersejarah, salah satunya Langgar Tinggi, Pekojan, Tambora, Jakarta Barat, pada Ahad (8/3/2026). Kegiatan ini dipandu oleh pemandu wisata dari Unit Pengelola Kawasan (UPK) Kota Tua di bawah Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.
Salah satu pemandu wisata, Lili, mengatakan bahwa tur tersebut bertujuan mengenalkan sejarah kawasan Kota Tua kepada wisatawan lokal maupun mancanegara melalui kegiatan berjalan kaki ke beberapa titik bersejarah.
Ia menjelaskan, pada bulan Ramadhan wisatawan juga diajak berkunjung ke masjid-masjid bersejarah di kawasan Pekojan, termasuk Langgar Tinggi yang telah berdiri sejak 1829.
Menurut Lili, kunjungan tersebut diharapkan dapat memperkenalkan sejarah dan arsitektur masjid tua kepada rombongan yang dibawanya. Selain itu, wisatawan juga dapat berinteraksi dengan warga sekitar, termasuk mengikuti kegiatan berbuka puasa bersama yang kerap diadakan di Langgar Tinggi.
Lili mengaku senang dapat mengajak wisatawan datang langsung ke kawasan Pekojan untuk melihat peninggalan sejarah Islam yang masih berdiri hingga kini.
“Banyak orang yang belum tahu tentang masjid-masjid tua di kawasan kampung Arab Pekojan, jadi senang bisa mengenalkan sejarahnya kepada mereka,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia mengatakan bahwa melalui kegiatan tur tersebut wisatawan tak hanya berkunjung ke kawasan Kota Tua, tetapi juga mendapatkan pengetahuan tentang sejarah kawasan Pekojan yang dikenal sebagai kampung Arab di Jakarta.
Sejalan dengan itu, salah satu peserta tur, Barik, mengaku senang mengikuti kegiatan tersebut karena dapat mengetahui tentang sejarah dan keunikan kawasan Pekojan, khususnya Langgar Tinggi.
"Kegiatan tur ini seru banget, karena bisa melihat langsung tempat-tempat bersejarah, saya berharap dapat kembali mengikuti tur serupa di kesempatan berikutnya," ujarnya.
Sementara itu, Mansur Amin, penggerak komunitas Langgar Tinggi, mengatakan selama ini aktif mengadakan berbagai kegiatan budaya sebagai upaya pelestarian kawasan, seperti Festival Pekojan yang menampilkan musik, tari, hingga kuliner.
Menurutnya, setelah berbagai kegiatan tersebut, komunitas lebih banyak fokus dalam upaya menjaga dan memperhatikan kondisi bangunan langgar yang merupakan cagar budaya.
Ia berharap pemerintah, khususnya Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui Dinas Kebudayaan, dapat memberikan perhatian lebih terhadap kondisi bangunan Langgar Tinggi yang dinilai mulai mengalami kerusakan.
"Harapan kami, langgar tinggi lebih diperhatikan, karena sekarang kondisinya kalau saya bilang sudah jelek, termasuk cat nya rontok segala macem, jadi butuh perhatian lebih dari pemerintah Provinsi DKI, khususnya Dinas Kebudayaan," pungkasnya.
Profil Langgar Tinggi
Berdasarkan keterangan resmi Pemprov Jakarta, Langgar Tinggi merupakan salah satu masjid tua bersejarah yang terletak di Jalan Pekojan Raya RT 02/01, Kelurahan Pekojan, Kecamatan Tambora, Jakarta Barat.
Luas bangunan Masjid Langgar Tinggi sekitar 200 meter persegi yang berdiri di atas lahan seluas 390 meter.
Jika dilihat dari luar tidak tampak seperti bangunan masjid disebabkan arsitekturnya didominasi bangunan etnis Tionghoa.antara Masjid An-Nawier dan Langgar Tinggi yang berlokasi di Pekojan, dahulu merupakan satu kesatuan. Lahan kedua sarana ibadah ini merupakan wakaf dari Syarifah Baba Kecil.
Pada 1835, bangunan Masjid An Nawier diperbesar oleh saudagar Arab yakni Syekh Sa'id Naum sehingga aktivitas shalat sementara waktu dipindahkan ke Langgar Tinggi.
Masjid ini didirikan pada 1249 Hijriah atau bertepatan pada 1829 Masehi oleh para saudagar asal Yaman dan berada di tepian aliran Kali Angke, Tambora. Masjid ini dahulu dikenal sebagai pusat perniagaan.
Para saudagar asal Yaman datang ke Batavia untuk berdagang sambil melakukan syiar Islam. Hasil berdagang mereka dipakai untuk berdakwah.
Sementara asitektur bangunan Langgar Tinggi merupakan perpaduan dari suku Moor atau Muslim dari India, Arab, dan Tionghoa yang bermukim di kawasan Pekojan.
Salah satu benda di Langgar Tinggi yang hingga saat ini masih terawat keaslian yakni sebuah mimbar yang sudah berusia 185 tahun. Mimbar khotbah dengan ukiran bahasa Arab itu dikirim dalam bentuk jadi yang disumbangkan dari seorang Sultan di Pontianak, saat bangunan Masjid An-Nawier yang juga berada di wilayah Pekojan diperbesar pada 1838, sehingga kegiatan keagamaan dipindahkan sementara waktu ke Langgar Tinggi.
Kontributor: Nisfatul Laila
Terpopuler
1
Khutbah Jumat: Menghapus Sekat Sektarian di Tengah Umat
2
Kultum Ramadhan: Menjadi Manusia yang Bermanfaat bagi Sesama
3
Orang Wajib Zakat Fitrah Tapi Juga Boleh Menerima?
4
Perang Iran dan Israel-AS Berdampak Global, Ketua Umum PBNU Desak Perdamaian
5
Standar Ganda Sekutu dalam Perang Israel-AS vs Iran
6
Larangan Menjadikan Orang Meninggal sebagai Bahan Lelucon
Terkini
Lihat Semua