Jember, NU Online
Posisi pemimpin atau presiden dalam sebuah negara teramat vital. Sebab pemimpin merupakan ikon pemersatu masyarakat sekaligus tanda hidupnya sebuah negara.
Hal tersebut diungkapkan Direktur Aswaja Center Jember, KH Abdul Haris saat menjadi nara sumber dalam acara DIAGRA (dialog agama via udara) di masjid Jamik Al-Baitul Amin, Jember, Jawa Timur, Selasa (21/5).
Menurutnya, pemimpin adalah tempat bertemunya segala kepentingan rakyat, dan dari tangannyalah kepentingan-kepentingan itu dikelola sehingga tidak menimbulkan kekacauan meski banyak yang tidak terakomodasi.
“Sebagai pengatur negara, maka rakyat diwajibkan tunduk pada presiden. Salah satu tujuannya untuk meminimalisasi potensi kekacauan akibat kepentingan rakyat yang berbeda-beda. Kalau tidak patuh kepada presiden, tapi patuh kepada pemimpin lain misalnya, kan jadi kacau negara. Masing-masing rakyat punya pemimpin sendiri yang dipatuhi,” urainya.
Kiai Haris lalu menukil kata-kata bijak para ulama bahwa enam puluh tahun dengan penguasa (pemimpin) dzalim lebih baik dibanding satu malam tanpa pemimpin. Artinya, keberadaan pemimpin sangatlah penting.
“Negara tak boleh vakum dari pemimpin. Sebab jika negara tanpa pemimpin, maka yang terjadi adalah hukum rimba,” pungkasnya. (Aryudi AR).
Terpopuler
1
RAPBN 2027 untuk Program MBG Capai Rp240 Triliun, Setara 29 Persen dari Anggaran Pendidikan
2
Gus Ipul Targetkan DPT Muktamar Ke-35 NU Rampung 17 Agustus 2026, Sebut Progres SK 95 Persen
3
Kompensasi kepada Pemilih dengan Dalih Transportasi atau Ongkos Kerja untuk Memengaruhi Pilihan adalah Haram dan Suap
4
Jusuf Kalla Buka Suara soal Kerusuhan di Aceh: Konflik Internal, Bukan ke Pemerintah Pusat
5
Enam Ruko di Lokasi Pembukaan Muktamar Ke-35 NU Dibongkar, Pedagang Dapat Kompensasi
6
RAPBN 2027 Dana Pendidikan Rp240 Triliun untuk MBG, JPPI: Jangan Pelintir Putusan MK
Terkini
Lihat Semua