PCNU-Ansor Bedah Buku Pesantren Studies
NU Online · Selasa, 28 Mei 2013 | 10:02 WIB
Sumenep, NU Online
Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Sumenep bersama PC GP Ansor setempat menyelenggarakan bedah buku Pesantren Studies di Aula PCNU, Selasa (28/5).Â
<>
Buku tersebut dibedah langsung oleh penulisnya, Ahmad Baso.
Bedah buku tersebut merupakan rangkaian acara dari beberapa kegiatan rajabiyah dan harlah ke-90 NU yang diselenggarakan PCNU Sumenep.
Ketua PCNU Sumenep A. Pandji Taufik mengatakan, sejak beberapa hari lalu telah diselenggarkan beberapa kegiatan lomba, mulai dari tingkat pendidikan anak usia dini hingga tingkat santri.Â
"Puncaknya nanti istighatsah dalam rangka muhasabah," katanya saat memberikan sambutan.Â
Bupati Sumenep Busyro Karim sangat responsif dengan dengan bedah buku Pesantren Studies di ujung timur Pulau Seribu Pesantren. Sumenep memiliki 322 pesantren yang tersebar di daratan dan kepuasan.
"Buku ini sangat penting. Modal memahami eksistensi pesantren. Pesantren fondasi pendidikan dan pendidikan tertua dan ideal," katanya dalam sambutannya yang dibacakan Sekretaris Daerah Kabupaten Hadi Soetarto.
Ketua GP Ansor M. Muhri berharap, kehadiran Ahmad Baso dapat membangkitkan lemahnya semangat literasi dan membaca.Â
"Diharapkan dapat memberikan pencerahan," harapnya.
Ahmad Baso mengatakan, bedah buku yang direncanakan terbit sembilan jilid tersebut di Madura sangat tepat. Pasalnya, banyak sekali ilmu pengetahuan yang diproduksi dari orang Madura.Â
"14 ilmu yang diproduksi dari orang Madura," katanya saat membedah buku yang dihasilkan dari penelitian bertahun-tahun.
Namun, menurut mantan komisioner Komnas HAM itu, saat ini banyak sejarah yang diselewengkan dari budaya Madura. Ia mencontohkan, tradisi transmigrasi yang sering dilakukan orang Madura karena geografisnya gersang.Â
"Karena gersang sehingga tidak ada peradaban," tuturnya.
Untuk menghapus hal itu, mengembalikan senjata orang Madura, yaitu pustaka. Tradisi orang Madura terdahulu adalah membaca. Ia mengaku menemukan buku filsafat di Pamekasan yang terbit ratusan tahun lalu.
"Orang Madura yang malas membaca dan beli buku, orang Madura swasta," ucapnya dengan nada canda.
Redaktur   : Mukafi Niam
Kontributor: M Kamil Akhyari
Terpopuler
1
PWNU dan PCNU Se-DIY Tolak Politik Uang dalam Proses Muktamar NU
2
Kompensasi kepada Pemilih dengan Dalih Transportasi atau Ongkos Kerja untuk Memengaruhi Pilihan adalah Haram dan Suap
3
RAPBN 2027 Dana Pendidikan Rp240 Triliun untuk MBG, JPPI: Jangan Pelintir Putusan MK
4
Jusuf Kalla Buka Suara soal Kerusuhan di Aceh: Konflik Internal, Bukan ke Pemerintah Pusat
5
Data Terbaru Gempa M7,7 NTT: 54 Meninggal Dunia, 199 Luka-Luka, 9 Ribu Warga Mengungsi
6
Jusuf Kalla Imbau Masyarakat Aceh Jaga Kondusivitas usai Kerusuhan dan Pengibaran Bendera GAM Sabtu
Terkini
Lihat Semua